Siapkan 1000 Tenaga Medis Kerja di Luar Negeri

surabayapagi.com
SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Kebutuhan tenaga kerja di sector medis seperti perawat ternyata sangat dibutuhkan di luar negeri. Menurut data BP2TKI (Balai Pelayanan dan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia), setiap tahun kebutuhan untuk tenaga perawat di luar negeri mencapai 20 ribu sampai 25 ribu tenaga kerja. Kepala BP2TKI, Nusron Wahid saat bertugas di Surabaya, kemarin (3/10) mengatakan, bahwa permintaan tenaga medis dan perawat dari luar negeri cukup besar. Permintaan itu datang dari Jepang, Taiwan, Australia dan Negara-negara di Timur Tengah. “Dari kesempatan kerja tenaga perawat yang sangat besar itu, selama ini hanya terpenuhi sekitar 2000 orang saja, dan jawa Timur hanya sekitar 500 tenaga,” ungkap Nusron Wahid, saat hadir dalam sosialisasi Penempatan tenaga Medis dan Perawat untuk Australia dan Taiwan di UPT P3TKI Disnakertransduk Jatim, Jl Bendul Merisi Surabaya, kemarin. Ia berharap di Jawa Timur ini, dari total sekitar 3000 lulusan tenaga medis dan perawat, sekitar 15%- 20% bisa dipersiapkan untuk menjadi tenaga kerja ke Luar Negeri. Sebagai bagian dari tenaga kerja kelas formal. “Kita memang sedang mencari sumber-sumber suplai tenaga kerja di sektor formal. Ada di lembaga pendidikan, SMK, Politeknik, Training Centre pemerintah dan swasta. Itu saja tidak cukup. Kita butuh satu terobosan lagi adjustment Training dalam arti upskill,” papar Nusron. Dijelaskannya, adjustment training tenaga kerja ini selain dilatih hard skill juga butuh soft skill terutama pelajaran Bahasa asing dan attitude. Karena rekrutmen atau persyaratan yang dibutuhkan oleh tenaga kerja di luar negeri biasanya selain kemampuan dan persyaratan technical atau keahlian yang sudah dimiliki. “Aspek sikap personal dan bahasanya juga penting. Terutama di bidang jasa,” jelasnya. Indonesia, kata Nusron mempunyai andalan tenaga kerja yang diminati orang luar negeri. Pertama adalah perawat, kedua adalah hospitality dan welder (tenaga las). “PErawat dan hospitality terkait dengan pelayanan kepada manusia, jadi cara upskill pelatihannya juga pasti berbeda. Supaya tenaga kerja kita lebih kompetitif di mata dunia,” harapnya. Untuk mewujudkan hal itu, pihaknya bekerja sama dengan Disnakertrans Jatim, SMK dan lembaga lainnya untuk melakukan Konsep BP2TKI. Yakni training, sertification dan placement. Pihaknya optimis dengan Jawa Timur karena jumlah calon tenaga kerjanya besar, BLK, kampusnya, Politeknik dan SMK cukup banyak. Sehingga bisa menjadi lumbung tenaga kerja formal untuk luar negeri yang bergaji tinggi dan beresiko rendah. “Tidak hanya menjadi lumbung TKI yang bekerja di sektor domestic yang resikonya tinggi dan bergaji rendah,” pungkasnya. Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jawa Timur Setiajit menyebut bahwa kebutuhan tenaga medis dan perawat di luar negeri ini sebagai tantangan yang menarik. Karena selama ini lulusan STIKES dan AKPER focus hanya bekerja di Rumah sakit lokal. “Kita diminta oleh BP2TKI untuk menambah lagi tenga formal medis dan perawat dari 500 orang menjadi 1000 orang, kita akan coba,” ucap Setiadjit semangat. Tentunya, kata Setiadjit, pihaknya menyiapkan dulu tenaga-tenaga yang memenuhi standar di Negara yang bersangkutan. Mulai dari Bahasa dan attitudenya. “Petunjuk dari Pak Gubernur (Soekarwo), tahap awal yang dikirim adalah punya pengalaman di RSUD. Lalu perawat yang fres graduate menjadi perawat di RSUD yang sudah dikirim ke Luar negeri, begitu seterusnya,” pungkas mantan Kabiro Organisasi Jatim ini. rko

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Kamis, 05 Mar 2026 19:47 WIB
Jumat, 06 Mar 2026 18:38 WIB
Jumat, 06 Mar 2026 18:28 WIB
Berita Terbaru