Era PDIP Mega, Jokowi "Menggoyang"

author surabayapagi.com

- Pewarta

Minggu, 26 Mei 2024 20:28 WIB

Era PDIP Mega, Jokowi "Menggoyang"

i

Raditya M Khadaffi

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Megawati Soekarnoputri, akan terpilih lagi menjadi ketua umum PDIP dalam Kongres partai yang akan digelar April 2025. Prediksi ini diungkapkan oleh Ketua DPP PDIP Said Abdullah, di sela-sela Rakernas V PDIP, Jakarta Utara, Sabtu (25/5/2024).

Praktis anak Soekarno ini memimpin partai berlambang banteng moncong putih sejak ora Orde Baru, pada Kongres Nasional 199.

Baca Juga: Korban itu Simboliknya, Esensi Kisah Ibrahim, Ketaatannya

Saat pemerintahan "Orde Baru" Presiden Soeharto, hanya mengakui tiga partai politik. Salah satunya, PDI Perjuangan.

Dihitung secara matematika, sudah 31 tahun tidak turun dari singgasana "istana" partai. Ia nyaris menyamai kekuasaan kediktatoran Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun, terus menerus.

Ibu Puan ini pernah mendapatkan gelar sebagai Profesor kehormatan dari Universitas Pertahanan untuk bidang kepemimpinan strategis.

Juga ketika menjadi presiden perempuan Indonesia satu-satunya, ia dikenal sebagai sosok pemimpin berkarisma, teguh, berani, dan percaya diri.

Banyak yang menilai gaya kepemimpinan Megawati, tidak terlepas dari warisan sifat kepemimpinan karismatik sang ayah, Bung Karno.

Jelang Pemilu 2024, PDIP kepemimpinan Mega pernah "digoyang" Gibran dan Jokowi, ayahnya. Apakah dalam Kongres partai, April 2025, akan ada regenerasi? Sebab usia Megawati, tahun 2024 ini, sudah 77 tahun. Pimpinan parpol Indonesia tertua. Kita tunggu.

 

***

 

"Konco" PDIP adalah Partai Golongan Karya (Golkar), pernah dilanda konflik internal.

Pada era, Aburizal Bakrie menjabat sebagai Ketua Umum Partai Golkar periode 9 Oktober 2009 sampai 31 Desember 2014, terjadi konflik internal dan dualisme. Ada yang

Agung Laksono yang terlibat konflik internal dan dualisme dengan kubu Aburizal Bakrie pada 2014 sampai 17 Mei 2016.

Akhirnya, Setya Novanto dipilih sebagai Ketua Umum Partai Golkar periode 17 Mei 2016 sampai 13 Desember 2017.

Baru, Airlangga Hartarto didapuk Ketua Umum Partai Golkar selama dua periode. Pertama antara 13 Desember 2017 sampai 4 Desember 2019 menggantikan Setya Novanto.

Konflik internal partai juga dialami PPP.

Dikutip dari laman resmi PPP, Ketua Umum PPP pertama adalah Mohammad Syafaat Mintaredja.

Jabatan itu diembannya selama lima tahun mulai dari 5 Januari 1973 sampai 1978.

John Naro adalah Ketua Umum PPP kedua yang menjabat selama dua periode, pada 1978 hingga 1989. John Naro merupakan seorang politisi sejak era Soeharto. Era John Naro, sudah ada konflik fusi.

Konflik kedua, era Suharso Monoarfa menjabat sebagai Ketua Umum PPP 2019 hingga 2022.

Plt Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Muhamad Mardiono mentake over untuk memimpin partai berlambang Kabah ini, menggantikan Suharso Monoarfa sejak September 2022.

Kisruh internal itu menyeret Majelis Pertimbangan memutuskan memberhentikan Suharso Monoarfa dari jabatan Ketua Umum partai berlambang Ka'bah itu.

