SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Warga di Distrik Kozhikode, Negara Bagian Kerala, India baru saja dilanda kasus infeksi virus Nipah sejak pekan lalu. Sudah sebanyak enam kasus telah ditemukan dan dari kasus tersebut, dua diantaranya berakhir dengan kematian.
Sementara keempat orang lainnya, meskipun tertular virus Nipah yang memiliki tingkat kematian tinggi, masih berjuang melawan penyakit ini. Imbas kasus tersebut, kini India membatasi pertemuan publik. Beberapa sekolah juga ditutup di Kerala, negara bagian di Selatan India.
Akankah Virus Nipah Menjadi pandemi?
WHO telah mengatakan ada tiga penyakit yang kemungkinan akan menjadi pandemi berikutnya- influenza, zoonosis atau penyakit yang ditularkan hewan ke manusia (termasuk virus Nipah), dan yang disebut dengan Disease X atau patogen yang belum diketahui.
Bagaimanapun menurut Prof. Tjandra, terlalu cepat untuk mengatakan suatu penyakit akan menjadi pandemi berikutnya hanya karena terjadi di satu tempat.
Dia menjelaskan tahapan-tahapan sebelum penyakit dinyatakan sebagai pandemi oleh WHO. Wabah penyakit menular yang berpotensi mengkhawatirkan biasanya masuk dalam Disease Outbreak News (DONS) WHO.
Jika situasinya semakin berat, statusnya akan berkembang menjadi public health emergency of international concern (darurat kesehatan masyarakat yang perlu diperhatikan secara internasional). Jika jadi lebih berat lagi, baru ia akan dinyatakan sebagai pandemi.
Tetapi tidak semua penyakit yang mendapat status public health emergency of international concern berakhir jadi pandemi, jelas Prof. Tjandra. Contohnya virus Zika yang disebarkan oleh nyamuk dan bukti-buktinya pernah ditemukan di Indonesia.
“Sekali lagi, [kasus Nipah] yang di India saat ini belum masuk DONS,” dia menekankan, Rabu (20/09/2023).
Apa Itu Virus Nipah dan Gejalanya?
Sebagai informasi, virus Nipah sendiri, sebelumnya tak terdengar namanya, adalah virus zoonosis yang dapat menginfeksi manusia, kelelawar, dan babi.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, virus Nipah tersebut berasal dari kelelawar ataupun babi yang dapat menyebabkan demam dengan tingkat kematian berkisar 40-75 persen. Sedangkan sejauh ini, belum ditemukan vaksin untuk mengatasi virus Nipah.
WHO juga menjelaskan, selain bisa ditularkan dari hewan seperti kelelawar atau babi, virus Nipah juga menyebar dari orang ke orang. Masa inkubasi dari infeksi hingga timbulnya gejala berkisar 4-14 hari, tapi ada juga dilaporkan mencapai 45 hari.
Gejala infeksi virus Nipah mirip dengan gejala influenza, seperti demam, sakit kepala, sakit tenggorokan, dan kelelahan. Namun, infeksi virus Nipah dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti encephalitis (peradangan otak), yang dapat menyebabkan kematian.
Perlukah Indonesia Waspada Penularan Virus Nipah?
Virus Nipah dapat menyebar dari kelelawar buah ke manusia melalui kontak langsung dengan air liur, urine, atau kotoran kelelawar. Virus ini juga dapat menyebar dari manusia ke manusia melalui kontak dengan cairan tubuh pasien yang terinfeksi.
Sementara, Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki iklim dan kondisi yang cocok untuk penyebaran virus Nipah. Selain itu, Indonesia juga memiliki banyak populasi kelelawar buah, yang merupakan reservoir alami virus Nipah.
Namun, sejauh ini belum ditemukan kasus infeksi virus Nipah pada manusia maupun hewan ternak di Indonesia. Oleh karena itu, tidak menutup kemungkinan virus Nipah dapat menyebar ke Indonesia. Namun, hingga saat ini belum ada laporan kasus virus Nipah di Indonesia.
Menanggapi kasus tersebut, juru bicara Kementerian Kesehatan melakukan langkah antisipasi mencakup pemantauan di pintu masuk negara serta di dalam negeri apakah ada kasus sakit atau kematian dalam jumlah banyak dan secara tiba-tiba.
Diketahui, virus ini pertama kali ditemukan di Malaysia pada tahun 1999 dan telah menyebabkan wabah di beberapa negara Asia, diantaranya menyebar ke Singapura. Tercatat, ada 11 kasus dan 1 orang meninggal dunia. Sedangkan di Bangladesh sudah lebih dari 100 orang tewas sejak 2001. Adapun NiV terdeteksi pula di India sejak 2018. sb-01/dsy
Editor : Desy Ayu