Beginilah Suroboyo Bus saat hendak menaik turunkan penumpang. Foto: SP/Raditya M. Khadaffi

Pada 14 April 2018 kemarin, bertepatan hari libur Nasional, tepat satu minggu, peluncuran Suroboyo Bus di tengah-tengah masyarakat kota Surabaya. Suroboyo Bus, digadang-gadang menjadi transportasi massal baru di kota Pahlawan. Selain sebagai transportasi massal (mass-transportation), juga disiapkan membantu pengusaha kecil menengah. Apakah Suroboyo Bus ini bisa efektif untuk dilaksanakan di Surabaya? Lebih baik mana, Suroboyo Bus atau Trem yang juga jadi rancangan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini? Berikut Catatan Perkotaan oleh wartawan Surabaya Pagi, Raditya Mohammer Khadaffi, yang baru saja mencoba berkeliling dengan Suroboyo Bus selama dua jam, pada saat hari libur Isra’ Miraj, Sabtu kemarin.



Catatan Arek Suroboyo, oleh: Raditya M. Khadaffi, Wartawan Surabaya Pagi



Peluncuran Suroboyo Bus, 7 April 2018 lalu, mendapat perhatian lebih dari warga kota Surabaya. Apalagi desain bus berwarna merah ini terbilang lebih menarik dari Bus Patas yang ada saat ini, bahkan lebih bagus ketimbang Busway milik Trans Jakarta milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Ada yang menarik saat peluncuran Suroboyo Bus, yang ditargetkan menjadi transportasi massal di kota terbesar kedua di Indonesia ini. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, dalam peluncurannya, yang ditemani oleh Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setiawan, Kepala Kejari Surabaya M Teguh Darmawan, dan Danrem 084/Bashkara Jaya Kolonel Kav M Zulkifli, berharap Suroboyo Bus ini bisa mengurangi kemacetan.

Saat ini, rutenya masih dari Surabaya Utara (Terminal Rajawali) ke Surabaya Selatan (Terminal Purabaya).

Risma menargetkan, adanya Surabaya Bus ini agar pengendara kendaraan pribadi mulai perlahan menggunakan transportasi massal. "Perbandingan kendaraan pribadi dengan transportasi massal saat ini 75 persen dan 25 persen dan kalau sampai tembus angka 90 persen maka jalan di Surabaya akan berhenti. Idealnya 50 banding 50," harap Risma, saat peluncuran Suroboyo Bus, Sabtu, 7 April 2018 lalu.

Nah, Sabtu, 14 April 2018 kemarin, saya meniatkan diri untuk naik Suroboyo Bus dengan istri saya. Sudah menyiapkan beberapa sampah botol plastik dari rumah. Kebetulan saat ini, jika ingin naik dan atau menggunakan jasa transportasi massal ini, cukup memakai sampah botol plastik sebagai tiket Suroboyo Bus. Ide Wali Kota Risma ini sebuah terobosan, dan memberikan peluang untuk para pengusaha sampah plastik.

Tiket “Sampah botol plastik” ini bisa berdurasi selama dua jam. Bahkan bisa putar dari terminal Rajawali hingga terminal Purabaya. Pulang pergi bila ingin keliling kota Surabaya. Dan saya yakin, Suroboyo Bus ini bisa lebih sukses sebagai transportasi massal di Surabaya ketimbang Trem Suroboyo yang saat ini, “katanya” akan dilelang oleh Swasta.

Namun sayangnya, ada beberapa catatan saya untuk Dinas Perhubungan (Dishub) kota Surabaya dan Wali Kota Risma untuk memperbaiki Suroboyo Bus ini. (Dan sekali lagi, lebih baik, fokus dalam pengembangan, pembenahan dan legalisasi Suroboyo Bus ini. Gak perlu ada Trem Suroboyo lagi yang menurut saya, proyek nostalgia).

---


*


Juga kondisi Suroboyo Bus, yang dibedakan tempat wanita dan pria.

*

Catatan untuk memperbaiki sistem Suroboyo Bus ini yakni untuk segera meng-update aplikasi GoBis (jujur, saat ini aplikasi ini masih belum berfungsi banyak), sistem tiketing bila menggunakan sampah botol plastik, serta menjaga dan mengatur psikologi dan perilaku masyarakat kota Surabaya.

Selama hampir 2 jam saya muter keliling dengan Suroboyo Bus ini, interior di dalam bus merah ini lebih diatas Busway. Tapi, (ada tapinya yahh…), sistem tiketing masih belum berjalan baik. Masih banyak penumpang-penumpang yang masih belum disiplin. Mereka masih melihat Suroboyo Bus ini seperti bus Damri dalam kota selama ini. Asal naik, bayar terakhir atau masuknya gerudukan.

