SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Seorang cewek bernama Mira Murati (37) sejak awal tahun 2025 ini jadi bahan perbincangan di dunia teknologi. Alasannya? Ia dan startup AI miliknya, Thinking Machines Lab (TML), menolak tawaran fantastis senilai 1 miliar dolar AS (sekitar Rp 16 triliun) dari Mark Zuckerberg, bos besar Meta.
Tawaran itu ditujukan agar Murati dan timnya bergabung dalam proyek ambisius Meta, yakni AI Superintelligence Lab.
Murati, yang akan menjabat sebagai CEO Thinking Machines Lab, bergabung dengan daftar mantan eksekutif OpenAI yang telah mendirikan startup AI.
Menurut laporan Wired, bukan hanya Murati, tetapi seluruh anggota tim TML juga menolak bergabung meskipun Meta menawarkan kompensasi luar biasa, mulai dari Rp 3 triliun hingga Rp 16 triliun per orang. “Sejauh ini belum ada satu pun dari Thinking Machines Lab yang menerima tawaran itu,” kata Murati, kemarin. Padahal, sebelum mencoba merekrut satu per satu, Meta sempat mencoba mengakuisisi seluruh TML, namun usulan itu juga ditolak.
Mira Murati, Sosok Penting di Balik ChatGPT Mundur dari OpenAI Siapa Mira Murati sebenarnya? Mira Murati adalah seorang tokoh penting dalam perkembangan kecerdasan buatan saat ini.
Ia lahir di Albania pada tahun 1988, dan mulai dikenal sejak menjadi Chief Technology Officer (CTO) di OpenAI, organisasi di balik ChatGPT.
Dilansir dari laman Mint, saat remaja, Murati mendapat beasiswa untuk melanjutkan SMA di Kanada, kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Amerika Serikat. Ia memiliki dua gelar:
Sarjana Matematika dari Colby College Sarjana Teknik Mesin dari Dartmouth College .
Sosok Penting di Balik ChatGPT
Sebelum terjun ke dunia AI, Murati sempat bekerja di perusahaan-perusahaan besar seperti Goldman Sachs, Zodiac Aerospace, dan Tesla.
Mira Murati Jadi CEO Sementara OpenAI, Gantikan Sam Altman Pendiri Twitch Emmett Shear Jadi CEO. Sementara OpenAI Gantikan Mira Murati. Mira Murati, Sosok Penting di Balik ChatGPT yang mundur dari OpenAI.
Siapa Mira Murati sebenarnya? Mira Murati adalah seorang tokoh penting dalam perkembangan kecerdasan buatan saat ini. Ia lahir di Albania pada tahun 1988, dan mulai dikenal sejak menjadi Chief Technology Officer (CTO) di OpenAI, organisasi di balik ChatGPT.
Dilansir dari laman Mint, saat remaja, Murati mendapat beasiswa untuk melanjutkan SMA di Kanada, kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Amerika Serikat.
Ia memiliki dua gelar: Sarjana Matematika dari Colby College Sarjana Teknik Mesin dari Dartmouth College Sebelum terjun ke dunia AI, Murati sempat bekerja di perusahaan-perusahaan besar seperti Goldman Sachs, Zodiac Aerospace, dan Tesla.
Murati bergabung dengan OpenAI pada tahun 2018 dan cepat dipercaya memimpin pengembangan teknologi penting seperti:
Rekrut Sejumlah Talenta Top
Murati mendirikan Thinking Machines Lab (TML) Startup ini langsung mencuri perhatian dunia karena merekrut sejumlah talenta top dari OpenAI dan Meta.
TML berhasil mengamankan pendanaan awal sebesar 2 miliar dolar AS (sekitar Rp 33 triliun). Kini valuasi perusahaan itu sudah mencapai Rp 197 triliun, padahal mereka belum merilis produk komersial. Murati menjanjikan produk AI pertama TML akan dirilis tahun ini.
Mira Murati, Otak di balik ChatGPT yang Tolak Tawaran US$1 miliar dari Mark Zuckerberg Mira Murati, mantan CTO OpenAI dan pendiri Thinking Machines Lab, menolak tawaran US$1 miliar dari Meta, memilih independensi dan visi jangka panjang AI. Mutiara Nabila - Mira Murati, visioner teknologi keturunan Albania-Amerika di balik beberapa terobosan paling signifikan dalam kecerdasan buatan (AI) kembali menjadi sorotan. Kali ini, dia banyak dibicarakan karena menolak tawaran menggiurkan sebesar US$1 miliar dari CEO Meta, Mark Zuckerberg.
