Home / Opini : Jumat Berkah

Puasa Asyura

author surabayapagi.com

- Pewarta

Kamis, 11 Jul 2024 20:50 WIB

Puasa Asyura

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Ada ajaran amalan puasa sunnah di bulan Muharram. Ini dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Terlebih, Muharram menjadi bulan terbaik berpuasa setelah Ramadan.

Rasulullah SAW bersabda, "Sebaik-baik puasa setelah bulan Ramadan adalah puasa bulan Muharram dan sebaik-baik salat setelah salat wajib adalah salat malam." (HR Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Baca Juga: Assalamualaikum

Menukil dari buku Panduan Muslim Sehari-hari susunan Hamdan Rasyid dan Saiful Hadi El-Sutha, turut disebutkan hadits dengan redaksi yang berbeda.

"Salat manakah yang lebih utama setelah salat fardhu?", kemudian Rasulullah menjawab, "Yaitu salat di tengah malam." Lalu ada lagi yang bertanya kepadanya, "Puasa manakah yang lebih utama setelah puasa Ramadan?", dan Rasulullah bersabda, "Puasa pada bulan Allah yang kamu namakan bulan Muharram." (HR Ahmad)

Saking mulianya Muharram, bulan ini bahkan disebut syahrullah, bulannya Allah. Banyak keutamaan yang terkandung di dalamnya sehingga muslim dianjurkan untuk puasa sunnah pada bulan Muharram.

Menukil buku Fikih Puasa oleh Ali Mustafa Siregar, ada puasa Tasua yang dikerjakan pada 9 Muharram. Sementara Asyura pada 10 Muharram. Dalil kedua amalan tersebut bersandar pada hadits Nabi Muhammad SAW, yang bersabda: "Sungguh, jika aku masih hidup sampai tahun depan niscaya aku akan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 (Muharram)." (HR Ahmad)

Pada hadits lainnya, Rasulullah SAW menyebut puasa di bulan Muharram menjadi sebaik-baiknya puasa setelah Ramadan.

Menurut buku Fiqih Kontroversi Jilid 2 susunan H M Anshary, sejarah puasa Asyura dan Tasua bermula ketika Rasulullah SAW berada di Makkah. Saat itu, beliau menunaikan puasa Asyura secara diam-diam.

Dari Aisyah RA, ia berkata: "Di zaman jahiliyah dahulu, orang Quraisy biasa melakukan puasa Asyura. Rasulullah SAW juga melakukan puasa tersebut. Tatkala tiba di Madinah, beliau melakukan puasa tersebut dan memerintahkan yang lain untuk melakukannya. Namun ketika puasa Ramadan diwajibkan, beliau meninggalkan puasa Asyura.  Dan beliau berkata: Barangsiapa yang mau silahkan berpuasa. Barangsiapa yang tidak mau, silakan meninggalkannya." (HR Bukhari dan Muslim)

Melalui hadits tersebut, diketahui Nabi Muhammad SAW saat di Makkah melakukan puasa Asyura dan tidak memerintahkan para sahabat untuk melakukannya. Lalu, saat hijrah ke Madinah beliau melihat orang-orang Yahudi melakukan puasa Asyura dan memuliakan hari tersebut, Nabi SAW pun ikut berpuasa seraya mengimbau para sahabat untuk ikut berpuasa.

Baca Juga: Bulan Muharram, Bulan Mulia

Ini berdasarkan kepada riwayat dari Ibnu Abbas RA. Dikisahkan saat Rasulullah SAW tiba di Madinah, ia mendapati orang-orang Yahudi melakukan puasa Asyura. Kemudian Rasulullah SAW bertanya, "Hari yang kalian berpuasa ini hari apa?"

Orang-orang Yahudi tersebut menjawab, "Ini adalah hari yang sangat mulia. Ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya. Ketika itu pula Firaun dan kaumnya ditenggelamkan. Musa berpuasa pada hari ini dalam rangka bersyukur, maka kami pun mengikuti beliau berpuasa pada hari ini."

Kemudian Rasulullah SAW bersabda, "Kita seharusnya lebih berhak dan lebih utama mengikuti Musa daripada kalian."

Setelah peristiwa tersebut, Rasulullah SAW memerintahkan muslimin untuk berpuasa. (HR Muslim)

Seperti diketahui, puasa Ramadan diwajibkan pada tahun ke-2 Hijriah. Sejak turunnya perintah kewajiban puasa Ramadan itu, Nabi Muhammad SAW tidak lagi melakukan puasa Asyura dan tidak lagi memerintahkan serta tidak pula melarang sahabat melakukannya.

Baca Juga: Pegadaian Kanwil XII Surabaya Bagikan Ribuan Makanan Siap Saji kepada Masyarakat

Rasulullah SAW mengatakan bahwa siapapun yang ingin puasa Asyura silahkan dan yang tidak ingin juga tidak masalah. Ini merujuk pada hadits Aisyah RA. ([email protected])

 

 

Oleh:

Hj Lordna Putri

Editor : Moch Ilham

BERITA TERBARU