•   Jumat, 6 Desember 2019
Kriminal

DOLLY MASIH HIDUP

( words)
Perempuanperempuan dijadikan PSK oleh dua tersangka. Foto SP/Robert


Mucikari dan PSK Beroperasi di Gang Sebelah Eks Dolly. Tarifnya Rp 300 Ribu Sekali Kencan

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Siapa bilang, upaya Pemkot Surabaya menutup lokalisasi Dolly tahun 2014 silam tuntas. Buktinya, bisnis esek-esek di sana, masih ada meski praktiknya terselubung. Fakta itu terungkap setelah Polrestabes Surabaya membongkar bisnis prostitusi seks terselubung itu, Minggu (21/1/2018) dini hari. Dua mucikari dan tiga PSK (pekerja seks komersial) diamankan. Fakta ini menegaskan, bahwa Dolly masih 'hidup'.
-------------------
Laporan : Narendra Bakrie

Prostitusi terselubung di eks lokalisasi dolly itu, dibongkar oleh Unit PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak) Satreskrim Polrestabes Surabaya. Dipimpin Kanit PPA AKP Ruth Yeni, tim ini menggerebek bekas wisma disana. Yaitu Wisma New Borneo Karaoke. Mereka mengepung wisma itu sekitar pukul 00.10 Wib. Mereka langsung masuk ke tiga kamar yang diinformasikan menjadi tempat para PSK melayani para pria hidung belang.
Informasi itu ternyata benar. Tim PPA menangkap basah 3 PSK dalam 3 kamar berbeda sedang asyik melayani tamunya. 3 PSK dan 3 pria penikmat jasa lendir ini pun diamankan. Tidak hanya itu, dua pria yang menjadi mucikari para PSK itu, akhirnya turut diringkus. Kedua mucikari itu bernama Basuki (30) dan Tasipin (29). Keduanya merupakan warga asal Tuban. Mereka pun digelandang ke Mapolrestabes Surabaya untuk diperiksa.
Dibongkarnya bisnis esek-esek oleh Unit PPA ini pun diapresiasi oleh Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Rudi Setiawan. Menurutnya, ungkap itu merupakan hasil dari upaya Polrestabes Surabaya memantau eks lokalisasi dolly selama ini. Dan ungkap tersebut merupakan upaya Polrestabes Surabaya untuk membuat eks lokalisasi Dolly, agar benar-benar bersih dari maksiat.
"Siapapun yang mencoba menumbuhkan kembali masa kelam (bisnis prostitusi) itu, akan kami sikat," tegas Kombes Pol Rudi Setiawan, kemarin.
Alumnus AKPOL (Akademi Kepolisian) tahun 1993 itu juga memastikan, pihaknya akan bekerja sama dengan Pemkot, ulama, tokoh masyarakat serta pihak-pihak lain untuk menjadikan eks lokalisasi dolly benar-benar bebas dari praktik maksiat.
Modus Terselubung
Sementara itu, dari hasil pemeriksaan penyidik, Kasatreskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Sudamiran mengungkapkan jika praktik yang dilakukan dua mucikari itu sudah berjalan sekitar 2 tahun. Dalam bisnisnya, kedua mucikari mencari sasaran pelanggan dengan cara melambaikan tangan. Untuk mengelabuhi polisi, mereka (para mucikari dan PSKK) tidak menempati wisma yang digunakan untuk melayani tamu.
"Jadi, para mucikari dan PSK ini berada di gang sebelah eks Dolly. Setelah dapat pelanggan, mereka baru menjemput PSK dan mengantarkan pelanggan ke wisma itu," beber AKBP Sudamiran.
Khusus untuk kasus ini, lanjut AKBP Sudamiran, mucikari memasang harga antara 200 hingga 300 ribu sekali kencan. Tarif itu akan dipotong biaya 40 ribu untuk sewa kamar wisma dan 120 ribu untuk PSK. Sedangkan sisanya, akan diambil oleh mucikari. Dalam sehari, 2 mucikari itu bisa mendapat pelanggan antara 3 hingga 6 orang.
"Mereka (para mucikari dan PSK) mulai standby pukul 20.00 Wib hingga dini hari," sebut AKBP Sudamiran.

Berita Populer