SURABAYAPAGI.com, Jakarta- Maulana mengeluh pelayanan petugas SPBU Pertamina saat mengisi bensin. Bukan soal harga atau takaran. Dia merasa kecewa petugas SPBU Pertamina tak utuh mengembalikan uangnya. Tak sesuai nominal.
Maulana waktu itu mengaku memang sering mengisi bensin di SPBU sekitar Jagakarsa, Jakarta Selatan. Biasanya dua sampai tiga kali seminggu. Sebenarnya kawasan itu bukan rute pulang kerja Maulana.
Ketika itu, seingat Maulana, nominal pada mesin bensin menunjukkan angka lebih kurang Rp 17.640. Angka itu sulit buat kasih kembalian. Dia memilih bensin jenis Pertamax seharga Rp 8.250 per liter.
Petugas mulai mempersiapkan mesin bensin. Maulana sudah membuka jok dan lobang bensin motor miliknya. Selan bensin dimasukkan dan petugas mulai mengisi tangki. Sesaat bensin mulai penuh, petugas menghentikan pengisian. Alat pengisi bensin dicabut. Indikator liter bensin berhenti pada angka 2 liter lebih. Dia membayar memakai uang Rp 20.000.
Di sini dia merasa aneh. Petugas hanya mengembalikan Rp 2.000. Motor sudah maju. Antrean di belakangnya sudah mengisi posisinya. Maulana sempat terdiam di atas motor. Mengerutkan dahi. Dia bingung. Lalu melihat wajah petugas pom bensin. Sementara, kata Maulana, ekspresi petugas itu tetap tenang. Malah sudah melayani konsumen lainnya. Padahal masih ada sisa Rp 360, duit kembalian Maulana.
"Habis bilang terima kasih dan kasih kembalian, ya sudah tidak dijelaskan lagi sama dia (petugas)," ujarnya. Berselang dua hari, kejadian itu terulang lagi. Masih di lokasi sama, namun petugas beda. Lagi-lagi hak Maulana tidak kembali sepenuhnya.
Jumat malam pekan lalu kami mencoba mengisi bensin di tempat lain. Meski masih di wilayah Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Kami memakai kendaraan roda dua. Memilih bensin jenis Pertalite seharga Rp 7.500 per liter. Saat itu antrean pengendara cukup panjang.
Beberapa menit antre, akhirnya kami mendapat giliran. Seorang lelaki lengkap menggunakan seragam warna merah dengan logo Pertamina menyambut kedatangan kami. "Selamat malam, mau isi berapa?" kata petugas itu. Lalu kami menjawab, "isi penuh."
Dengan sigap petugas itu menarik alat pengisi bensin dari mesin. Sambil menunjuk meteran di mesin. "Mulai dari nol ya," ucapnya.
Sambil menunggu, kami melihat nominal di mesin pengisian tidak ada kejanggalan. Berjalan normal. Tidak terlalu cepat, maupun lambat. Akhirnya tangki motor kami terisi penuh. Sekitar 2 liter lebih dengan total harga Rp 15.365. Lalu si petugas itu mengatakan kepada kami, "sudah cukup, Rp 16 ribu mas," ujarnya sambil menarik alat pengisian BBM dan meletakkan kembali ke mesin.
Kami pun membayar dengan uang Rp 17.000. Pecahan uang Rp 10.000, Rp 5.000 dan Rp 2.000. Petugas itu memberi uang kembalian. Mereka hanya menyerahkan lembaran uang Rp 1.000. Padahal masih tersisa uang Rp 635. Kami lantas bertanya soal duit kembalian ini. Petugas itu dengan santai menjawab, "uang recehnya enggak ada lagi," tegas dia.
Kami juga meminta struk bukti pengisian. Ternyata mesin tersebut rusak dan baru diberitahu petugas setelah kami selesai mengisi. "Mohon maaf, mesinnya rusak sudah lama, adanya struk manual," tegasnya. Lantaran antrean masih panjang di belakang, kami langsung melanjutkan perjalanan. Sehingga tidak mengurus struk manual.
Pada hari sebelumnya kami mencoba SPBU Shell di bilangan Margonda, Depok. Kami pun meminta petugas mengisi penuh. Memilih bensin jenis Super atau sekelas Pertamax. Harganya Rp 8.600 per liter. Atau lebih malah Rp 350 di banding Pertamax. Di sana kami juga meminta petugas mengisi penuh. Perlahan tangki kendaraan roda dua kami mulai penuh. Angka masih ganjil. Petugas SPBU Shell lalu menekan tombol pada mesin. Memastikan nominal harga berhenti dengan angka pasti.
Angka berhenti di angka Rp 19.000. Uang kami Rp 20.000. Tangki motor kami memang tidak sampai terisi sampai penuh. Namun sudah terlihat cukup. Sehingga petugas tidak kesulitan mencari duit kembalian untuk konsumen.
Kami juga sempat menanyakan untuk sistem pembayaran. Hampir semua SPBU milik Pertamina, Shell maupun Total di wilayah Jabodetabek, menyediakan sistem pembayaran melalui kartu debit. Namun, mereka punya syarat khusus. Untuk SPBU Pertamina, mereka memakai minimal order Rp 50.000. Sedangkan Total, konsumen harus mengisi Rp 20.000. Sementara Shell tidak memberikan syarat. Mereka membebaskan para konsumen membayar memakai kartu debit tanpa nominal pembelian.
Selanjutnya, kami mencoba mencari tahu ke mana sisa uang kembalian konsumen tadi. Kami bertemu dengan salah satu petugas operator mesin pengisian bensin berinisial SN. Dia merupakan operator SPBU milik Pertamina di kawasan Jakarta Selatan.
Dalam penuturannya, SN mengaku bahwa sisa uang kembalian milik konsumen masuk dalam kantong pribadi. Duit itu tidak disetorkan ke kantor. Sebab, petugas hanya memberikan uang setoran sesuai angka tertera pada mesin. Sehingga jika ada kelebihan, itu tidak diberikan kepada pengusaha SPBU. Ini termasuk bila ada konsumen lupa meminta uang kembalian.
"Kalau ada lebih ya itu masuk kantong pribadi kita, tapi kadang juga kalau setoran kurang ya kita jadi nombok. Setoran itu tergantung dari berapa liter penjualan hari itu, kan sudah ada hitungannya," kata cerita SN kepada merdeka.com, Sabtu pekan lalu.
Untuk sekali sif kerja, SN mengaku, perusahaan tidak memberi target setoran. Selama 8 jam, tugas mereka hanya bertanggungjawab terhadap satu mesin. Para petugas lalu memberikan setoran sesuai jumlah uang diterima selama berjaga.
"Satu orang itu harus tanggung jawab sama satu mesin, engga ada target kita harus setor dan harus dapat sekian liter penjualan, sesuai saja dari hasil penjualan dan pendapatan kita yang didapat di hari itu," ungkap SN. Dia juga mengaku rata-rata petugas bisa mengantongi keuntungan Rp 20.000 tiap hari dari sisa duit kembalian bensin ini.hm
Editor : Redaksi