SurabayaPagi, Surabaya – Ketua Umum Pengprov Keluarga Olahraga Tarung Derajat (Kodrat) Jawa Timur Bambang Haryo Sukartono mendorong Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) kembali menyelenggarakan Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas).
Menurut Bambang, keberadaan Popnas penting untuk menjaga kesinambungan pembinaan atlet sejak usia sekolah.
Kompetisi tingkat nasional dinilai tidak hanya menjadi arena mengukur kemampuan pelajar, tetapi juga menjadi wadah bagi daerah untuk menemukan calon atlet berprestasi.
Dorongan tersebut disampaikan Bambang seusai Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Pelajar Tarung Derajat BHS Cup 2026 di GOR CLS Surabaya, 28-30 Agustus 2026.
Ia menilai berbagai kejuaraan pelajar yang digelar oleh organisasi olahraga maupun daerah selama ini memang membantu menjaga aktivitas kompetisi.
Namun, ajang tersebut belum sepenuhnya dapat menggantikan fungsi Popnas sebagai kompetisi olahraga pelajar berskala nasional.
“Yang terpenting adalah kejuaraan antar pelajar ini, nasional, ini sebagai pengganti Popnas. Sebetulnya Popnas ini harus tetap diadakan,” kata Bambang, Minggu (30/8/2026).
Bambang menekankan pembinaan atlet harus dilakukan secara berjenjang. Menurutnya, upaya mencetak atlet berprestasi tidak bisa baru dimulai ketika seorang atlet telah memasuki kelompok senior.
Ia bahkan mendorong proses pembinaan dilakukan sejak tingkat sekolah dasar agar kemampuan atlet berkembang secara bertahap dan memiliki fondasi yang kuat ketika memasuki jenjang lebih tinggi.
“Kalau kita ingin hebat, apalagi untuk bersaing dengan dunia internasional, itu harus sudah mulai dari tingkat sekolah dasar,” ujarnya.
Menurut Bambang, keberadaan kompetisi menjadi bagian penting dari proses tersebut. Pelajar yang menjalani latihan perlu memiliki ruang untuk menguji hasil latihannya melalui pertandingan. Di sisi lain, kompetisi juga membantu pelatih memetakan kemampuan serta potensi atlet dari berbagai daerah.
“Mereka harus belajar keras, mempelajari dengan keras, dan dipertandingkan atau dilombakan. Ini yang penting,” katanya.
Bambang menyebut Popnas terakhir digelar pada 2019. Setelah itu, kompetisi olahraga pelajar tingkat nasional tersebut tidak lagi berlangsung secara rutin seperti sebelumnya.
“Popnas ini mulai dari 2019 sudah tidak ada. Jadi setelah 2019 itu sudah ditiadakan lagi,” tuturnya.
Kondisi tersebut membuat sejumlah organisasi olahraga, perguruan, dan pemerintah daerah berinisiatif menyelenggarakan kompetisi secara mandiri.
Kejuaraan-kejuaraan tersebut menjadi salah satu cara untuk mempertahankan kesempatan bertanding bagi atlet pelajar.
Namun, Bambang menilai kompetisi yang digelar secara mandiri lebih tepat diposisikan sebagai pelengkap. Menurutnya, dibutuhkan kembali sebuah kompetisi nasional yang secara khusus memberikan ruang kepada atlet pelajar dari berbagai daerah untuk bertemu dan berkompetisi.
“Perguruan sendiri ataupun provinsi yang ada, seperti BHS dan sebagainya, ini hanya sebagai pelengkap saja,” katanya.
Karena itu, Bambang berencana menyampaikan aspirasi tersebut kepada Kemendikdasmen.
Ia berharap pemerintah kembali membuka ruang kompetisi nasional bagi atlet pelajar sehingga proses pencarian dan pembinaan bibit atlet dapat berjalan lebih terarah.
“Saya akan mendorong ke Kementerian Pendidikan agar Popnas ini diadakan lagi. Ini sarana untuk memunculkan bibit-bibit baru dan mereka punya semangat untuk berlatih karena dipertandingkan,” ujarnya.
Sementara itu, Jawa Timur keluar sebagai juara umum Kejurnas Pelajar Tarung Derajat BHS Cup 2026 yang berlangsung di GOR CLS Surabaya.
Kontingen Jawa Timur mengoleksi tiga medali emas, empat perak, dan dua perunggu. Posisi kedua ditempati Nusa Tenggara Barat (NTB), sedangkan Bali berada di peringkat ketiga.
“Juara umum satu adalah Provinsi Jawa Timur dengan tiga emas, empat perak, dan dua perunggu. Juara umum dua NTB, kemudian juara umum tiga Provinsi Bali,” kata Bambang.
Menurut dia, capaian tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan hasil pertandingan. Kejuaraan pelajar juga menjadi bagian dari proses pemantauan atlet yang memiliki potensi untuk dikembangkan menuju jenjang senior.
“Dari sini kita bisa melihat atlet-atlet yang berpotensi untuk jenjang yang lebih tinggi, yaitu senior. Kami harapkan mereka menempa diri untuk menjadi atlet-atlet yang hebat nantinya,” katanya.
Sang Guru Muda Perguruan Pusat Tarung Derajat Rimba Dirgantara menilai BHS Cup 2026 juga memperlihatkan perkembangan positif dari sisi kualitas pertandingan.
Menurut Rimba, para atlet pelajar yang tampil dalam kejuaraan tersebut telah menunjukkan kemampuan teknik yang semakin baik.
Perkembangan tersebut menjadi indikator bahwa proses pembinaan di tingkat daerah mulai menghasilkan atlet dengan kualitas kompetitif.
“Alhamdulillah pertandingan telah selesai. Dari segi kualitas menunjukkan teknik-teknik yang bagus untuk usia pelajar-pelajar ini,” ujar Rimba.
Ia juga melihat terjadi perubahan dalam peta persaingan Tarung Derajat di tingkat nasional. Prestasi tidak lagi terkonsentrasi di wilayah barat, karena sejumlah daerah di kawasan timur mulai mampu bersaing dan meraih hasil positif.
“Biasanya juara-juara selalu di barat. Sekarang ke timur. Apalagi nanti PON juga adanya di timur. Mudah-mudahan prestasi ini bisa terus bertahan atau semakin ditingkatkan,” katanya.
Rimba menilai pemerataan tersebut menunjukkan perkembangan pembinaan Tarung Derajat di berbagai wilayah Indonesia.
Penyebaran perguruan dan pembinaan atlet yang semakin luas membuat persaingan nasional menjadi lebih terbuka.
“Penyebaran Tarung Derajat ini tidak ditentukan karena perguruan pusatnya ada di barat. Sekarang sudah sangat menyebar dan sudah merata,” tuturnya.
Editor : Redaksi