•   Minggu, 5 April 2020
Catatan Politik Tatang

Berhentilah Bersih-bersih Selokan saat Banjir, Tapi Benahi Manajemen Perkotaan

( words)


Surat Terbuka untuk Walikota Risma, yang Suka Turun Lapangan Saat Banjir
Pengantar :
Banjir di kota Surabaya beberapa kali awal tahun 2020 ini telah menggegerkan warga Surabaya. Maklum, langganan banjir kali ini melanda kawasan yang dianggap sangat jarang dilanda banjir. Benarkah ini wajah buruknya saluran drainase di Surabaya? Atau kesalahan penataan ruang dan bangunan selama bertahun-tahun. Seberapa jauh Walikota Risma, dalam dua periode ini membenahi tata ruang kota terkait penanganan banjir, agar tidak menyiksa warga kota terus menerus. Aspek pembenahan tata kota terkait banjir ini selama ua periode kepemimpinannya belum pernah dikritisi wakil rakyat?. Apakah ini efek dari oligarki politik? Sebaliknya Walikota Risma, setiap banjir, suka turun ke lapangan bersih-bersih selokan. Apakah ini yang mesti dilakukan oleh seorang walikota yang kitanya tak pernah sepi oleh banjir. Apakah suka turun ke lapangan bersih-bersih selokan sambil hujan hujan seperti selama ini agar bisa mencitrakan diri? Benarkah turun ke lapangan saat banjir merupakan teknik pencitraan? Apakah layak teknik pencitraannya bagian membangun sebuah brand, walikota blusukan?.

Terkait politik pencitraan, ada hal yang kadang dilupakan seorang kepala daerah yaitu bakal mendapat tanggapan dari masyarakat yang kritis? Apakah praktik seperti yang dilakukan Risma, hasil dari masukan bahwa masyarakat kelas bawah masih suka dengan sosok kepala daerah yang bergaya merakyat?

Dalam beberapa kali saya bertemu denga informal leader, sebaiknya walikota Risma, menghentikan politik pencitraan. Sebaliknya, memikirkan solusi banjir, bukan memanfaatkan banjir langsung turun ke jalan bersih-bersih selokan. Ada baiknya, walikota Risma, fokus bekerja mengatasi masalah banjir mengingat kemungkinan curah hujan yang lebih besar masih mungkin terjadi dalam beberapa waktu ke depan. Wartawan senior Surabaya Pagi, H. Tatang Istiawan, mengkritisi masalah politik pencitraan saat banjir, dalam beberapa tulisan. Berikut tulisan pertamanya.

Bu Risma,
Hujan, hari Jumat dan Sabtu sore minggu lalu (31/01 dan 01/02), telah menyusahkan saya dan sejumlah warga kota Surabaya lainnya. Dua hari ini dari Juanda ke rumah saya di kawasan Kupang Indah, ditempuh empat jam. Kemudian hari Sabtu, perjalanan dari Ciputra World ke Kupang Indah, dua jam lebih.
Padahal hujan tak lebih dua jam dengan intensitas sedang. Faktanya, dengan durasi hujan 2-3 jam saja, telah membuat genangan dan banjir di beberapa titik kota Surabaya.
Hal yang tidak bisa dibantah, hujan akhir Januari telah mengakibatkan sejumlah titik banjir dan tergenang. Warga kota dirugikan oleh
Curah hujan dengan kategori ekstrem.
Perjalanan saya dua hari itu, genangan air memiliki Ketinggian yang bervariasi. Mulai 5 cm hingga 40 cm atau setinggi ban mobil.
Jalan-Jalan yang tergenang air yakni Jalan Kutai, Jalan Bogowonto, Jalan Opak, Jalan Cisadane dan Jalan Dr Soetomo, melebar ke kawasan yang selama ini aman, seperti Kawasan Ngagel, Pucang, dan Kupang Indah. Dan ruas jalan yang tergenang air itu membuat lalulintas makin macet.
Saya keluar dari Juanda sejak sore pukul 17.30 hingga pukul 21.20 wib, jalanan Surabaya masih macet. Banyak warga memilih berhenti di tengah jalan menunggu genangan air surut.
Gambaran ini yang menurut saya mesti menjadi perhatias Anda sebagai walikota, bukan ikut bersihkan selokan yang buntu. Pekerjaan ini adalah tugas tukang bersih selokan yang jaman walikota Purnomo Kasidi, dikenal pasukan kuning.

Bu Risma,
Hadapi musim penghujan, beberapa wilayah di Surabaya yang sempat terendam banjir, akal sehat saya berkata mesti digali sumbernya. Berapa persen banjir di Surabaya akhir-akhir ini dipengaruhi oleh faktor alam yaitu perubahan iklim yang cukup ekstrim? Berapa persen oleh perilaku manusia? Berapa persen menyuangkut manajemen tata kota mengentas banjir, terutama dalam menyediakan sumur resapan (biopori) di sekitar permukiman.
Mengingat.saya sebagai warga kota Surabaya sejak kecil, mencatat permasalahan banjir di ibu kota provinsi Jatim bukanlah permasalahan baru kali ini saja.
Konon sejak zaman pemerintahan kolonial Hindia Belanda sudah ada banjir, sehingga pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu sudah merencanakan proyek Banjir Kanal.
Menggunakan akat sehat, sebagai kepala daerah, Anda bisa mencari penyebab utama ada apa
Kawasan-kawasan yang tadinya tidak terkena banjir dalam tiga tahun terakhir, sekarang ikut terendam banjir?.
Peristiwa banjir saat ini menurut akal sehat saya apakah bukan karena sistem yang ada tidak mampu menghadapi kondisi cuaca ekstrem. Artinya, kota Surabaya, dengan curah hujan antara 50-100 mm dalam durasi dua jam sudah banyak genangan. Ada apa?

