SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - China resmi memberhentikan penjualan galium dan germanium. Ekspor dua mineral yang menjadi bahan baku chip semikonduktor ini turun menjadi nol pada Agustus 2023.
Kegiatan ekspor bahan baku ini perlu mendapatkan izin khusus untuk ekspor. Adapun proses permohonan izin bisa memakan waktu sekitar 45 hari kerja.
“Proses permohonan izin memakan waktu sekitar 45 hari kerja. Kami tidak ekspor apa pun ke luar negeri pada bulan lalu karena kami masih menunggu izin," kata seorang produsen germanium China yang menolak disebutkan namanya, dikutip dari Reuters, Jumat (22/9/2023).
Melansir dari data bea cukai China terbaru, per Agustus 2023 tidak ada unsur apapun yang dijual ke pasar internasional berkaitan dengan dua produk tersebut.
Pembatasan ekspor ini untuk membalas kontrol ekspor Amerika Serikat (AS). Meskipun, terdapat kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi China seiring semakin memanasnya perang teknologi.
Apalagi negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia itu sedang bergulat dengan lemahnya permintaan domestik dan krisis perumahan. Bulan lalu, ekspor negara tersebut mengalami penurunan terbesar dalam tiga tahun terakhir sehingga memberikan pukulan baru terhadap pemulihan negara tersebut.
Para analis mengatakan pembatasan ekspor galium dan germanium merupakan pedang bermata dua yang dapat merugikan perekonomian China dan mempercepat perpindahan rantai pasokan ke luar negeri.
Sebagai informasi, China memproduksi sekitar 80% galium dan 60% germanium dunia. Dampak anjloknya ekspor sudah terasa di dalam negeri di mana harga galium anjlok karena pengendalian ekspor menyebabkan persediaan menumpuk. jk-3/Acl
Editor : Redaksi