SBY, Analisis Geopolitik di Lemhanas 

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Raditya M Khadaffi
Raditya M Khadaffi

i

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - "SBY Berpesan, Indonesia Jangan Lugu". Ini judul berita utama harian kita edisi Selasa (24/2).

Sebagai Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyoroti kondisi geopolitik kontemporer yang di ujung tanduk bisa pecah perang dunia. SBY mengingatkan Indonesia tidak bisa merasa lugu merasa tidak terdampak potensi perang dunia yang bisa pecah kapan saja. 

Dalam KBBI, lugu diartikan tidak banyak tingkah; bersahaja; sewajarnya; apa adanya.

Seorang pengamat internasional dari Malaysia menyebutkan  saat ini terbuka kemungkinan hal buruk PD III terjadi. Sejumlah pemicu perang mulai nampak, termasuk meningkatnya ketegangan politik, sengketa wilayah, atau aksi terorisme yang menghancurkan. Adackonflik di Jalur Gaza yang masih memanas juga perang Ukraina dan Rusia yang masih saja berkonflik.

"Tentunya hal ini sangat ditakutkan karena jika perang dunia III benar-benar terjadi, pastinya akan menimbulkan dampak buruk yang akan ditimbulkannya terhadap perekonomian global.," katanya dilansir 

The Star, edisi Selasa (24/2).

SBY  mengingatkan Indonesia tidak naif soal ancaman perang dunia. SBY mencontohkan sejarah Perang Dunia II, Indonesia yang tidak terlibat langsung perang tersebut tetap terdampak.

"Apakah kita tidak fokus ke dalam negeri saja, Pak? Dunia yang sedang meng-global begini, yang interconnected, interrelated, tidak mungkin. Saya berikan contoh perang dunia kedua, kita tidak ikut-ikutan, jadi korban juga," kata SBY.

SBY menilai Indonesia hanya akan menjadi pelengkap penderita dan korban jika hanya berdiam diri. "Ini kalau yang menentukan negara-negara tertentu, negara besar dulu tidak ikut G20, ya kita bisa berbuat apa? Jadi pelengkap penderita, jadi korban juga," imbuh dia.

 SBY mewanti-wanti.

Indonesia tidak boleh merasa aman karena tidak punya persoalan dengan negara lain. Mantan Menko Polkam itu menilai naif jika masih berpikir Indonesia tidak tersentuh perang dunia.

"Kita tidak boleh naif dan tidak boleh seolah-olah tidak akan tersentuh kita. Kita tidak punya masalah kok, don't say that, karena sudah memang kacau seperti ini," ucap dia.

SBY menyampaikan pandangannya tersebut saat memberikan kuliah umum di gedung Lemhannas, Jakarta Pusat, Senin (23/2/2026). 

SBY  menjelaskan kondisi geopolitik saat ini tak terlepas dari era Perang Dingin dulu.

Untuk siapa, kuliah umumnya itu. Apa hanya untuk peserta kursus Lemhanas saja? Apa SBY sungkan memberi usulan kepada Presiden Prabowo Subianto?

 

***

 

Kuliah umum tertutup Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Lemhannas RI pada 23 Februari 2026, menarik. SBY bicara mengenai geopolitik global. 

Dalam kuliah tersebut, SBY mengapresiasi kebijakan luar negeri Presiden Prabowo Subianto yang menggunakan prinsip "seribu kawan, satu musuh terlalu banyak". Paparan SBY berfokus pada strategi pertahanan dan diplomasi aktif. 

SBY membagikan wawasan mengenai geopolitik global dan arah kebijakan yang harus diambil pemimpin nasional di tengah lingkungan strategis yang dinamis.

SBY juga memuji langkah-langkah diplomasi Prabowo yang menekankan perdamaian.

 SBY malah menekankan pentingnya peran aktif Indonesia dalam diplomasi internasional serta memperkuat posisi di ASEAN.

