Jejak Kontroversial Jayadi: Dari Dukun Sunat, Politisi, hingga Jadi Tersangka Pencabulan Santri di Ponorogo

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Jayadi yang ditangkap Polisi akibat diduga mencabuli 11 santri nya memiliki rekam jejak beragam sebelumnya. 
Jayadi yang ditangkap Polisi akibat diduga mencabuli 11 santri nya memiliki rekam jejak beragam sebelumnya. 

i

 

SURABAYA PAGI, Ponorogo-Kasus dugaan kekerasan asusila yang menjerat Jayadi (55), pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Tahfidzul Qur'an Raden Wijaya di Kecamatan Jambon, Ponorogo, terus menggelinding. Penangkapan Jayadi setelah diduga mencabuli sedikitnya 11 santri laki-laki di bawah umur membuka kotak pandora mengenai rekam jejak masa lalunya yang kontroversial.

Dikenal publik sebagai tokoh agama pengasuh pesantren, Jayadi ternyata memiliki latar belakang yang dinilai masyarakat setempat jauh dari citra seorang kiai. Penelusuran rekam jejak digital serta kesaksian warga mengungkap bahwa sepak terjang Jayadi di masa lalu sangat beragam, mulai dari membuka praktik pengobatan tanpa izin, hinggq berkarier di politik praktis. 

Sebelum mendirikan pesantren tahfiz, warga di Kecamatan Jambon mengenal Jayadi sebagai seorang mantri keliling atau dukun sunat. Praktik pengobatannya di masa lalu sempat sangat laris dan ramai dikunjungi warga karena ia dianggap memiliki keahlian tersebut setelah sempat belajar secara informal.

Namun, masa kejayaan praktiknya runtuh setelah terganjal masalah legalitas. S, salah seorang rekan dekat Jayadi yang enggan disebutkan identitas lengkapnya, mengungkapkan bahwa tempat praktik Jayadi terpaksa gulung tikar akibat penertiban oleh pihak berwenang karena terbukti ilegal.

 

"Ceritanya dulu dia memang mantri (dukun sunat), praktiknya ramai sekali di wilayah sini. Tetapi karena terbukti tidak punya izin resmi, akhirnya tempat praktiknya ditutup total oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) saat zamannya Bupati Pak Muhadi," kata S saat dikonfirmasi, Kamis (21/5/2026).

Penutupan izin praktik tersebut terjadi sekitar tahun 2009. Sejak bisnis pengobatannya ditutup oleh pemerintah daerah, Jayadi mulai memutar otak dan beralih haluan mencari panggung baru untuk mempertahankan eksistensinya di tengah masyarakat Ponorogo.

Keluar dari dunia pengobatan non-formal, Jayadi menjajal peruntungan di panggung politik praktis. Pada Pemilu 2009, ia bergabung dengan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) dan berhasil mengamankan satu kursi legislatif. Keberhasilan politik ini sempat melambungkan namanya di kancah regional.

Ambisi politik Jayadi tidak berhenti di situ. Memasuki Pilkada 2010, namanya bahkan sempat masuk dalam bursa bursa bakal calon Wakil Bupati Ponorogo, bersanding dengan dinamika politik di era kepemimpinan Bupati Muhadi saat itu.

Bersamaan dengan kiprah politiknya, Jayadi mulai menggunakan berbagai gelar yang membingungkan masyarakat. Sebagian warga kerap menyapanya dengan sebutan 'Dokter' atau 'Doktor', meski latar belakang pendidikannya disinyalir bukan lulusan kedokteran medis.

"Dia itu murni profesional dan mantan politisi, bukan kiai asli dari pesantren atau nasab ulama," tambah S. "Masyarakat di sini juga tahu kalau dia sempat mengklaim punya gelar Magister Humaniora (M.Hum) serta Magister Kesehatan (M.Kes) dan infonya pernah mengajar jadi dosen di salah satu kampus di Madiun. Gelar-gelar itulah yang kemudian dipakai untuk membangun citra baru."ungkapnya.

Setelah meredup dari panggung politik, Jayadi memanfaatkan modal sosial berupa gelar akademis, klaim mantan mantri kesehatan, serta sisa-sisa pengaruh politiknya untuk mendirikan Ponpes Tahfidzul Qur'an Raden Wijaya di Desa Pulosari, Kecamatan Jambon. Berkedok sebagai lembaga pendidikan pencetak penghafal Al-Qur'an, Jayadi sukses menyematkan status baru di masyarakat sebagai seorang pemuka agama atau pengasuh pondok.

