SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Penyelenggaraan job fair oleh Pemprov DKI Jakarta, mulai disorot. Tercatat ada 40 perusahaan membuka lowongan kerja dalam kegiatan Job Fair Jakarta 2025 yang digelar selama dua hari, mulai hari Selasa inu (17/6) hingga Rabu (18/6). Bursa kerja ini berlangsung serentak di dua lokasi, yakni Gedung Judo Kelapa Gading dan GOR Remaja Kecamatan Koja, Jakarta Utara.
Syahrono, anggota Fraksi PAN DPRD DKI Jakarta, mengkritik penyelenggaraan job fair itu. Pihaknya mempertanyakan sejauh mana job fair mampu menjawab tantangan pengangguran di Jakarta. Ia menilai penyelenggaraan job fair sudah tak efektivitas lagi di tengah ledakan pengangguran saat ini.
Hal ini disampaikan anggota Fraksi PAN, Syahroni, dalam Rapat Paripurna Rancangan Peraturan Daerah tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD (P2APBD) Tahun Anggaran 2024, yang digelar di gedung DPRD DKI Jakarta, Senin (16/6/2025). Sahroni menyebutkan job fair belum mampu menciptakan SDM unggul untuk bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Mengingat saat ini, Indonesia tercatat berada di posisi tertinggi kedua di Asia Tenggara karena memiliki tingkat pengangguran sebesar 5%.
Menurut Antara, jumlah pengangguran di Jakarta pada awal 2025 mencapai 338 ribu orang, meningkat dari 327 ribu orang pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Jakarta mencapai 6,18%, naik 0,15% dibandingkan tahun sebelumnya.
BPS DKI Jakarta mencatat adanya peningkatan angkatan kerja di Jakarta, namun peningkatan ini tidak diimbangi dengan ketersediaan lapangan kerja yang memadai.
Banyak Anak Muda Datang
Dihubungi Surabaya Pagi, Selasa (17/6) Jackson Dianrus Sitorus, Kepala Sudin Nakertransgi Pemkot Jakarta Barat, sebagai penyelenggara Jakarta Job Fair mengatakan, total ada 41 perusahaan swasta yang berpartisipasi, ditambah 3 instansi pemerintah, serta 6 pelaku usaha mikro dan UMKM binaan Jakpreneur.
"Secara keseluruhan, tersedia 3.504 lowongan kerja," ujar Jackson saat meninjau job fair di GOR Tanjung Duren.
Ia menanggapi enteng isu mengenai job fair yang dianggap hanyalah kegiatan formalitas.
Para pencari kerja mendatangi Jakarta Job Fair yang diadakan Pemkot Jakarta Barat di GOR Tanjung Duren, Jakarta Barat, dengan antusias.
Ia menyebut, masih cukup banyak anak muda yang tetap datang meski belakangan ini muncul isu di media sosial bahwa kegiatan bursa kerja hanya untuk formalitas belaka. Lowongan tak benar-benar tersedia bagi para pencari kerja.
Seorang netizen yang mengaku orang HRD kemudian berkomentar di sebuah unggahan media sosial mengabarkan pengalamannya mengikuti job fair yang ternyata hanya formalitas belaka.
"Aslinya perusahaan tidak memiliki lowongan dan terpaksa ikut pameran bursa kerja karena khawatir disanksi pemerintah" ungkapnya. Dia juga mengungkapkan, perusahaan biasanya lebih memilih menerima karyawan baru dari rekomendasi karyawan mereka sendiri (ordal).
Beberapa peserta job fair mengakui, dalam beberapa tahun terakhir, job fair telah berkembang menjadi lebih dari sekedar formalitas. Banyak perusahaan yang menggunakan job fair sebagai kesempatan untuk mencari kandidat yang tepat untuk posisi yang tersedia.
Oleh karena itu, job fair masih merupakan salah satu cara yang efektif untuk mencari pekerjaan dan mencari kandidat yang tepat untuk posisi yang tersedia.
HRD Bank, Tak Sekedar Formalitas
Terpisah, Gilang Rizki, staf HRD dari sebuah bank pemerintah yang turut membuka bursa kerja mengatakan, pihaknya benar-benar membuka lowongan di bursa kerja itu. Setelah kegiatan itu, akan ada beberapa pelamar yang dipanggil untuk mengikuti tes selanjutnya.
Saat bank pelat merah itu membuka lapak gelaran bursa kerja di wilayah lain pun, ada pelamar yang dipanggil untuk mengikuti tes selanjutnya.
"Nggak formalitas sih, karena di sini kita emang bener-bener pure mencari kandidat karena setelah acara ini pun kan ada yang dipanggil untuk tahap selanjutnya. Jadi gak hanya sekedar formalitas itu," kata dia saat ditemui di Jakarta Job Fair.
