SURABAYAPAGI.com, Ponorogo - Melihat potensi bencana alam yang kian ekstrem, Pusat Vulkanologi & Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan Kabupaten Ponorogo masuk dalam zona kerawanan tinggi longsor dan banjir.
Penilaian tersebut tertuang dalam Executive Summary yang diterima BPBD Ponorogo yang menyebut Jawa Timur memiliki tingkat kerentanan gerakan tanah sangat tinggi akibat morfologi pegunungan vulkanik, batuan lapuk, dan DAS hulu yang curam.
Kalaksa BPBD Ponorogo menyebut, jika kondisi ini membuat kawasan selatan dan timur Ponorogo ikut masuk wilayah berisiko. Pasalnya, wilayah selatan dan timur memiliki struktur tanah karst dan vulkanik tua yang mudah lepas ketika menyerap air.
"Dalam rilis itu, Ponorogo juga termasuk. Kami sudah memetakan bagaimana antisipasinya. Hal itu yang membuat daerah selatan dan timur sangat rawan longsor," tegasnya, Rabu (10/12/2025).
Lebih lanjut, menurut Masun, daerah rawan longsor di selatan meliputi Slahung dan Ngrayun, sementara di timur berada di Ngebel, Pudak, Pulung, dan Sooko. Longsor disebut sebagai bencana prioritas nomor satu Ponorogo.
"Ingat 2017, longsor Banaran Pulung memakan korban puluhan," katanya.
Selain itu, pihaknya juga menambahkan, sebesar 60 persen bencana tahunan di Ponorogo merupakan longsor. BPBD telah mengeluarkan edaran waspada bencana sejak Oktober.
Sehingga, pihaknya meminta warga peka terhadap tanda-tanda longsor seperti muncul sumber air baru, retakan tanah, atau suara gemuruh. Selain longsor, Ponorogo juga rawan banjir karena berada di aliran DAS Solo.
Menindaklanjuti dan mengantisipasi bencana tersebut, BPBD melakukan mitigasi melalui pembentukan Desa Tangguh Bencana serta edukasi sungai di sejumlah kecamatan. "Kami juga lakukan penghijauan di daerah kritis untuk menghambat erosi," pungkasnya. pn-01/dsy
Editor : Desy Ayu