SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Baru era Presiden Jokowi, ada anak presiden dilecehkan di depan publik. Politisi senior PDIP, Panda Nababan, menyebut Gibran Rakabuming, anak ingusan.
Panda Nababan, yang juga wartawan senior ini menyebut Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka, belum pantas jika maju di Pemilu Presiden 2024.
Pernyataan Panda Nababan itu diungkapkan dalam sebuah acara diskusi politik, soal putusan MK tentang batas usia presiden jika di bawah 40 tahun.
Panda menyebut Gibran sebagai anak ingusan dan masih harus banyak belajar di dunia politik. Menurut Panda, Gibran memerlukan waktu yang panjang di dunia politik.
Pernyataan Panda, yang adalah teman Jokowi, mendapat reaksi pro-kontra. Menggunakan akal sehat , saya beranggapan sekiranya Gibran, bukan anak presiden, pasti tidak jadi bahasan di publik.
Coba, cek track recordnya saat periode 2014-2019, ketika bapaknya baru menjabat periode pertama jadi presiden. Apalagi sebelum tahun 2014.
Jejak digital Gibran yang saya lacak, tahun 2007 Gibran baru lulus dari Management Development Institute of Singapore (MDIS). Lalu melanjutkan studinya ke program Insearch di University of Technology Sydney (UTS Insearch), Sydney, Australia hingga lulus pada tahun 2010. Setelah itu, ia menjabat sebagai ketua Asosiasi Perusahaan Jasa Boga Indonesia (APJBI) Kota Solo.
Pada 11 Juni 2015, Gibran menikahi mantan putri Solo yang bernama Selvi Ananda. Pada 10 Maret 2016, Selvi melahirkan seorang anak laki-laki yang dinamai Jan Ethes Srinarendra.
Pada 15 November 2019, Gibran dan Selvi dikaruniai anak perempuan bernama La Lembah Manah.
Pada 9 Juni 2018, Gibran mendirikan sebuah aplikasi pencari pekerja lepas dan paruh waktu yang bernama Kerjaholic, bersama Leonard Hidayat, Josh Ching, Michael, Daniel Hidayat. Aplikasi Kerjaholic, adalah sebuah aplikasi yang bisa menghubungkan para pencari kerja dengan pihak-pihak yang sedang mencari pekerja lepas dan paruh waktu.
Pada 20 Juli 2019, Gibran bersama adiknya Kaesang Pangarep, Chef Arnold Poernomo dan Randy Julius mendirikan restoran bernama Mangkokku. Sebelumnya, pada 17 Agustus 2018 ia membangun Goola bersama Kevin Susanto dan memperoleh pendanaan dari Alpha JWC Ventures senilai Rp 71 miliar.
Tiba-tiba, sebagai pengusaha, dalam Pilkada 2020, Gibran mendaftarkan diri sebagai bakal calon walikota Solo dari PDI-P. Ia ikut Pemilihan Wali Kota Solo periode 2020-2025. Keikutsertaanya dalam Pilkada Solo saat itu mendapat kritik dari publik. Bahkan ada seorang pengamat menuding Gibran, praktikkan politik dinasti dalam keluarga Joko Widodo yang masih menjabat Presiden.
Padahal sebelumnya, Gibran sendiri pernah menolak keberadaan dinasti politik di Indonesia.
Gibran, juga dianggap melanggar peraturan pemilu terkait pencalonan Gibran sebagai kepala daerah.
Ada peraturan dari DPP PDIP yang menyebutkan jika anggota partai yang mencalonkan diri harus dibuktikan dengan KTA dengan syarat menjadi anggota selama 3 (tiga) tahun terakhir berturut-turut. Tapi Gibran, tertolong oleh hak prerogatif Ketua Umum DPP PDIP Megawati, sehingga ia bisa mendaftar pilwali Solo, dengan kendaraan politik PDIP. Proses politik semacam ini Gibran, dianggap dikarbit oleh PDIP.
Ibarat politisi muda, Gibran muncul ke permukaan maju Pilwali Solo tahun 2019-2020 belum matang. Ini lantaran proses pematangannya dibuat instan.
Kemunculannya seperti karbit yaitu dimatangcepatkan. Gibran, saat itu belum teruji dalam satu proses kerja politik.
Defacto dan dejure, tahun 2023 ini, sosok Gibran Rakabuming sudah dipanggil Walikota Surakarta, karena dilantik pada tahun 2021 lalu. Sebelum terjun menjadi politisi, putra sulung Presiden RI Joko Widodo ini dikenal sebagai pengusaha dengan sederet bisnis kuliner.
