SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Setiap Ramadan, kita sering memburu datangnya Lailatul Qadar. Di antara seluruh malam dalam bulan yang mulia itu, ada satu malam yang begitu agung namun sekaligus begitu misterius, yaitu Lailatul Qadr. Malam itu dikenal sebagai malam kemuliaan, tetapi pada saat yang sama juga merupakan malam yang sengaja dirahasiakan oleh Allah Swt.
Dalam Surah al-Qadr ayat kedua, Allah tidak langsung menjelaskan apa itu Lailatul Qadr, melainkan terlebih dahulu menghadirkannya dalam bentuk pertanyaan retoris:
“Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?” (QS. al-Qadr [97]:
Bentuk pertanyaan ini menunjukkan bahwa Lailatul Qadr adalah sesuatu yang luar biasa, melampaui pemahaman manusia biasa. Lailatul Qadr adalah malam yang kemuliaannya sangat besar hingga Al-Qur’an sendiri memperkenalkannya dengan penuh penegasan.
Keistimewaan malam itu kemudian ditegaskan pada ayat :
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. al-Qadr [97]
Seribu bulan setara dengan lebih dari 83 tahun. Lebih panjang dari rata-rata usia manusia. Artinya, ibadah yang dilakukan pada malam tersebut nilainya lebih baik daripada ibadah yang dilakukan selama puluhan tahun. Tidak mengherankan jika kaum Muslim sepanjang sejarah berlomba-lomba menghidupkan malam itu dengan salat, tilawah Al-Qur’an, zikir, dan doa.
Namun yang menarik, Al-Qur’an tidak pernah menyebutkan secara pasti kapan Lailatul Qadr terjadi. Kerahasiaan ini bukan tanpa hikmah. Justru karena tidak diketahui secara pasti, umat Islam didorong untuk bersungguh-sungguh menghidupkan banyak malam di bulan Ramadan, bukan hanya satu malam tertentu.
Rasulullah saw pun memberikan petunjuk yang bersifat umum, bukan tanggal yang pasti. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Aisyah ra disebutkan:
“Dari Aisyah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: Carilah Lailatul Qadr pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.” (HR. al-Bukhari).
Hadis ini memberikan semacam “bocoran”, bahwa Lailatul Qadr kemungkinan besar berada pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan. Tetapi tetap saja tidak disebutkan secara pasti malam keberapa.
Lailatul Qadar sengaja dirahasiakan oleh Allah SWT untuk memotivasi umat Islam agar bersungguh-sungguh meningkatkan ibadah, terutama pada 10 malam terakhir Ramadan, daripada hanya fokus pada satu malam. Kerahasiaan ini melatih konsistensi ibadah, keikhlasan, dan mencegah kelalaian, serupa dengan disembunyikannya waktu ajal atau malam Jumat.
Menurut Imam Ghazali, Lailatul Qadar dapat diprediksi berdasarkan hari pertama puasa Ramadhan, terutama di sepuluh malam terakhir. Rumus ini didasarkan pada kitab I'anatut Thalibin untuk memperkirakan malam penuh kemuliaan tersebut, di mana hari pertama Ramadhan menentukan malam ganjil jatuhnya Lailatul Qadar. ([email protected])
Oleh
Hj. Lordna Putri
Editor : Moch Ilham