 

***

Baca Juga: Wakil Ketua KPK, Slip of the Tongue

 

Partai Demokrasi Indonesia (PDI), juga diterpa konflik internal menjelang Kongres III 1986. Alasannya sejak difusikan (digabungkan) oleh pemerintahan Orde Baru pada 10 Januari 1973, perolehan suara PDI dari pemilu ke pemilu mengalami penurunan, yaitu 29 kursi (10,06 persen) di Pemilu 1977 kemudian lima tahun berikutnya di Pemilu 1982 turun menjadi 24 kursi (8,60 persen). Dampaknya terjadi perdebatan tajam di antara para elite PDI yang mengarah pada situasi destruktif serta mengancam eksistensi organisasi, khususnya terkait menguatnya ego sektoral kader dan faksi-faksi di tubuh PDI.

Para tokoh PDI kala itu, khususnya Ketua Umum Soerjadi, Manai Sophiaan, Supeni hingga Sabam Sirait merasa partai berlambang banteng itu membutuhkan keterlibatan keluarga Sukarno sebagai sosok yang bisa menyelamatkan eksistensi PDI. Melalui ajakan dari Taufiq Kiemas, Megawati akhirnya bersedia masuk PDI jelang Pemilu 1987.

Pada Pemilu 2024 ini perolehan suara PDIP mengalami penurunan. Berdasarkan perhitungan KPU, PDI-Perjuangan (PDIP) menang dengan perolehan suara 25.387.279 atau 16,73%.

Tapi suaranya mengalami penurunan cukup tajam yakni 6,16%.

Pada Pemilu 2024 PDI Perjuangan memproleh 110 kursi.

Sementara dalam Pemilu tahun 2019, PDI-P meraih 128 kursi hasil perolehan suara: 27.503.961 (19,33 persen).

Pengamat Politik Universitas Muhamadiyah Jakata, Sri Yunanto, menilai penurunanan suara PDIP karena sikapnya yang bersebrangan dengan pemerintah dan Presiden Jokowi menjelang Pilpres.

Konstituen PDIP, katanya, yang beririsan dengan pendukung Presiden Jokowi menyebabkan adanya pergeseran suara cukup besar dari partai tersebut ke beberapa partai pengusung Capres-Cawapres 02.

 

***

 

Baca Juga: Menteri Bahlil Ancam Menteri, Diledek Mantan Menteri

Berdasarkan catatan jurnalistik saya, partai berlambang banteng itu tak bisa dilepaskan dari keterlibatan keluarga Sukarno.

Presiden pertama ini dipilih sebagai sosok yang bisa menyelamatkan eksistensi PDI tahun 1987. Para tokoh PDI kala itu, ada Ketua Umum Soerjadi, Manai Sophiaan, Supeni hingga Sabam Sirait. Sejak saat itu mereka merasa partai berlambang banteng itu membutuhkan keterlibatan keluarga Sukarno sebagai sosok yang bisa menyelamatkan eksistensi PDI.

Kini, sosok di PDIP, praktis "tinggal" Megawati. Trah Soekarno lainnya sudah usur. Tinggal generasi kedua, Puan Maharani.

Pertanyaannya, setelah Jokowi "melepaskan diri" siapa sosok penerus Megawati?

Satu ajaran sebuah organisasi adalah regenerasi?

Dalam rakernas minggu lalu, suara yang digaungkan elite PDIP, Megawati masih diharapkan.

Sampai Rakernas berakhir Minggu (26/5/2024 pengaruh Megawati masih sangat kuat di PDIP.

Para kader masih akan meminta Megawati untuk terus menjadi ketua umum PDIP seperti yang sudah dijabatnya sejak Era Orde Baru. Hemm.

Apakah "goyangan" Jokowi jelang Pemilu 2024 lalu masih akan berbuntut panjang sampai Pemilu 2029 nanti?

PDIP bisa Benchmarks dari Demokrat. Dalam Pemilu 2024 lalu, saat Partai Demokrat dipimpin AHY, anak SBY, hanya memperoleh 11.283.160 dari 151.796.631 total suara sah.

Jika dikonversi, maka tahun ini, Demokrat hanya mendapat 44 kursi. Artinya, Partai Demokrat kehilangan 10 kursi.

Megawati dan Puan bisa menimba regenerasi Partai Demokrat. Puan tampaknya sekelas dengan AHY, belum bisa jadi sosok perekat kader dan simpatisan PDIP. ([email protected])

Editor : Moch Ilham

BERITA TERBARU