Namun, kedok tersebut akhirnya terbongkar secara tragis. Jayadi dijemput paksa oleh sekelompok organisasi masyarakat bersama warga pada Senin (18/5/2026) dini hari sekitar pukul 02.00 WIB langsung dari komplek pesantrennya, sebelum akhirnya diserahkan ke Polres Ponorogo.

Polisi menduga kuat Jayadi telah memanfaatkan otoritasnya sebagai pimpinan pondok untuk melancarkan aksi asusila terhadap para santrinya. Hingga saat ini, tercatat ada 11 santri laki-laki yang mayoritas masih di bawah umur menjadi korban dan tengah menjalani pemeriksaan intensif serta pendampingan trauma akibat perbuatan terduga pelaku.

Pihak Satreskrim Polres Ponorogo menyatakan masih terus mendalami kasus ini, termasuk memeriksa saksi-saksi guna mengungkap apakah ada korban lain di bawah kepemimpinan Jayadi yang memiliki rekam jejak panjang berpindah-pindah profesi tersebut. roh

Tag :

Berita Terbaru

Dorong Pelaku UMKM Naik Kelas, Pemkot Madiun Fasilitasi Pelatihan Digital Lewat POS

Dorong Pelaku UMKM Naik Kelas, Pemkot Madiun Fasilitasi Pelatihan Digital Lewat POS

Senin, 17 Agu 2026 11:00 WIB

Senin, 17 Agu 2026 11:00 WIB

SURABAYAPAGI.com, Madiun - Sebagai upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Madiun untuk membantu para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) wilayah setempat…

Lewat ‘Wadul Gus'e, Pemkab Jember Tutup Outlet Minuman Keras Tak Berizin

Lewat ‘Wadul Gus'e, Pemkab Jember Tutup Outlet Minuman Keras Tak Berizin

Senin, 17 Agu 2026 10:52 WIB

Senin, 17 Agu 2026 10:52 WIB

SURABAYAPAGI.com, Jember - Melalui kanal Wadul Gus'e, Pemerintah Kabupaten  (Pemkab) Jember mendapat pengaduan masyarakat dan akhirnya menutup outlet minuman …

Tekan Inflasi, Pemprov Jatim Kembali Gelar Pasar Murah di Surabaya

Tekan Inflasi, Pemprov Jatim Kembali Gelar Pasar Murah di Surabaya

Minggu, 16 Agu 2026 18:21 WIB

Minggu, 16 Agu 2026 18:21 WIB

SurabayaPagi, Surabaya – Pemerintah Provinsi Jawa Timur kembali menggelar pasar murah untuk menjaga keterjangkauan harga pangan sekaligus memperkuat daya beli m…

Sempat Pesimistis, Kristina Mahendra Sabet BGO Ladies Petra Golf Tournament 2026

Sempat Pesimistis, Kristina Mahendra Sabet BGO Ladies Petra Golf Tournament 2026

Minggu, 16 Agu 2026 15:26 WIB

Minggu, 16 Agu 2026 15:26 WIB

SurabayaPagi, Pasuruan — Keraguan sempat mengiringi langkah Kristina Mahendra ketika mengikuti Petra Golf Tournament 2026 di Taman Dayu Golf, Pasuruan, Sabtu (…

Dirut PLN Kawal Langsung Kelistrikan Nasional Jelang HUT ke-81 Kemerdekaan RI dari Posko NTT

Dirut PLN Kawal Langsung Kelistrikan Nasional Jelang HUT ke-81 Kemerdekaan RI dari Posko NTT

Minggu, 16 Agu 2026 12:36 WIB

Minggu, 16 Agu 2026 12:36 WIB

SurabayaPagi, Depok – PT PLN (Persero) terus memperkuat sistem kelistrikan nasional guna mendukung seluruh rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 K…

Ribuan Personel PLN UIT JBM Siaga Penuh Amankan Keandalan Listrik Jelang HUT ke-81 RI

Ribuan Personel PLN UIT JBM Siaga Penuh Amankan Keandalan Listrik Jelang HUT ke-81 RI

Minggu, 16 Agu 2026 12:29 WIB

Minggu, 16 Agu 2026 12:29 WIB

SurabayaPagi, Sidoarjo — Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, PLN Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Timur dan Bali (…