SURABAYAPAGI.com, Filipina - Jumlah korban jiwa akibat gempa dahsyat yang mengguncang Filipina pada Selasa (30/9/2026) malam terus bertambah. Hingga Rabu (1/10), Dewan Nasional Pengurangan Risiko Bencana dan Manajemen (NDRRMC) melaporkan sedikitnya 27 orang meninggal dunia, sementara 140 lainnya mengalami luka-luka.
Gempa bermagnitudo 6,9 ini terjadi di lepas pantai Kota Cebu sekitar pukul 22.00 waktu setempat. Getaran kuat menyebabkan kepanikan warga, pemadaman listrik massal, serta kerusakan parah pada infrastruktur.
Menurut NDRRMC, sedikitnya 22 bangunan rusak, termasuk empat bangunan yang runtuh, tiga gedung pemerintahan, enam jembatan, dan satu ruas jalan yang kini tidak dapat diakses.
Alfie Reynes, Wakil Wali Kota San Remigio, mengonfirmasi bahwa 22 korban meninggal dunia berasal dari wilayahnya. Ia mendesak pemerintah pusat segera menyalurkan bantuan darurat, mulai dari makanan, air bersih, hingga alat berat untuk mendukung proses pencarian korban.
“Saat ini hujan deras dan listrik padam. Pasokan air terputus akibat gempa. Kami benar-benar membutuhkan bantuan segera,” ujarnya.
Selain itu, seorang pejabat setempat menyebut kepada Reuters bahwa 21 korban jiwa tercatat di Provinsi Cebu, meski data tersebut masih dalam proses verifikasi.
Badan Geologi Filipina (Phivolcs) menyatakan pusat gempa berada pada kedalaman 10 kilometer. Getaran susulan terus terjadi, dengan yang terkuat mencapai magnitudo 6. Meski begitu, Phivolcs memastikan tidak ada ancaman tsunami.
Phivolcs tetap mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap gempa susulan, serta potensi bahaya lainnya seperti gelombang laut tidak biasa, arus kuat, maupun perubahan tiba-tiba pada muka air laut.
Gempa ini menjadi salah satu bencana paling mematikan di Filipina sepanjang tahun 2026, sekaligus mengingatkan rapuhnya infrastruktur di kawasan rawan bencana tersebut. phl-01/gfr
Editor : Redaksi