SURABAYAPAGI.com, Lumajang - Musim panen ubi madu di lereng Semeru Lumajang, Jawa Timur membuat para petani sumringah. Pasalnya, panen kali ini mencapai 20 ton per hektar bahkan banyak digemari masyarakat mancanegara, dengan rasa manis alami, seperti madu.
Selain itu, ubi madu lereng Gunung Semeru ini memiliki tekstur empuk dan punel sehingga banyak diminati warga.
Salah satunya, Hariyanto warga Desa/Kecamatan Pasrujambe, lahan-lahan petani lain juga mengalami hal yang sama. Ditambah, ubi madu ini bisa dipanen setelah berusia 4 bulan setelah tanam.
"Ubi madu dari lereng Semeru ini istimewanya rasa lebih manis dan rasa karamel atau madunya lebih banyak kalau yang lainnya tidak keluar rasa madunya," ujar petani ubi madu, Hariyanto, Jumat (25/10/2024).
Selain memenuhi pasar dalam negeri seperti Kota Cirebon, Bandung, Surabaya ubi madu dari Pasrujambe lumajang ini menembus pasar mancanegara. Seperti Korea, Malaysia, Singapura dan Jepang.
"Untuk pemasaran selain beberapa kota di Indonesia, ubi madu ini juga sudah ekspor ke negara Korea, Malaysia, Singapura dan Jepang," terangnya.
Semenata untuk 1 kg ubi madu di tingkat petani dijual seharga Rp 3.500. Dari budidaya ubi madu ini petani bisa meraup cuan hingga Rp 70 juta per hektar-nya.
"Harga ubi madu di tingkat petani sebesar Rp 3.500 per kilogram. Untuk per hektar-nya bisa dapat 20 ton dengan pendapatan mencapai Rp 70 juta," pungkasnya.
Sebagai informasi, Ubi madu memiliki kaya akan manfaat bagi tubuh diantaranya kandungan karbohidrat yang tinggi sehingga bisa digunakan sebagai pengganti nasi. Selain itu ubi madu mengandung serat, magnesium, folat mangan serta vitamin.
Untuk menikmati ubi madu, cukup disimpan selama 7 hari usai dipanen. Lalu dibersihkan, selanjutnya di oven selama 2 jam dengan suhu 100 derajat celcius. Ubi madu siap untuk dinikmati selagi masih hangat. Ubi madu semakin nikmat jika dinikmati bersama secangkir kopi. lj-01/dsy
Editor : Desy Ayu