Larung Sesaji Gunung Kelud, Menjadi Daya Tarik Tersendiri

surabayapagi.com
SURABAYAPAGI.com, Kediri - Tradisi larung sesaji Gunung Kelud menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Yang menjadi unik yakni tradisi warga lereng Kelud di bulan suro dalam mewujudkan rasa syukur kepada sang pencipta dengan hasil bumi yang mereka miliki. Sejumlah masyarakat dan para wisatawan tampak antusias mengikuti rangkaian acara larung sesaji yang digelar Pemerintah Kabupaten Kediri, Sabtu (30/9/2017). Kegiatan berpusat di area parkir paling atas kawasan wisata Gunung Kelud atau berada satu kilometer dari bibir kawah Kelud. Ada 5 warga desa yang mengikuti larung ini, Desa Sempu, Babadan, Sugihwaras, Pandantoyo dan Ngancar. Seperti biasanya, gunungan sesaji yang berisi hasil kekayaan alam atau hasil bumi dari lereng kelud, seperti buah nanas, ubi, nangka, pisang serta nasi lengkap dengan lauknya sebagian akan direbutkan. Ditahun sebelumnya, tradisi ini warga melarung sesaji tersebut ke kawah Gunung Kelud. Namun karena kondisi kawah sudah berbeda pasca erupsi tahun 2014 lalu, sesaji akan direbutkan dilokasi ritual. Masyarakat dan wisatawan sangat tertarik kepada gunungan, selain karena dipercaya akan mendapatkan berkah, gunungan juga dibentuk menyerupai ayam jago Jaminem, (40) warga setempat yang juga ibu 3 anak ini merasa akan mendapatkan berkah, kesehatan dan keselamatan jika berhasil mendapatkan sesaji usai didoakan oleh sesepuh dan pemuka agama di lereng Kelud. "Alhamdulillah, saya dapat buah nanas, dan nasi lauk usai didoakan mas, semoga.kedepannya saya mendapat berkah," ucapnya. Plt Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kediri Adi Suwignyo mengatakan, ritual larung sesaji adalah ritual tahunan yang digelar oleh masyarakat lereng kelud sejak dulu, setiap bulan suro sesuai penanggalan Jawa. Mitos yang berkembang di masyarakat ritual sesaji di Gunung Kelud merupakan simbol penolak bala dari kemarahan Lembu Suro, salah satu punggawa kerajaan Majapahit yang gagal mempersunting putri Raja Kadiri, Dewi Kilisuci. Bahkan masyarakat percaya roh Lembu Suro bersemayam di dasar kawah Kelud. "Jadi ini benar benar melestarikan tradisi budaya dan kepercayaan warga sekitar, sekaligus menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Gunung Kelud," jelasnya. Rencananya di tahun berikutnya ritual larung sesaji kembali digelar di kawah kelud. Mulai saat ini Pemkab Kediri terus mengebut pengerjaan normalisasi lahar Gunung Kelud. Bahkan, tidak hanya kawah, wisata Gunung Kelud juga terus dikembangkan untuk terus menggaet wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Adv/kominfo/can

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Kamis, 05 Mar 2026 19:47 WIB
Jumat, 06 Mar 2026 18:38 WIB
Jumat, 06 Mar 2026 18:28 WIB
Berita Terbaru