Menurut Gilang, para pelamar yang lolos ke tes selanjutnya akan diumumkan dua pekan ke depan. Meski tak menyebut angkanya secara rinci, lanjut dia, terdapat lowongan posisi magang sebagai teller yang dapat dilamar dengan syarat mempunyai IPK minimal 3. "Kita memang untuk jenjang karier yang magang ini masih panjang. Jadi kalau misalnya yang magang ini bisa berminat, ya dia bisa diangkat jadi kontrak atau bahkan jadi pekerja tetap," tambah dia.
Pandangan HRD Perusahaan Retail
Hal senada dikatakan HRD perusahaan retail, Ferri Ferdiawan. Dia memastikan pihaknya benar-benar membuka lowongan di kegiatan Jakarta Job Fair. Setelah pelaksanaan kegiatan pun, pihaknya akan diminta laporan oleh Dinas Tenaga Kerja Jakarta mengenai jumlah pekerja yang telah terserap.
"Jelas kalau di kami sudah pasti ada lowongan, tidak mungkin perusahaan kami mengikuti kegiatan job fair tanpa adanya posisi yang dibuka," ujar dia.
Sejumlah pelamar kerja mencari informasi lowongan kerja saat bursa kerja di Gor Kebon Jeruk, Jakarta, Selasa.
Menurut Ferri, terdapat banyak lowongan yang tersedia untuk posisi store crew. Sebab, perusahaan retail tempatnya bekerja akan kembali menambah jumlah gerai di wilayah Jakarta. Pencari kerja minimal lulusan sekolah menengah dari berbagai jurusan dapat melamar.
Mereka akan diberi kabar bakal lolos ke tes selanjutnya ataukah tidak dalam kurun waktu 2 pekan ke depan.
"Kami saat ini membuka lowongan untuk store crew, yang paling banyak adalah store crew," kata dia.
"Kalau ini hanya di wilayah atau kota ya, sekitar 500-an (lowongan) dapat untuk perusahaan sendiri," lanjut dia.
Lahirkan Para Wirausaha Baru
Pemprov DKI Jakarta mendorong dengan job fair lahirnya para wirausaha baru. Jadi melalui pelatihan keterampilan, warga bisa membangun usaha sendiri dan bahkan membuka lapangan kerja baru bagi orang lain
"Kami menilai kegiatan tersebut belum mampu menciptakan SDM unggul, dan cenderung bersifat seremonial tanpa indikator keberhasilan yang terukur," kata Syahroni dalam rapat.
Pihaknya juga mendesak Pemprov DKI untuk membuka data terkait dampak langsung job fair terhadap penyerapan tenaga kerja. Jika dinilai tidak efektif, PAN menyarankan agar Pemprov mulai mempertimbangkan program alternatif seperti link and match antara dunia pendidikan dan dunia kerja.
"Kami meminta penjelasan dan rencana konkret Pemprov DKI dalam membangun SDM unggul yang mampu mendukung kemajuan Jakarta," ungkapnya.
Wagub DKI Dukung Evalusi
Menanggapi hal itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta menyatakan dukungannya terhadap usulan evaluasi program ketenagakerjaan yang lebih berfokus pada hasil (outcome based). Menurutnya, pendekatan ini dinilai lebih efektif dalam mengukur dampak nyata dari berbagai program pemerintah terhadap penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kompetensi tenaga kerja.
"Usulan evaluasi berbasis outcome sangat tepat. Kami juga sependapat dengan usulan tambahan berupa program Magang Berjamin Kerja, integrasi antara job fair dan pelatihan, serta insentif bagi perusahaan yang membuka banyak lapangan kerja," ujar Rano.
Rano menegaskan bahwa Pemprov DKI akan terus melakukan perbaikan dan evaluasi terhadap pelaksanaan job fair agar program tersebut benar-benar memberikan manfaat nyata bagi pencari kerja di Ibu Kota.
Beberapa Perusahaan Terpaksa Ikut
Beberapa pihak yang ikut job fair berpendapat bahwa beberapa job fair hanya menjadi ajang formalitas tanpa benar-benar menghasilkan rekrutmen.
Ada juga anggapan bahwa beberapa perusahaan terpaksa ikut job fair, meskipun sebenarnya tidak memiliki kebutuhan rekrutmen yang mendesak.
Meskipun ada interaksi awal di job fair, tindak lanjut yang serius dari perusahaan seringkali kurang, sehingga peluang kerja yang dijanjikan tidak terealisasi.
Acara job fair atau bursa kerja yang beberapa kali sebulan terakhir menjadi harapan bagi warga yang masih mencari pekerjaan.
Bursa seperti ini tak hanya didatangi lulusan baru, sejumlah pencari kerja usia di atas 40 tahun juga ikut mengadu peruntungan mendapatkan pekerjaan.
Para pencari kerja optimis bisa mendapat pekerjaan dari forum bursa kerja seperti itu.
Acara bursa kerja atau job fair sempat jadi sorotan karena adanya narasi yang menyebut bahwa job fair hanya formalitas dan menjadi ajang perusahaan memoles citranya. n jk/ec/erc/rmc
Editor : Moch Ilham