Bu Risma,
Secara geografis, Kota Surabaya terletak di hilir sebuah Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas yang bermuara di Selat Madura.
Beberapa sungai besar yang berfungsi membawa dan menyalurkan banjir yang berasal dari hulu mengalir melintasi Kota Surabaya, antara lain Kali Surabaya dengan Q rata2 = 26,70 m3/detik, Kali Mas dengan Q rata2 = 6,26 m3/detik dan Kali Jagir dengan Qrata2 = 7,06 m3/detik.
Sebagai daerah hilir, Kota Surabaya dengan sendirinya merupakan daerah limpahan debit air dari sungai yang melintas dan mengakibatkan terjadinya banjir pada musim penghujan.
Apakah aspek geografis semacam ini bisa dinilai kota Surabaya kurang bisa beradaptasi dengan bencana, terutama banjir yang masih menjadi permasalahan setiap musim hujan.
Akal sehat saya, kondisi seperti ini sebenarnya bukan membutuhkan Anda turun ke lapangan ikut bersih-bersih selokan sampah?
Anda mesti mengajak stakeholder kota Surabaya mencari penyebab banjir dan genangan air. Termasuk perubahan atau alih fungsi lahan oleh beberapa perusahaan property.
Maklum, saya arek Surabaya asli yang lahir di Surabaya sejak tahun 1956. Saya mencatat ada beberapa area hijau, seperti kebun dan persawahan sekarang difungsikan sebagai area permukiman.
Padahal, dulunya area hijau ini memiliki daya serap yang cukup besar ketika musim penghujan datang. Kata teman saya yang ahli tata kota di Universitas Petra, ketika dibangun permukiman maka daya serapnya berkurang.
Anda juga bisa mengevaluasi bencana di Surabaya akankah semakin memburuk yang tidak sepadan dengan anggaran yang telah dicuil dari APBD kota Surabaya? Seberapa jauh hasil yang bisa didapat bila banjir masih menyiksa warga, atas perbaikan fasilitas seperti drainase dan normalisasi sungai.
Lalu, salahkah bila ada warga Surabaya atau politisi dari partai diluar parpol pengusung Anda mengkritiki Anda dikaitkan dengan politik.
Akal sehat saya juga mengatakan mengkaitkan banjir dengan politik bukan hanya kurang tepat, namun juga tidak akan menyelesaikan masalah.
Tapi masalah banjir tetap bisa dimasuki orang dengan pemikiran politik. Maklum, Anda adalah pejabat politik dan bukan lagi pejabat karir.

Bu Risma,
Saat saya sekolah SMP-SMA, diajarkan bahw banjir merupakan masalah hidrologis, di mana sifat air adalah selalu bergerak dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah.
Surabaya, secara alamiah merupakan jalur aliran sunngai Kalimas .
Konon beberapa pakar tata kota menyebut dibutuhkan proyek normalisasi dan naturalisasi sungai. Tidak hanya sungai kembali normal secara fungsinya sebagai saluran air, namun juga kembali natural sebagai bagian dari ekosistem dan keseimbangan alam.
Akal sehat saya menyarankan kepada Anda, saatnya berhenti pencitraan turun bersih bersih selokan atasi luapan banjir. Apalagi dengan beberapa kali banjir yang menerpa hampir semua kawasan di Surabaya. Dalam pengamatan saya, selokan buntu di sebuah kawasan itu temporer. Tapi manajemen tata kota atasi banjir adalah kompetensi Anda.
Saya mengingatkan Anda, turun ke jalan saat hujan menimbulkan banjir dimana-mana, bisa dianggap ingin memelihara dan merangkai pencitraan publik demi ingin mengeruk kepentingan politik jelang pilkada 2020.
Akal sehat sebagai walikota dua periode Risma mesti sudah mengetahui kalau banjir adalah salah satu persoalan Surabaya, yang kronis. Positifnya mesti warga kota diberi program mengatasi banjir yang membuktikan ada hujan ekstrim sekalipun Surabaya tak lagi diperparah banjir dan kemacetan. Menggunakan semangat kepala daerah yang sportif, Risma tak usah malu lah mengaku dirinya gagal atasi banjir, tapi sukses bikin penghijauan kota.
Justru yang kini menjadi pertanyaan adalah sekarang ini apa kesiapan Anda dalam melakukan antisipasi banjir di musim hujan tahun 2020 dan seterusnya. Bukan pencitraan bersih bersih selokan kota saat banjir dan memviralkan. Pola semacam ini tak keliru dituding pencitraan. (bersambung, tatangistiawan@gmail.com)

Berita Populer