SURABAYAPAGI.COM, MALANG – Salah satu destinasi wisata unggulan Kota Malang yang harus dikunjungi ketika sedang berlibur ke sana, yaitu kawasan Kayutangan Heritage. Kayutangan Heritage Terletak di pusat kota, kawasan ini menghadirkan suasana khas tempo dulu melalui deretan bangunan kolonial yang masih berdiri kokoh, berpadu dengan denyut kehidupan modern yang dinamis.
Sejarah Kayutangan berawal sejak era kolonial Belanda. Kawasan ini dahulu menjadi salah satu pusat perdagangan dan permukiman penting. Bangunan bergaya art deco dengan jendela besar, pintu kayu klasik, serta ornamen khas Eropa, masih dapat ditemui hingga kini. Tidak heran jika banyak sejarawan menyebut Kayutangan sebagai “lorong waktu” yang merekam perjalanan panjang Kota Malang.
Dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah Kota Malang melakukan revitalisasi menyeluruh. Program penataan kawasan heritage meliputi perbaikan bangunan, penataan trotoar ramah pejalan kaki, serta pemasangan lampu jalan bergaya retro.
“Kami ingin Kayutangan Heritage menjadi ruang publik yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga nyaman bagi warga. Identitas sejarah harus dijaga, namun kawasan ini juga perlu hidup sebagai pusat ekonomi dan budaya,” ujar kepala dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Kadisporapar),.Baihaqi
Daya tarik Kayutangan Heritage semakin terasa pada malam hari. Lampu-lampu kuning temaram menghiasi jalan utama, menciptakan atmosfer klasik yang romantis. Tak sedikit wisatawan yang datang untuk sekadar berjalan santai, menikmati kuliner khas Malang, atau mengabadikan momen di spot foto populer. Kehadiran kafe tematik dan pertunjukan seni jalanan turut menambah semarak suasana.
Bagi pecinta fotografi, kawasan ini menjadi surga tersendiri. Setiap sudut bangunan menawarkan nilai estetika, mulai dari pintu berukir, jendela tua, hingga mural yang memadukan seni modern dengan nuansa tradisional. Bahkan, beberapa komunitas fotografi rutin mengadakan kegiatan hunting di kawasan ini.
Salah satu pelaku usaha kuliner di Kayutangan, Mas Aditya, mengaku omzet usahanya meningkat sejak kawasan ini ditetapkan sebagai destinasi heritage. “Dulu suasananya sepi, sekarang jauh lebih ramai. Banyak pengunjung yang datang, bukan hanya dari Malang tapi juga dari luar kota,” tuturnya.
Selain menjadi magnet wisata, keberadaan Kayutangan Heritage turut menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan warga menjadi kunci utama dalam menjaga keberlangsungan kawasan ini.
Dengan perpaduan sejarah, budaya, dan modernitas, Kayutangan Heritage bukan sekadar destinasi wisata, melainkan simbol identitas Kota Malang. Kawasan ini seolah membuka jendela masa lalu yang dapat dinikmati generasi sekarang, sekaligus memperkuat posisi Malang sebagai salah satu kota wisata budaya di Indonesia. mlg-01/gfr
Editor : Redaksi