Bisnis Gibran Rakabuming yang pertama ialah katering makanan bernama Chilli Pari. Usaha kuliner ini berdiri pada tahun 2010 silam.
Usai jadi Walikota, mayoritas bisnisnya diturunkan kepada adiknya yaitu Kaesang Pangarep.
Bisnisnya ini menawarkan jasa one stop wedding solution. Sebelumnya hanya jasa katering.
Gibran ekspansi menyediakan gedung pertemuan, pembuatan undangan, souvenir, dekorasi, dokumentasi.
Chilli Pari, menyediakan makanan katering untuk keperluan pesta pernikahan. Bisnis tersebut beroperasi di Solo.
Gibran juga menyediakan Wedding Organizer. Jadi, pelanggan bisa mendapatkan katering, sekaligus gedung pernikahan, dekorasi, rias pengantin, souvenir, MC, undangan, hiburan, dan lainnya.
Tahun 2015, ia bisnis Markobar. Berbeda dengan sajian martabak lainnya, Markobar merupakan martabak yang memiliki tampilan seperti pizza.
Melansir dari situs perusahaan, kini melalui PT Harapan Bangsa Kita atau GK Hebat, perusahaan akselarator ini menaungi seluruh brand F&B milik Kaesang, mulai dari Sang Pisang, Yang Ayam, hingga Markobar. Sebenarnya, Markobar bukanlah usaha yang dirintis oleh Gibran.
Tahun 1996, ini bisnis milik Arif Setyo Budi. Arif, melanjutkan bisnis martabak ayahnya dan memberikan inovasi baru pada produk martabak tersebut pada 2014. Pada tahun 2015, Gibran bergabung menjadi rekan mitra Arif. Melansir dari Instagram resminya, sampai tahun 2018, Markobar sudah memiliki 11 cabang yang tersebar di beberapa kota. Mulai dari Surakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Makassar dan Jakarta.
Outlet Markobar di Jakarta bisa menjual 200 loyang dan beromset Rp 30 juta dalam semalam. Di Jakarta, Markobar punya cabang di Ampera, Kelapa Gading, Bintaro, Pluit, Kedoya, Sunter, dan Pondok Indah. Satu-satunya yang menjadi Markobar Cafe adalah yang di cabang Bintaro. Letaknya di dalam pusat perbelanjaan Transmart. Sementara yang lain, hanya take away alias dibawa pulang.
Sejak covid-19, bisnis Markobar menurun. Misalnya, di dua outlet Markobar di Jakarta. Satu di Jalan Ampera, Jakarta Selatan. Satu lagi di Cikini, Jakarta Pusat, samping penginapan.
Tampilannya seperti kedai martabak pada umumnya. Sederhana. Outlet Markobar, menggunakan bekas kontainer.
Awal-awal dibuka, antrean pembeli mengular hingga ke jalanan di seberang RS PGI Cikini. Namun kini, jumlah itu menurun. Sehari, outletnya hanya menghabiskan 50 loyang. Omsetnya, tinggal sekitar Rp 5 juta. Omsetnya sebelumnya bisa Rp 8 juta. Usaha putra Ptesiden Jokowi ini, juga terimbas pandemi Covid-19, dan tertutup rapat alias tidak operasional sejak Covid-19.
Juga gerai Markobar di Jalan Teuku Umar maupun di Jalan Dewi Sri, Bali. Kini hanya tinggal kenangan.
Bahkan, gerai yang berlokasi di Legian, Kuta tersebut sudah tidak tampak lagi. Tidak ada tanda-tanda usaha martabak pernah dibuka di sana. Ditelusuri di media sosial Markobar, @markobarbali, postingan terakhir dari akun tersebut yakni tertanggal 3 Agustus 2020.
Sejak tahun 2020, postingan itu, tidak ada postingan lainnya yang terunggah. Padahal, di postingan sebelum-sebelumnya, tampak gerai Markobar ramai dikunjungi.
Tahun 2017, Gibran, bisnis jas hujan garuda. Jas hujan ini juga sempat menarik perhatian saat dikenakan di acara penutupan Asian Games 2018 di Jakarta yang saat itu sempat diguyur hujan.
harga jas hujan yang dijual secara online Rp 150 ribu sampai Rp 220 ribu.
***
Itu catatan jurnalistik saya. Selama periode 2014-2019, Gibran belum pernah berkecimpung di dunia politik. Tahun 2019 saat mendaftar pilwali Solo, Gibran terhambat syarat maju menggunakan kendaraan politik. Tahun 2019, ia belum 3 tahun jadi kader PDIP. Gibran, tertolong hak prerogatif, sehingga ia bisa mendaftar pilwali Solo, dengan kendaraan politik PDIP. Proses ini disebut Gibran, dikarbit.
