SURABAYAPAGI.com, Ponorogo - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo melalui Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dispertahankan) setempat mencatat tren positif dengan menghasilkan produksi rata-rata panen padi di Bumi Reog sekitar 7-7,5 ton per hektare, dengan total 10 ribu hektare sawah siap panen pada Mei ini.
Diketahui juga, Kabupaten Ponorogo kini masuk 10 besar penghasil padi di Jawa Timur. Itu lantaran hasil panen yang melimpah, didukung pengairan yang bagus. Dimana, pengairan di Ponorogo saat ini cukup bagus dan merata. Di mana, kebutuhan air petani di wilayah Pulung, Babadan, Jenangan dan sebagian Siman kini bisa dipasok dari Telaga Ngebel.
"Di beberapa kecamatan, pola tanamnya tidak bisa bersama-sama, dulu itu bisa 'dititeni', mulai musim penghujan petani baru mulai menanam padi. Jadi begitu panen, tanam lagi. Sehingga padi di Ponorogo sekarang tidak ada musimnya, sewaktu-waktu ada, ya karena dipengaruhi beberapa faktor, salah satunya pengairan yang bagus," ujar Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dispertahankan Ponorogo, Tri Budi Widodo, Senin (11/05/2026).
Tak hanya itu, termasuk keberadaan Dam Sungkur yang bisa memenuhi kebutuhan air petani wilayah Jambon, dan sekitarnya. Serta Waduk Bendo yang memenuhi kebutuhan air petani di wilayah Mlarak, Jetis, Sawoo, Siman dan sebagian Kecamatan Ponorogo.
Tak hanya itu, petani di sejumlah kecamatan secara swadaya membuat sumur sibel untuk irigasi pertanian. "Selain itu juga ada perbaikan saluran air dari BBWS. Ini yang memengaruhi tingginya produktivitas pertanian di Ponorogo," tambahnya. pn-01/dsy
Editor : Redaksi