SURABAYAPAGI.com, Sidoarjo - Sejumlah masyarakat Jawa masih melestarikan tradisi jamasan pusaka sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya leluhur, dengan membersihkan dan merawat berbagai benda pusaka seperti keris dan tombak memasuki Tahun Baru Jawa 1 Suro atau 1 Muharam.
Pasalnya, tradisi jamasan tidak hanya bertujuan merawat fisik pusaka, tetapi juga menjadi momentum introspeksi diri saat pergantian tahun Jawa. Dan di Sidoarjo, tradisi tersebut rutin dilakukan oleh Yany Setiawan yang memiliki lebih dari 100 koleksi pusaka itu menggelar prosesi jamasan sebagai upaya menjaga keaslian sekaligus melestarikan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
"Ini adalah warisan budaya leluhur yang harus kita jaga. Keris bukan benda yang disembah atau dikultuskan, tetapi merupakan maha karya nenek moyang yang memiliki nilai seni dan sejarah tinggi," jelasnya, Selasa (16/06/2026).
Untuk jenis pusaka tertentu seperti keris, dilakukan proses pewarangan guna memunculkan pamor atau motif logam yang menjadi ciri khas bilah keris. Setelah selesai, pusaka dikeringkan dan diolesi minyak khusus agar tidak mudah berkarat.
"Perawatan dilakukan seperti merawat benda bersejarah lainnya. Dijaga kebersihannya, dicegah dari karat dan kerusakan. Ini bagian dari upaya melestarikan budaya bangsa agar tidak hilang ditelan zaman," tegasnya.
Di tengah perkembangan teknologi dan modernisasi, Yany berharap generasi muda tetap mengenal dan mencintai warisan budaya Nusantara. Menurutnya, keris merupakan identitas bangsa yang telah diakui dunia sehingga keberadaannya harus terus dijaga. "Kalau bukan kita yang melestarikan, siapa lagi. Keris adalah bagian dari sejarah dan budaya Indonesia yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya," harapnya. sd-01/dsy
Editor : Redaksi