Sebagai mantan Chief Technology Officer (CTO) OpenAI dan kini pendiri startup AI Thinking Machines Lab, Murati telah menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam persaingan AI global. Penolakan bulat timnya terhadap tawaran besar Meta menunjukkan kepercayaan mereka terhadap kepemimpinannya dan keyakinan mereka terhadap visi jangka panjang startup tersebut.
Otak di Balik ChatGPT Sebelum meluncurkan Thinking Machines Lab, Mira Murati menjabat sebagai kepala teknologi di OpenAI, salah satu posisi paling berpengaruh di dunia AI modern.
AI Tak Mampu Gantikan Dokter ChatGPT Terima 2,5 Miliar Prompt Setiap Hari, 330 Juta dari Pengguna AS Selama masa jabatannya, dia memainkan peran penting dalam memimpin pengembangan teknologi inovatif seperti ChatGPT, DALL·E, dan Codex—sistem yang telah mengubah cara orang berinteraksi dengan kecerdasan buatan.
Karyanya membantu membawa AI generatif ke arus utama, memicu gelombang inovasi global di berbagai industri, mulai dari pendidikan dan kesehatan hingga desain dan pengodean. Murati bukan sekadar pemimpin teknis, dia juga merupakan seorang visioner strategis.
Di OpenAI, dia menekankan pentingnya keamanan, keselarasan, dan pengembangan yang bertanggung jawab, mendorong organisasi untuk berpikir mendalam tentang dampak sosial dari sistem AI yang canggih.
Secara internal, dia mendapatkan reputasi sebagai "otak AI" di balik proyek-proyek OpenAI yang paling ambisius, dipuji karena sikapnya yang tenang dan fokus, serta kemampuannya membimbing tim multidisiplin melalui periode inovasi yang intens.
Kombinasi presisi teknik dan pemikiran yang berpusat pada manusia menjadi landasan bagi langkah berani berikutnya, yakni mendirikan perusahaan AI-nya sendiri.
Perusahaan miliknya didirikan pada awal 2025, Thinking Machines Lab, dengan cepat muncul sebagai salah satu startup AI yang paling banyak diminati. Meskipun belum meluncurkan satu produk pun, perusahaan ini baru-baru ini mengumpulkan pendanaan tahap awal yang mencengangkan sebesar US$2 miliar dengan valuasi mendekati US$12 miliar, dipimpin oleh Andreessen Horowitz.
Tujuan startup ini adalah untuk menciptakan sistem AI yang dapat dikustomisasi, diinterpretasikan, dan diakses secara luas yang dapat mendefinisikan ulang lanskap AI.
Para pakar industri mengatakan bahwa mode tak terlihat perusahaan ini justru menambah daya tariknya. Dengan Murati sebagai pemimpin, ekspektasi terhadap apa yang akan datang sangat tinggi.
Lebih Hargai Independensi
Alasan Murati Menolak Meta Dilansir Wired, Meta milik Zuckerberg menawarkan paket kompensasi gaji mulai dari US$200 juta hingga US$1 miliar kepada beberapa anggota tim Murati untuk bergabung dengan Superintelligence Lab yang baru diluncurkan. Namun, setiap tawaran itu ditolak.
Sebuah sumber mengatakan tim Thinking Machines Lab yakin ekuitas mereka di startup ini berpotensi jauh lebih bernilai, dan yang lebih penting, mereka lebih menghargai independensi dan visi Murati daripada gaji dari perusahaan teknologi besar.
Dalam industri teknologi di mana gaji besar seringkali menjadi penentu keputusan, loyalitas yang ditunjukkan oleh tim Murati sangat menonjol. Penolakan tawaran menggiurkan dari Meta menunjukkan keyakinan mereka terhadap misi dan potensi jangka panjang perusahaan rintisan tersebut.
Banyak pengamat juga mencatat bahwa kesempatan untuk membantu membentuk masa depan AI dari nol, tanpa batasan perusahaan raksasa, merupakan peluang langka dan bermakna, yang telah Murati ciptakan dengan kerja keras.
Kepemimpinan Mira Murati telah diakui di seluruh dunia, membawanya masuk dalam daftar 100 Tokoh Paling Berpengaruh di AI versi Time (2024) dan 100 Wanita Paling Berpengaruh di Bisnis versi Fortune (2023).
Dengan semakin menguatnya Thinking Machines Lab dan penolakan tawaran miliaran dolar dari Meta, Murati tidak hanya memantapkan posisinya sebagai pengembang AI, tetapi juga sebagai pembentuk masa depannya. n rtr/afp/cr10/rmc
Editor : Moch Ilham