SBY menilai setelah Perang Dingin, AS ingin menjadi lone ranger atau negara yang bergerak sendiri untuk mencapai tujuannya. Selain itu, ia menilai AS diramalkan menjadi The Triumph of Liberalism dan The Death of Communism and Authoritarianism.

SBY menilai perubahan geopoltik dunia terjadi seiring zaman. Pada saat ini, menurut dia, seharusnya dunia sudah menjadi multipolar.

"Artinya apa? Sudah terjadi dan sekarang ini mestinya kembali ke multipolar, paling tidak Amerika, Tiongkok, Rusia, Uni Eropa, beberapa negara BRICS. Sadarilah kita hidup dalam tatanan multipolar," ucapnya

Namun SBY menilai AS tidak menginginkan itu, karena keinginan menjadi unipolar atau satu-satunya penguasa di dunia. 

Mengapa SBY menggunakan kata  Indonesia Jangan Lugu ? Apa ia sungkan terhadap Presiden Prabowo Subianto, yang lebih aktif menjalin diplomasi datangi berbagai negara lintas benua ?

 

***

 

Sebagai sesama jenderal militer, SBY tahu tidak semua strategi mempertahankan kedaulatan negara, diumumkan ke publik. Apalagi menyangkut geopolitik.

Sebagai jurnalis saya pun tahu tahun 2025, dunia diguncang dengan berbagai kemelut. Instabilitas masih menjadi ancaman geopolitik dunia. Apakah setahun ke depan perlu terus dimitigasi.

Saya yang bukan lulusan hukum internasional paham salah satu hal yang tidak mungkin dilepaskan dari analisis geopolitik adalah potensi muncul dan berkembangnya konflik. Pada awal tahun 2026 ini, fakta peristiwa, Amerika Serikat telah menyerang Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro, Sabtu (3/1/2026).

Selama ini, Venezulea dikenal sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, sedangkan Presiden Maduro disebut-sebut sebagai sosok yang punya relasi dekat dengan Rusia, China, dan Iran.

Konflik di awal 2026 tersebut seakan menambah kemelut dunia yang terjadi tahun lalu, seperti perang Ukraina-Rusia, Palestina-Israel, dan China-Taiwan.

 Dunia terkesan terus mengupayakan perdamaian atas konflik-konflik tersebut. Sejumlah pengamat menganalisis, sepanjang 2025, ada pola kristalisasi yang muncul dari sejumlah konflik yang terjadi sejak beberapa tahun ke belakang.

Di satu sisi, hal ini menandakan adanya stagnasi upaya resolusi konflik, mulai dari jalur organisasi internasional, diplomasi satelit hingga upaya multilateral. Namun, di sisi lain, terlihat pula konflik, seperti yang terjadi antara Rusia-Ukraina dan Israel-Palestina, yang mulai mencapai titik jenuh. Konflik yang sebelumnya berkecamuk sekitar empat tahun ke belakang mulai bergerak menjadi konflik abadi (perpetual) yang, meski alot, tetapi tidak eksplosif.

 

***

 

Presiden RI, Prabowo Subianto, sendiri paham dengan situasi geopolitik global.  Maka itu, ia mengingatkan seluruh jajaran pemerintahan untuk waspada terhadap dinamika dan tantangan global yang semakin kompleks. Ia menegaskan bahwa sejak awal berdirinya Indonesia, dunia selalu berada dalam pusaran konflik dan perang ideologi yang berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap Tanah Air.

Prabowo mengatakan konsep Indonesia sebagai negara berdaulat dan bebas aktif tidak selalu disukai oleh berbagai kekuatan dunia. Bahkan, menurutnya, ada pula kekuatan yang secara geografis dan politik dekat dengan Indonesia, tetapi tidak sepenuhnya sejalan dengan kepentingan nasional.

“Kita harus sadar, konsep Indonesia ini tidak disukai oleh banyak kekuatan di dunia ini, dan mungkin beberapa kekuatan yang dekat dengan kita,” ujar Prabowo dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul, Jawa Barat, Senin (2/2).

