SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - “Aah! Nya’ banjir! Jakarta kebanjiran, di Bogor angin ngamuk… Rumeh ane kebakaran gare-gare kompor mleduk......!” Itu sepenggal lagu "Kompor Meleduk" yang dilantunkan penyanyi Benyamin Sueb dan Ida Royani, tahun 1970an. Kini sudah 35 tahun sejak lagu itu di populerkan oleh orang Betawi, Jakarta masih kebanjiran. Bahkan cenderung parah, air sejak Selasa (28/1/2025) malam, mengepung seluruh kawasan. Kampung hingga jalan raya di pusat kota.
Fenomena apa? Jakarta makin dipadati rumah, sungai sungai di pinggiran kota mendangkal atau Pemerintahan DKI salah straregi menata kota.
Hingga 30 Januari 2025m Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi kota Surabaya berpotensi mengalami cuaca esktrem mulai hingga 30 Januari 2025.
Ady Hermanto Koordinator Prakirawan BMKG Maritim Tanjung Perak Surabaya menyebut, potensi cuaca ekstrem ini dipengaruhi fenomena atmosfer.
Kondisi ini didominasi Angin Monsun Asia, juga aktifnya dinamika atmosfer lain yang meningkatkan potensi hujan disertai petir dan angin kencang di wilayah Jawa Timur, termasuk Surabaya.
“Sebenarnya antara bulan Januari dan Februari masih dalam musim hujan. Puncaknya akan terjadi di bulan Februari mendatang sehingga intensitas hujan dari sedang hingga tinggi masih terus terjadi,” kata Ady, dalam keterangannya, kemarin.
Beberapa hari ke depan Kota Surabaya masih berpotensi hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi terutama sore sampai malam hari.
“Memang tidak terjadi dalam satu hari penuh, karena hujan diperkirakan terjadi mulai sore sampai malam hari,” tandasnya.
Agus Hebi Djuniantoro, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya menyebut, sudah mengantisipasi prakiraan BMKG itu.
Ia menyiagakan petugas BPBD di 11 titik rawan banjir rob. Ini untuk mengantisipasi jika air masuk ke rumah warga.
“Petugas juga akan membantu melalukan penyedotan air ketika banjir rob masuk ke rumah-rumah warga. Tapi selama ini jarang terjadi karena terus kami pantau,” jelasnya lagi.
Sejumlah Wilayah Jakarta Terendam
Hingga Rabu (29/1), sejumlah daerah di wilayah Jakarta terendam banjir akibat hujan lebat Selasa malam.
Sebuah bangunan rumah tinggal dua lantai di Jalan Bunga Rampai, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur, ambruk. Empat orang penghuni rumah berhasil dievakuasi.
Salah satu yang paling parah terdapat di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Total ada 52 RT dan 22 ruas jalan di Jakarta masih kebanjiran sampai Ranu pagi.
"BPBD mencatat hingga pukul 06.00 WIB genangan terjadi di 52 RT dan 22 ruas jalan," kata Kapusdatin BPBD DKI Jakarta Mohammad Yohan, Rabu (29/1/2025).
Lokasi banjir mayoritas berada di wilayah Jakarta Barat. Di daerah tersebut di wilayah itu ada 27 RT yang terendam banjir .
Dilansir dari kantor berita Antara, Rabu siang (29/1/2025), sejumlah ruas jalan di Jakarta masih terdampak banjir. Jalanan macet mengular.
Curah Hujan Lampaui 150 mm/Hari
Penjabat (Pj) Gubernur Jakarta Teguh Setyabudi mengatakan infrastruktur pengendali banjir Jakarta hanya mampu menangani hujan dengan intensitas 150 mm/hari. Ternyata hujan tadi malam melampaui kemampuan itu. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi hal ini.
"Di sebagian besar Pos Hujan BMKG tercatat curah hujan melampaui 150 mm/hari," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati kepada detikcom, Rabu (29/1/2025).
