SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Saat menerima kunjungan Perdana Menteri (PM) China, Li Qiang, di Istana Jakarta, Minggu (25/5/2025),Presiden Prabowo Prabowo, menyinggung DNA masyarakat Indonesia. Menurutnya, banyak warga RI dari DNA China.
"Saya kira di Indonesia kalau dicek identik DNA-nya saya kira banyak DNA kita adalah DNA dari Tiongkok," imbuhnya.
Soal DNA dari Tiongkok, Prabowo, awalnya menyinggung perjalanan Laksamana Cheng Ho ke Indonesia. Ini dianggap salah satu bukti hubungan baik kedua negara yang sudah terjalin sejak lama. Hubungan tersebut tercatat di banyak prasasti-prasasti milik Indonesia.
"Pelayaran Laksamana Cheng Ho ke Nusantara sampai sekarang dikenang dan terdapat banyak monumen-monumen terhadap kunjungan tersebut. Bahkan juga hubungan antara rakyat kita sangat erat. Saya kira di bangsa Indonesia kalau dicek genetiknya, saya kira banyak DNA kita adalah DNA dari Tiongkok," tuturnya.
Akal sehat saya berpikir, Pidato Prabowo ini untuk menyenangkan PM. China, Li Qiang.
***
Apa itu DNA? Dikutip dari CNBC Indonesia menjelaskan bahwa tes DNA digunakan untuk mengidentifikasi korban bencana atau jenazah dengan membandingkan pola DNA yang ditemukan di lokasi kejadian dengan data DNA yang tersedia.
Mengutip dari laman sisternet.co.id, 11 Nov 2016, ternyata ada 4 Tipe DNA Pengusaha Sukses.
Ditulis pengusaha itu punya DNA sendiri-sendiri. Tapi bukan DNA a la ilmu biologi.
Joe Abraham, penulis buku Entrepreneurial DNA, menuliskan temuannya tentang DNA pengusaha berdasarkan riset yang melibatkan lebih dari seribu pengusaha.
Dari riset tersebut, Joe mengonfirmasi bahwa masing-masing pengusaha itu berbeda, tapi ada 4 tipe yang dia sebut DNA pengusaha.
Pertama sang Pembangun:
Orang-orang yang mempunyai dorongan kuat untuk membangun bisnis besar dalam tempo sesingkat-singkatnya masuk dalam kategori ini, Sisters.
Dengan DNA pembangun yang kuat, mereka tidak gampang puas dengan penghasilan pribadi atau berbuat baik untuk orang lain. Cara mereka mengukur kesuksesan bisa dibilang unik, yaitu melalui infrastruktur atau bangunan. Intinya mereka yang berDNA pembangun mengukur kesuksesan dengan membangun sesuatu.
Kedua Sang Oportunis.
DNA ini dimiliki oleh individual yang sangat optimis dan merupakan rajanya promosi.
Menurut buku Joe, mereka dengan DNA oportunis sangat menikmati dunia pemasaran dan penjualan.
Mereka cermat melihat kesempatan. Mereka tahu waktu yang tepat untuk menghasilkan uang dan kapan harus mengikuti arus untuk berkembang. Sukses bagi pemilik DNA ini didasarkan pada jumlah uang yang mereka hasilkan ketika mereka tidak bekerja. Mereka juga cenderung impulsif dalam membuat keputusan, berbeda dengan orang berDNA pembangun yang lebih mawas.
Ketiga Sang Spesialis
DNA ini aktif pada orang-orang yang memulai usaha mereka lewat referensi dan berjejaring. DNA ini mendorong mereka menjadi orang yang sangat analitis, enggan berhadapan dengan risiko, dan anti menjual sesuatu. Kesuksesan mereka hanya sampai mendapat penghasilan tambahan saja. Umumnya pengusaha dengan DNA ini tidak mengembangkan usahanya ke tahap lebih lanjut. Yang penting usaha mereka jalan.
Keempat Sang Inovator
Ini menyangkut Mark Zuckerberg kan? DNA ini ada di pendiri raksasa media sosial Facebook itu. Layaknya para inovator, mereka yang memiliki DNA ini melakukan sesuatu yang mereka suka. Lalu, kesempatan berbisnis muncul di sekitar mereka dan mendukung mereka untuk terus melakukannya.
Meski menjadi pengusaha, mereka selalu ingin menemukan dan mendesain hal baru, atau mengutak-utik banyak hal. Makanya mereka lebih senang tidak mengurus bisnisnya langsung.
Kesuksesan bagi orang berDNA innovator diukur dengan dampak yang produk atau jasa mereka bisa berikan ke masyarakat, dari pada sekadar uang.
Dari empat tipe ini, seorang pengusaha bisa jadi memiliki dua DNA sekaligus.
Contohnya, Richard Branson, pendiri Virgin Group yang menaungi 400 lebih perusahaan internasional, memiliki DNA oportunis- pembangun. Juga Bill Gates, miliarder dan dermawan pendiri Microsoft, berDNA spesialis pembangun.
Pilih Bill Gates, Richard Branson atau Mark Zuckerberg.
***
Sedangkan, dilansir dari laman wikipedia.org, susunan genetik orang Asia Timur kontemporer, seperti orang Tionghoa Han, terutama dicirikan oleh keberadaan nenek moyang "Sungai Kuning".