“Bu, dhisikan awakku. Aku ket mau lho tekone. Pindah nang ndukur ae, bu!” celoteh seorang ibu-ibu kepada sesama ibu setengah baya, yang saya perhatikannya masuknya bersamaan.

Hal-hal seperti ini, selama 2 jam saya keliling Suroboyo Bus, sering saya jumpai. Bahkan, petugas “kondektur” Suroboyo Bus yang hanya satu, kuwalahan. Apalagi yang dihadapi, Ibu-ibu. Sementara, Suroboyo Bus sendiri dibedakan tempatnya sesuai gender. Untuk wanita, setengah bus ke depan, dan untuk penumpang pria, setengah bus ke belakang. Juga disediakan untuk penumpang disabilitas seperti pengguna kursi roda.

Saya tau, ini masih seminggu dan masih dalam tahap uji coba. Dan memang tak mudah mengubah perilaku masyarakat seperti memutar telapak tangan. Ditambah armada Suroboyo Bus masih 8 unit, untuk dipakai dari jalur rute utara ke selatan.

Saran saya, Bu Risma ini segera fokus mengembangkan Suroboyo Bus. Tambah armada, perbaiki sistem informasinya, dan sosialisasi ajak masyarakat Surabaya menggunakan transportasi massal ini.

---

Saya lihat, konsep Surabaya Bus ini perpaduan bus Singapura dan bus di Jerman. Apalagi kalau Pemkot serius mengubah aplikasi GoBis, yang saat ini, terbilang belum optimal. Serta ikut menambah jalur dan akses Suroboyo Bus di setiap jalur rute serta menambah armada. Hal ini sangat perlu, bila ingin target pemakai kendaraan pribadi bisa berkurang 50 persen dan berbagi dengan transportasi massal.

Contohnya, antara di Singapura dan Jerman. Kedua negara ini saya ambil contoh karena Singapura, sebagai negara tetangga kita, dan Jerman, negara paling maju di sektor penanganan transportasinya. Integrasi kedua negara itu cukup imbang. Yakni menciptakan lebih banyak koneksi dalam transportasi massal serta memberikan kenyamanan dan rasa aman pada masyarakat.

Untuk tiket, bila memang menggunakan sampah botol plastik, (saya setuju), tinggal bagaimana memberikan paket-paket layanan seperti tiket terusan, tiket pelajar, tiket pekerja dan tiket turis. Tiket ini nantinya juga bisa integrated dengan Kereta Komuter yang menghubungkan Surabaya-Sidoarjo.

Juga disiapkan ATM Sampah, yang disiapkan di setiap halte-halte bus, dan beberapa terminal penting, di terminal Purabaya, terminat Rajawali, dan juga stasiun kereta api. Di Singapura dan Jerman sendiri, juga sudah banyak mesin penjual tiket otomatis. Bedanya mereka menjual tiket dengan uang, sementara di Surabaya, berupa penukaran sampah botol plastik.

Pemkot juga mencontoh teknologi transportasinya Jerman, yang dikelola DB Bahn (KAI-nya Jerman tetapi juga mengurusi Bus kota selain Kereta). DB Bahn ini terintegrasi dengan kereta jarak jauh, kereta jarak pendek, dan bus kotanya. Lengkap mulai pemesanan tiket onlinenya, tempat pemberhentian busnya, hingga mencari nearby atau keberadaan bus di sekitarnya.

Tinggal, bagaimana Pemkot Surabaya serius mengembangkan Suroboyo Bus ini menjadi transportasi massal yang unggul, kebanggan masyarakat kota Surabaya dan tujuan utamanya, menekan kemacetan.

Pemkot Surabaya melalui Wali Kota Surabaya, Dishub Surabaya, KAI, dan legislatif, untuk merancang payung hukum dan menyiapkan infrastruktur transportasi massal. Selain juga swasta, dan para pengusaha muda Surabaya untuk menciptakan sistem informasi. Apalagi kini, Pemkot juga sudah menciptakan Go Parkir, yang berfungsi sebagai tempat parkir massal. Iki wis cocok!

Saiki, tinggal bagaimana keseriusannya. Saya yakin, Suroboyo Bus menjadi transportasi massal yang ampuh ketimbang proyek nostalgianya Trem Suroboyo. Semoga saja bisa terealisasi dan mendengar masyarakat Suroboyo yang memang butuh transportasi massal. Amin. (radityakhadaffi@gmail.com)