SurabayaPagi, Surabaya - Dalam rangka menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan dan Idul Fitri Tahun 2024, Pemprov Jatim bersama Disperindag Jatim menggelar Pasar Murah.
Pada gelaran pasar murah ini, terdapat beberapa komoditas bahan pokok yang dijual seperti beras, minyak, dan beberapa produk unggulan dari UMKM.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Iwan dalam sambutannya menjelaskan bahwa kegiatan ini digelar dalam rangka membantu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan bahan pokoknya.
"Pasar Murah ini juga digelar dalam rangka stabilisasi harga untuk menjaga tingkat inflasi di Jawa Timur, dan menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan," ujarnya
Iwan menyampaikan bahwa Disperindag akan terus memantau beberapa perkembangan harga bahan pokok di Jawa Timur yang mengalami kenaikan sejak tanggal 10 hingga 24 February.
Selama 14 hari ini, Disperindag membeberkan beberapa komoditas bahan pokok yang mengalami kenaikan harga.
Seperti Cabai Rawit yang mengalami kenaikan harga sebanyak 69 persen yang harganya naik dari 40.000 rupiah naik menjadi 67.000 rupiah. Sedangkan untuk cabai merah besar naik 14 persen.
Tidak hanya itu, telur ayam juga terjadi kenaikan sebanyak 6 persen di ikuti oleh beras premium yang naik sebanyak 5 persen.
Sedangkan untuk daging sapi, mengalami deflasi atau penurunan harga sebesar minus 0,19 persen.
Iwan menyebut, Disperindag akan terus memantau dan melaporkan terkait dengan kenaikan harga di Jawa Timur.
Pada kesempatan ini, Disperindag juga menyediakan beras medium sebanyak 10 ton dengan harga 10.200 rupiah dan tentunya di pasaran di Surabaya harganya lebih tinggi di 10.900.
Minyak goreng merk 'Minyak Kita' juga dijual dengan harga 13.000 rupiah lebih murah 1.000 rupiah dibanding dengan harga di pasaran di Surabaya.
Tak hanya itu, Disperindag juga menjual telur ayam dengan harga 24.000 rupiah perkilonya, lebih murah 3.000 rupiah dibandingkan dengan harga dipasaran yang masih 27.000 rupiah
"Mudah mudahan kami dan seluruh staf yang ada di daerah UPT Perlindungan Konsumen bisa menjaga kondisi harga, alur distribusi, dan tentunya menjaga terkait dengan ketersediaan stok kebutuhan bahan pokok untuk masyarakat Jawa Timur," ujarnya.
Dikesempatan yang sama, PJ Gubernur Jawa Timur, Adhy Karyono menyampaikan pasar murah yang diinisiasi oleh dinas perindustrian perdagangan Provinsi Jawa Timur ini pertumbuhan ekonominya bergerak dengan sangat bagus.
Adhy menjelaskan di bidang perdagangan, Provinsi Jatim memberikan sumbangan yang besar untuk pertumbuhan ekonomi sebesar 31,5 persen.
Adhy mengapresiasi Disperindag yang menggelar pasar murah ini sesuai dengan timing menjelang datangnya Bulan Suci Ramadhan, hal ini dilakukan guna mencegah terjadinya gejolak harga, dan meringankan Beban masyarakat.
"Berikutnya kita bersama tim akan tetap melakukan operasi pasar, untuk melihat fluktuasi harga bahan pokok serta juga memastikan stok kebutuhan," ujarnya.
Adhy mengungkapkan bahwa sepanjang berjalannya kegiatan ini, harga kebutuhan seperti telur, daging ayam ras, daging sapi, dan segala jenis unggas harganya relatif stabil.
"Dan jika adanya kenaikan, itu tidak signifikan dan masih di batas kewajaran, biarkan mekanisme pasar berjalan," ungkapnya.
Untuk daging sapi, Adhy menyebut harga kebutuhan tersebut masih di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET). Masalahnya ada di daya beli masyarakat yang cenderung tidak stabil.
"Oleh karena itu bagaimana program-program pemerintah juga diberikan kepada masyarakat yang tidak mampu salah satunya dari PKH," kata Adhy Karyono.
Dikesempatan yang sama Adhy juga menyikapi harga beras medium dan premium yang mengalami kenaikan sebesar lima persen.
Hal ini dikarenakan kenaikan harga gabah dari petani yang naik hingga 7.300 Rupiah di Jawa Timur, namun dirinya akan tetap melakukan operasi pasar agar pengendalian harga tidak jauh meleset dari HET.
"Maka yang harus dijaga adalah ketersediaan stok dari petani. kita dengan korporasi petani dengan mekanisme resi gudang bisa mempertahankan stok beras," ujar Adhy.
Adhy menambahkan, petani bisa memilih berapa persen yang akan dijual. Supaya ketahanan pangan tetap berada di bawah, bukan di tengah atau diatas.
"Kalo dari bawah masyarakat bisa mengakses cadangan beras yang cukup, maka kita bisa mengendalikan ketersediaan stok beras,"pungkasnya. Byb
Editor : Redaksi