Dia menyampaikan hasil pengukuran curah hujan oleh BMKG. Akumulasi curah hujan dalam 24 jam dari 28 Januari pukul 07.00 WIB kemarin sampai 29 Januari pukul 07.00 WIB tadi pagi. Kebanyakan memang menunjukkan angka curah hujan di atas 150 mm/hari.
Hujan Deras Guyur Jakarta
"Genangan di TL Cempaka Putih. Ketinggian 15 cm sampai 25 cm," kata Kabag Ops Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Dermawan Karosekali saat dihubungi, Rabu (29/1/2025).
Hujan deras mengguyur hampir seluruh wilayah Jakarta malamnya. Bahkan, banjir setinggi 30 cm sempat menggenangi Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, di sekitar Monumen Nasional (Monas).
Tapi, Rabu (29/1/2025) siang pukul 14.00, seberang Monumen Nasional (Monas) Jakarta, genangan banjir yang semula 30 cm, mulai surut dan kawasan Monas ramai oleh wisatawan.
Setidaknya ada 54 RT dan puluhan ruas jalan lainnya yang terendam banjir. Lokasi banjir mayoritas berada di wilayah Jakarta Barat.
Ketinggian 30 sampai dengan 100 cm. Pengungsi nihil. Situasi masih tergenang," kata
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Isnawa Adji, semalam.
Banjir juga terjadi di wilayah Jakarta Utara. Tercatat ada di tiga RT di Kelurahan Semper Barat yang terdampak banjir cukup tinggi. Di lokasi itu juga ada puluhan orang terpaksa mengungsi .
Sementara banjir juga sempat terjadi di satu RT yang berada di Kelurahan Kebon Kosong, Jakarta Pusat. Ketinggian air sempat mencapai 40 cm, namun saat ini sudah surut.
Dipicu Intensitas Hujan Lebat
Banjir disebabkan oleh intensitas hujan lebat sejak Selasa (28/1) sore. "BPBD mencatat saat ini genangann terjadi di 54 RT dan 23 ruas jalan," kata Isnawa dalam keterangannya, Rabu (29/1).
Isnawa mengatakan ketinggian air bervariasi, mulai dari 30 cm hingga 100 cm. Menurutnya, Jakarta Barat menjadi wilayah yang paling banyak terendam banjir dengan catatan 29 RT.
Ia menambahkan BPBD DKI Jakarta sudah mengerahkan personel untuk memonitor kondisi genangan di setiap wilayah dan mengkoordinasikan unsur Dinas SDA, Dinas Bina Marga, Dinas Gulkarmat untuk melakukan penyedotan genangan dan memastikan tali-tali air berfungsi dengan baik bersama dengan para lurah dan camat setempat.
"Genangan ditargetkan untuk surut dalam waktu cepat," tuturnya.
"BPBD DKI mengimbau kepada masyarakat agar tetap berhati-hati dan waspada terhadap potensi genangan," tambah dia.
Hujan deras dan luapan Sungai Cibarengkok mengakibatkan banjir di Desa Situsari, Cileungsi, Kabupaten Bogor. Banjir merendam 330 rumah hingga Jalan Transyogi Cileungsi-Jonggol.
"Banjir dengan ketinggian kuranglebih 30-45 cm, sehingga merendam perumahan dan Jalan Raya Transyogi Jonggol-Cileungsi," kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bogor M Adam Hamdani, Selasa (28/1/2025).
"(Banjir) Dikarenakan hujan deras dengan intensitas yang lama sehingga mengakibatkan debit air Sungai Cibarengkok meluap dan mengakibatkan banjir," imbuhnya.
Adam menyebutkan, ada 330 kepala keluarga atau 934 jiwa yang menghuni 330 rumah di perumahan Desa Situsari terdampak akibat banjir. n sab/jk/erc/rmc
Editor : Moch Ilham