Perum Bulog Masih Rendah Serap Jagung ke Petani

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Perum Bulog ditugaskan menyerap minimal 1 juta ton jagung petani dalam setahun untuk pengelolaan cadangan jagung pemerintah. Realisasi tersebut nyatanya sangat rendah di lapangan.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Rachmat Pambudy mengatakan realisasi cadangan jagung pemerintah per 6 Juli 2026 baru 190 ribu ton atau 19�ri target. Jumlah itu lebih baik dibandingkan 2025 yang hanya 101,8 ribu ton atau 10�ri target.

"Baru tercapai 10% (di 2025), baru tercapai 19�ri target (2026). Ini harus ada perbaikan mendasar," ungkap Rachmat dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Kamis (9/7/2026).

Penugasan itu sesuai amanat Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pengadaan dan Pengelolaan Jagung Dalam Negeri Serta Penyaluran Cadangan Jagung Pemerintah Tahun 2026-2029. Dalam hal ini Kementerian PPN/Bappenas ditugaskan untuk memastikan kebijakan tersebut bisa dilaksanakan dan selaras dengan Rencana Kerja Pemerintah.

Melalui aturan tersebut, pemerintah menargetkan serap 1 juta ton jagung dalam negeri pada tahun ini dengan patokan harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp 5.500 per kilogram yang telah masuk usia panen di tingkat petani dengan kadar air antara 18-20%. Tujuannya untuk menyerap hasil panen petani lokal dengan harga pantas.

Kebijakan itu juga dinilai memiliki efek domino yang baik, di mana jagung yang diserap menjadi cadangan jagung pemerintah akan disalurkan sebagai pakan murah untuk peternak lewat Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Dengan begitu, hasilnya diharapkan bisa membuat harga daging ayam dan telur di pasaran tetap stabil dan terjangkau.

Melihat realisasinya yang masih rendah, Kementerian PPN/Bappenas mendorong agar pencapaian target pengadaan cadangan jagung pemerintah bisa dipercepat. Strategi dan rencana pemanfaatan cadangan jagung pemerintah dinilai perlu disiapkan terutama untuk jaminan harga bagi petani dan stabilitas harga. n hu, ec

Tag :

Berita Terbaru

Jum'at Berkah: Keajaiban Itu Nyata Ada

Jum'at Berkah: Keajaiban Itu Nyata Ada

Jumat, 21 Agu 2026 01:25 WIB

Jumat, 21 Agu 2026 01:25 WIB

SURABAYAPAGI.com – TULISAN kali ini, saya mau berbagi pengalaman tentang keajaiban. Ketika pasrah datang, ketika putus asa menyelimuti, hanya sebutir semangat y…

Agnez Mo Bersanding dengan Bintang The Odyssey

Agnez Mo Bersanding dengan Bintang The Odyssey

Jumat, 21 Agu 2026 01:23 WIB

Jumat, 21 Agu 2026 01:23 WIB

SURABAYAPAGI.com - Agnez Mo berhasil mendulang popularitas internasional setelah tampil dalam serial Reacher Season 4. Namanya melambung di sejumlah platform…

Kemenhaj: Dana Umroh RI Per Tahun Rp 90 Triliun

Kemenhaj: Dana Umroh RI Per Tahun Rp 90 Triliun

Jumat, 21 Agu 2026 01:21 WIB

Jumat, 21 Agu 2026 01:21 WIB

SURABAYAPAGI.com – WAKIL Menteri Haji dan Umrah RI Dahnil Anzar Simanjuntak menyampaikan jemaah umrah di Indonesia setiap tahunnya mencapai 3 juta orang. Satu …

Kemenhaj Kelabakan Urus Dana Haji 14 Juta Riyal Diblokir Pemerintah Arab Saudi

Kemenhaj Kelabakan Urus Dana Haji 14 Juta Riyal Diblokir Pemerintah Arab Saudi

Jumat, 21 Agu 2026 01:19 WIB

Jumat, 21 Agu 2026 01:19 WIB

SURABAYAPAGI.com - Dilansir dari laman resmi Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Mochamad Irfan Yusuf mengungkapkan persoalan…

Purbaya, Dikejar Deadline Laporan Profil Hutang Negara

Purbaya, Dikejar Deadline Laporan Profil Hutang Negara

Jumat, 21 Agu 2026 01:17 WIB

Jumat, 21 Agu 2026 01:17 WIB

SURABAYAPAGI.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa diminta untuk segera melaporkan profil hutang pemerintah pada pelaksanaan APBN 2025. Pasalnya, laporan…

PEJABAT PAJAK TERSANGKA, MENKEU BELA DIRI

PEJABAT PAJAK TERSANGKA, MENKEU BELA DIRI

Jumat, 21 Agu 2026 01:14 WIB

Jumat, 21 Agu 2026 01:14 WIB

SURABAYAPAGI.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa buka suara menanggapi dua pegawai Direktorat Jenderal Pajak (DJP) terseret kasus manipulasi ekspor…