Ia menjelaskan bahwa sejak masa Presiden pertama RI, dunia telah terbelah dalam perang ideologi besar, mulai dari blok komunis hingga blok anti-komunis. Kondisi tersebut membuat Indonesia tidak pernah benar-benar hidup terpisah dari dinamika global.

Prabowo mencontohkan berbagai konflik internasional yang berdampak luas, seperti perang di Ukraina dan konflik di Gaza, yang menurutnya turut memengaruhi stabilitas dunia, termasuk Indonesia. Karena itu, ia meminta seluruh jajaran pemerintahan memahami betul tantangan global yang ada.

“Saya baru pulang dari Eropa, bertemu tokoh-tokoh dunia, hadir di Davos. Hampir semua negara merisaukan pecahnya Perang Dunia Ketiga,” ungkapnya.

Pertanyaan saya kepada siapa pernyataan SBY soal Indonesia Jangan Lugu itu dialamatkan? ([email protected])

Berita Terbaru

Surabaya Raih Predikat Kota Terbaik Pertama dalam Pengelolaan Sampah se-Indonesia Tahun 2025

Surabaya Raih Predikat Kota Terbaik Pertama dalam Pengelolaan Sampah se-Indonesia Tahun 2025

Rabu, 25 Feb 2026 20:06 WIB

Rabu, 25 Feb 2026 20:06 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Kota Surabaya kembali menorehkan prestasi sebagai salah satu daerah dengan kinerja lingkungan terbaik di Indonesia. Berdasarkan…

Dorong Ekonomi Lokal, JConnect Ramadan Vaganza 2026 Resmi Dibuka di Balai Kota Surabaya

Dorong Ekonomi Lokal, JConnect Ramadan Vaganza 2026 Resmi Dibuka di Balai Kota Surabaya

Rabu, 25 Feb 2026 19:51 WIB

Rabu, 25 Feb 2026 19:51 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Halaman Balai Kota Surabaya kembali semarak dengan dibukanya gelaran JConnect Ramadan Vaganza 2026, Rabu (25/2). Event yang…

Hakim Khawatir Orang Atasnamakan Majelis

Hakim Khawatir Orang Atasnamakan Majelis

Rabu, 25 Feb 2026 19:40 WIB

Rabu, 25 Feb 2026 19:40 WIB

Jelang Vonis Kamis Hari Ini, dalam Perkara Dugaan Korupsi Minyak Mentah yang Rugikan Negara Rp 285 triliun      SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Hakim Ketua pe…

Tiga Partai dan Akademisi Setuju Batas Parlemen dihapus

Tiga Partai dan Akademisi Setuju Batas Parlemen dihapus

Rabu, 25 Feb 2026 19:37 WIB

Rabu, 25 Feb 2026 19:37 WIB

Hasil Pemilu 2024, Ada 50 juta hingga 60 juta Suara Rakyat Terbuang Sia-sia Akibat Parliamentary Threshold 4%     SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Putusan MK a…

Pasal Praktik Nepotisme Presiden atau Wapres, Digugat ke MK

Pasal Praktik Nepotisme Presiden atau Wapres, Digugat ke MK

Rabu, 25 Feb 2026 19:34 WIB

Rabu, 25 Feb 2026 19:34 WIB

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Pemohon sebagai pemilih berpotensi tidak memiliki kesempatan memilih calon presiden pilihan sendiri secara bebas jika ada keluarga…

Menkes "Angkat Tangan" Soal Mutasi Ketua Umum IDAI

Menkes "Angkat Tangan" Soal Mutasi Ketua Umum IDAI

Rabu, 25 Feb 2026 19:32 WIB

Rabu, 25 Feb 2026 19:32 WIB

Konsultan Senior Jantung Anak Merasa Keputusan Mutasinya Dilandasi 'abuse of power'      SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) me…