Jadi Kampung Wisata, Ekonomi Warga Mulai Menggeliat

surabayapagi.com
Sejumlah kampung di Surabaya menyimpan bukti sejarah, meski tak tercatat dalam buku pelajaran sejarah di sekolah. Kampung Maspati, misalnya. Generasi gadget atau milenial, belum tentu tahu kampung yang berada di Kelurahan Bubutan ini. Padahal, kampung ini merupakan kampung asli Surabaya. Belakangan, kampung ini dijadikan salah satu destinasi wisata di kota pahlawan ini. Turis asing pun kerap datang. -------- Laporan: Firman Rachman - