Mahfud MD Sebut NKRI Berdiri Diantaranya Karena Peran Kiai dan Santri

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Menko Polhukam Prof. Dr. Mahfud MD saat mengisi Keynote Speech dalam Halaqah Ulama Nasional, di Pesantren Sunan Drajat Lamongan.

FOTO:SP/MUHAJIRIN KASRUN
Menko Polhukam Prof. Dr. Mahfud MD saat mengisi Keynote Speech dalam Halaqah Ulama Nasional, di Pesantren Sunan Drajat Lamongan. FOTO:SP/MUHAJIRIN KASRUN

i

SURABAYAPAGI.COM, Lamongan -Berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang bisa dirasakan hingga saat ini, tidak terlepas dari perjuangan dan sumbangsih besar yang dilakukan oleh kiai dan santri. Sumbangsih yang besar itu untuk terus dilakukan dalam upaya bersama-sama mengelola negara dan memajukan Indonesia dengan sebaik-baiknya.

Hal tersebut seperti yang disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Indonesia, Prof. Dr. Mahfud MD saat mengisi Keynote Speech dalam Halaqah Ulama Nasional, di Pesantren Sunan Drajat Lamongan, Rabu (12/7/2023).

Disebutkannya peranan pesantren sangat besar terhadap NKRI, mulai awal berdirinya negara, menyusun ideologi yang menjadi pedoman hidup bersama dalam bernegara, merebut dan mempertahankan Indonesia dari penjajah, serta mengisi kemerdekaan.

Bahkan ulama dari berbagai ormas Islam dan pesantren ikut masuk dalam menentukan masa depan negara, termasuk memberikan warna dalam penyusunan ideologi. Ulama telah melewati perdebatan panjang melalui retorika, dalil-dalil dan istikharah dalam merumuskan Pancasila.

Besarnya peran ulama dan santri ini kata Mahfud dilakukan sebelum Indonesia merdeka hingga sekarang, seperti saat Indonesia dijajah Jepang, pembentukan BPUPKI, hingga waktu Belanda kembali masuk saat Indonesia menyatakan kemerdekaannya.

Belanda sebagai bagian dari kelompok sekutu yang memenangkan perang dunia II, ingin kembali menjajah dan menguasai Indonesia. Pasalnya, sekutu merasa punya tanggung jawab atas wilayah-wilayah jajahan Jepang, termasuk Indonesia.

"Akibatnya, pemerintah Indonesia sempat kewalahan hingga hijrah ke Yogyakarta pada tahun 1946, kira-kira 6 bulan sesudah kemerdekaan. Nah di situ, pondok pesantren punya peran yang sangat besar, salah satunya melalui Masyumi yang dipimpin oleh Kiai Hasyim Asy'ari," bebernya.

Mahfud MD menegaskan, kala itu Kiai Hasyim Asyari juga menginisiasi munculnya keputusan penting, yakni pertama, umat Islam akan membentuk Hizbullah, tenaga-tenaga tentara dari kalangan Islam. Kedua mendirikan Sekolah Tinggi Islam (STI).

Hizbullah itu menjadi cikal bakal tentara di Indonesia. Kemudian STI diresmikan pada tanggal 8 Juli di Gondangdia, Jakarta, dengan membuka 2 fakultas, yakni agama dan sosiologi. Bahkan saat pemerintah hijrah tahun 1946, STI di Jakarta juga ikut pindah ke Yogyakarta.

"STI ini lalu berubah jadi Universitas Islam Indonesia di Yogyakarta. Itu adalah kreasi Kiai Hasyim Asy'ari dan ulama dari kalangan pesantren. Sumbangan dan perannya terhadap bangsa ini sangat besar," paparnya.

Meski begitu, Mahfud menuturkan, pasca kemerdekaan banyak pejuang dari kalangan pesantren yang terpinggirkan. Hal itu lantaran imbas dari politik pendidikan yang diwariskan oleh Pemerintah Hindia Belanda yang cenderung diskriminatif.

"Pejuang, anak-anak muda, dan tokoh Islam banyak yang tidak tertampung dalam tugas-tugas di pemerintahan negara baru. Kemudian banyak kalangan Islam yang memutuskan untuk kembali ke pesantren dan fokus dalam mendidik santrinya. Tapi ada juga yang marah karena tidak tertampung," jelasnya.

Terpinggirnya dan tidak dilibatkannya kalangan Islam dalam negara baru Indonesia ini berimbas pada sulitnya kaum pesantren untuk menjadi bagian dari pemerintahan. Apalagi, kalangan pesantren tak memiliki ijazah formal.

"Di zaman penjajahan orang Islam itu diisolasi, tidak boleh sekolah, sekolahnya paling ya SD. Sehingga kalangan Islam yang marah seperti Kartosuwiryo itu akhirnya mendirikan Darul Islam," tuturnya.

Lebih lanjut, perjuangan kalangan Islam, khususnya pesantren tak berhenti di situ saja. Meski sempat terpinggirkan, namun selang beberapa tahun kemudian pesantren dengan lembaga pendidikan yang didirikan oleh para kiai mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Adaptasi itu dimulai pada sekitar 1960-an. Kemudian pada sekitar tahun 1980-an bermunculan magister dan profesor dari kalangan santri. Mahfud menyebut, terjadi mobilitas gerakan vertikal yang dilakukan kalangan Islam ke pemerintahan Indonesia.

"Dengan adaptasi itu, banyak profesor yang berasal dari kaum santri. Sekarang bahkan ada 27 Universitas Islam Negeri (UIN) yang berhasil didirikan. Santri mengisi berbagai macam sektor. Santri bisa jadi polisi, tentara, politisi dan bisa jadi apa saja," tandasnya.

"Jika dulu sekolah agama dianggap sebelah mata, tapi sekarang sekolah dan universitas Islam mampu bersaing dan sejajar dengan universitas hebat lainnya. Kita juga punya UU pesantren. Para santri dengan segala kontroversinya pun berhasil memasukkan pendidikan agama dalam konstitusi kita," tambahnya.

Di hadapan 500 ulama dalam halaqah, Mahfud mengajak agar bersama-sama mengelola negara dan memajukan Indonesia dengan sebaik-baiknya. Sebab, berkat peran dan partisipasi ulama dalam bernegara, kini Indonesia telah mengalami peningkatan moralitas yang signifikan.

"Sistem pengajaran nasional kita memberikan tempat bagi pendidikan Islam. Dalam Undang-Undang, pendidikan diselenggarakan berdasarkan iman, taqwa dan akhlak. Ini hasil perdebatan dan perjuangan para santri. Mari kita teruskan perjuangan itu," pungkasnya.jir

Tag :

Berita Terbaru

Akibat Insiden Viral! Benturan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek, 2 KJJ Dibatalkan

Akibat Insiden Viral! Benturan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek, 2 KJJ Dibatalkan

Selasa, 28 Apr 2026 13:09 WIB

Selasa, 28 Apr 2026 13:09 WIB

SURABAYAPAGI.com, Madiun - KAI Daop 7 Sampaikan Duka Mendalam atas Insiden di Stasiun Bekasi Timur Wilayah Daop 1 Jakarta, juga berdampak pada perjalanan…

Sambut Hardiknas, Dikbud Sidoarjo Gelar Cek Kesehatan Gratis dan Donor Darah

Sambut Hardiknas, Dikbud Sidoarjo Gelar Cek Kesehatan Gratis dan Donor Darah

Selasa, 28 Apr 2026 13:05 WIB

Selasa, 28 Apr 2026 13:05 WIB

SURABAYAPAGI.com, Sidoarjo - Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo…

Imbas Aksi Demo Ojol di Surabaya, Aktivitas Lalin Padat dan Kendaraan Dialihkan dari Raya Darmo

Imbas Aksi Demo Ojol di Surabaya, Aktivitas Lalin Padat dan Kendaraan Dialihkan dari Raya Darmo

Selasa, 28 Apr 2026 13:01 WIB

Selasa, 28 Apr 2026 13:01 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Menindaklanjuti fenomena akibat pergerakan massa aksi demo ojol di Surabaya, saat ini laju lalu lintas di kawasan Jalan Raya…

Viral di Medsos! Jembatan Darurat di Bondowoso Terlihat Usang, Padahal Baru Diluncurkan

Viral di Medsos! Jembatan Darurat di Bondowoso Terlihat Usang, Padahal Baru Diluncurkan

Selasa, 28 Apr 2026 12:51 WIB

Selasa, 28 Apr 2026 12:51 WIB

SURABAYAPAGI.com, Bondowoso - Baru-baru ini media sosial tengah dihebohkan terkait progres pembangunan jembatan darurat di perbatasan Desa Sukowiryo, Kecamatan…

Diterjang Banjir Sejak 2025, Dua Jembatan di Ponorogo Putus - Warga Terisolasi

Diterjang Banjir Sejak 2025, Dua Jembatan di Ponorogo Putus - Warga Terisolasi

Selasa, 28 Apr 2026 12:42 WIB

Selasa, 28 Apr 2026 12:42 WIB

SURABAYAPAGI.com, Ponorogo - Akibat diterjang banjir sepanjang Tahun 2025, kini dua jembatan di Desa Grogol, Kecamatan Sawoo, Ponorogo dikabarkan putus hingga…

Pembangunan 79 Fasilitas KDMP di Kabupaten MalangSudah Selesai 100 Persen

Pembangunan 79 Fasilitas KDMP di Kabupaten MalangSudah Selesai 100 Persen

Selasa, 28 Apr 2026 12:35 WIB

Selasa, 28 Apr 2026 12:35 WIB

SURABAYAPAGI.com, Malang - Menindaklanjuti kebijakan Presiden Prabowo Subianto terkait lapangan kerja, kini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang turut…