Konon DNA orang keturunan Tionghoa, khususnya keturunan Tionghoa di Indonesia, menunjukkan jejak genetik yang unik yang mencerminkan sejarah migrasi dan percampuran budaya. Secara umum, garis keturunan ini mengandung elemen DNA Asia Timur Utara (seperti Tionghoa Han) dan sedikit kontribusi dari Asia Timur Selatan (ASEA)
Menurut penelitian genetik yang ditulis Tempo.co bahwa tes genetik digunakan untuk mengidentifikasi gen yang terkait dengan penyakit atau kondisi tertentu, seperti kanker atau penyakit jantung.
Ada DNA berisi rekaman leluhur, tetapi bukan salinan karbon dari salah satu dari mereka. Campuran DNA yang warisan bersifat unik. Seseorang menerima 50% DNA dari masing-masing orang tua.
Sejarah migrasi Tionghoa ke Indonesia telah memberikan kontribusi pada beragam genetik orang Tionghoa-Indonesia. Beberapa keluarga Tionghoa telah berinteraksi dengan masyarakat lokal melalui perdagangan dan perkawinan, sehingga DNA mereka mencerminkan percampuran genetik yang lebih luas.
Warga Tionghoa di Indonesia adalah diaspora Tionghoa yang telah lama menetap dan menjadi warga negara Indonesia. Mereka merupakan kelompok etnis terbesar kelima belas di Indonesia. Perkiraan jumlah populasi mereka bervariasi, mulai dari 6 juta hingga 10 juta jiwa, atau sekitar 3-5�ri total populasi Indonesia.
Perkiraan jumlah Tionghoa-Indonesia bervariasi, tetapi beberapa sumber menunjukkan bahwa populasi Tionghoa di Indonesia mencapai 10,7 juta jiwa.
Ada yang menulis, kedatangan orang Tionghoa ke Nusantara dimulai sejak abad ke-9, dengan kedatangan pertama di Palembang yang merupakan pusat perdagangan kerajaan Sriwijaya. Imigrasi besar-besaran terjadi mulai abad ke-16 hingga 19, dengan tujuan utama berdagang.
Pernah terjadi, warga Tionghoa-Indonesia yang menjadi warga negara Indonesia sering diminta untuk mengganti nama dan membuat Surat Bukti Kewarganegaraan Indonesia (SBKRI).
Praktis banyak warga Tionghoa-Indonesia mengalami pergulatan identitas terkait dengan identitas etnis dan kewarganegaraan.
Lalu keturunan Chinese di Indonesia suku apa?
Ada yang mencatat suku Hainan. Suku Hainan tinggal di sebuah kepulauan kecil di Tiongkok selatan, yaitu Pulau Hainan.
Ada juga suku Tiochiu. Suku Tiochiu berkomunikasi dalam bahasa Tiochiu yang merupakan rumpun dari bahasa Sino-Tibet. Lalu suku Hokkian dan Hakka.
Saat ini, ada keturunan Chinese di Indonesia yang jadi artis. Roger Danuarta. Sering disebut mirip dengan aktor Korea, Roger Danuarta mewarisi keturunan Tionghoa dari sang Bunda. Ada Larissa Chou. Selebgram Larissa Chou memiliki keturunan Tionghoa dari sang Ayah.
Ada Chelsea Olivia, Gisella Anastasia, Raline Shah, Junior Liem, Dion Wiyoko dan Boy Wiliam.
Ada juga Deddy Corbuzier, yang berasal dari keluarga keturunan Tionghoa pas-pasan secara ekonomi. Ayahnya, Omar Sundjojo merantau dari Banyuwangi ke Jakarta untuk bekerja sebagai supir angkot. Sedangkan sang ibu, Heniawaty merupakan seorang penjahit rumahan.
***
Ada skripsi berjudul "Etos Kerja Pegawai Etnis Tionghoa di Lima Perusahaan Keuangan
Kota Surabaya". Skripsi ini ditulis, Stephanie Yvonne, Ong Mia Farao Krasono dan Setefanus Suprajitno. Mereka kuliah di Program Studi Sastra Tionghoa, Fakultas Sastra, Universitas Kristen Petra.
Mereka menulis pandangan umum yang mengatakan bahwa masyarakat etnis Tionghoa sejak dahulu mempunyai jiwa sebagai pedagang, namun sekarang kita bisa melihat tidak sedikit masyarakat etnis Tionghoa yang bekerja sebagai pegawai.
Fenomena ini mendorong penulis untuk meneliti tentang bagaimana etos kerja para karyawan etnis Tionghoa di lima perusahaan keuangan kota Surabaya.
Mereka menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Metode penelitian ini digunakan untuk menganalisa tujuan, etos, sikap dan budaya kerja mereka.
Digunakan sepuluh orang informan yang telah sesuai dengan kriteria yang diinginkan. Kategori informan meliputi informan yang bekerja sebagai pegawai staff di bawah manager, etnis Tionghoa, umur berkisar antara 20-35 tahun, lama bekerja di bawah lima tahun, bekerja pada perusahaan yang bergerak di bank dan saham, berlokasi di Surabaya.
Hasil analisisnya menemukan bahwa para informan etnis Tionghoa dalam penelitian ini memiliki budaya suka belajar, watak gigih dan mudah beradaptasi. Mereka juga mempunyai keinginan untuk menjadi bos, oleh karena itu mereka mempunyai budaya suka menabung untuk mengumpulkan modal usaha, ulet, rajin, tekun bekerja selalu menjunjung tinggi reputasi.
Bagaimana teman-teman yang tak punya DNA dari China? ([email protected])
Editor : Moch Ilham