Saat itu terdapat dua nama bakal calon yang mengemuka yakni Achmad Purnomo serta Gibran Rakabuming Raka.
Awal-awalnya, Ketua Badan Pemenangan Pemilu DPP PDIP, Bambang 'Pacul' Wuryanto, membantah kabar yang menyebut Megawati telah meneken rekomendasi dukungan untuk Gibran di Pilkada Solo 2020.
Bambang menegaskan PDIP belum punya sikap resmi terkait pemilihan wali kota Solo hingga jelang pendaftaran awal tahun 2020. karena pihaknya tak ingin mengurus kontestasi politik saat rakyat kesulitan di tengah pandemi virus corona (Covid-19).
Pilwali ini diwarnai kegaduhan. Meski tak memenuhi syarat internal PDIP, Megawati akhirnya dengan hak prerogatifnya, memutuskan mencalonkan putra sulung Presiden Joko Widodo itu di Pilkada Solo 2020.
Sebelumnya, PDIP usung Purnomo yang punya sepak terjang di dunia politik. Ia pertama kali muncul pada Pilkada Solo 2005 silam saat melawan Jokowi. Ketika itu, Purnomo berpasangan dengan Yuliadi sebagai calon wakil wali kotanya.
Akan tetapi, Purnomo dan Yuliadi kalah dari pasangan Jokowi dan FX Hadi Rudyatmo yang diusung oleh PDIP.
Dan jelang Pilkada Solo 2020, Purnomo telah mendapatkan rekomendasi dari DPC PDIP Solo. FX Hadi Rudyatmo sebagai Ketua DPC PDIP Solo mendorong DPP PDIP mencalonkan Purnomo sebagai Calon Wali Kota Solo di Pilkada Serentak 2020.
Ia menyebut Purnomo telah memenuhi kriteria sebagaimana jargon PDIP 'lima mantap'.
Rudyatmo menyatakan bahwa DPC PDIP Solo terus mengkampanyekan pasangan Purnomo-Teguh yang dicalonkan melalui penjaringan internal partai. Selain memasang spanduk di berbagai tempat, DPC PDIP Solo juga rutin mengadakan kegiatan untuk menggalang dukungan masyarakat untuk Purnomo-Teguh.
Purnomo sendiri mengaku tak heran jika rivalnya, Gibran tercantum di surat rekomendasi dari DPP PDIP.
Calon petahana itu mengatakan Gibran hampir pasti bakal meraih surat sakti dari DPP karena statusnya sebagai putra Jokowi. "Apa itu mengejutkan? Menurut saya tidak. Anak presiden kok. Malah saya sering guyon dengan Pak Rudy, itu sudah bisa diduga kok (isi) rekomendasinya," kata Purnomo saat ditemui di kediamannya, Sabtu (20/6/2020).
Kini setelah dua tahun lebih jabat Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka menjadi yang teratas dalam survei calon Gubernur Jawa Tengah 2024 versi lembaga survei Parameter Politik Indonesia atau PPI. Gibran angkat suara soal survei tersebut. "Oh ya? Oh ya? Yawislah ya (ya sudahlah)," kata Gibran dengan entengnya di Balai Kota Solo, Jumat (23/6/2023).
Gibran mengaku belum menyiapkan langkah ke depan terkait hasil survei Pilgub Jateng 2024. Dirinya tak terlalu memikirkan survei.
"Nggak ada langkah mau ke mana. Kan aku kan ora meh piye-piye (aku tidak mau gimana-gimana). Aku ora nggagas survei, wis kakehan (sudah kebanyakan) survei, kebanyakan angka beda-beda. Aku ora nggagas survei," bebernya.
Menurut saya jawaban semacam ini, konteksnya Gibran itu masih baru di politik yaitu menjabat wali kota belum satu periode. Hal berbeda dengan Jokowi yang sudah dua periode di Solo, naik ke DKI lalu Presiden.
Jadi belajar dari Jokowi, politisi kelas nasional butuh tahapan. Masuk akal Panda Nababan menyebut Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka, belum pantas jika maju di Pilpres 2024. Menurutnya, Gibran masih harus banyak belajar di dunia politik.
"Gibran anak ingusan kok, gimana? Nanti anak itu besar kepala, masih belajar dulu lah," kata Panda di diskusi Adu Perspektif detikcom dan Total Politik, Senin (26/6/2023).
Piye Mas Gibran, opo jik kebelet jadi Gubernur apalagi Capres -cawaptes 2024. Kepenak toh dadi anak Presiden? ([email protected]).
Editor : Redaksi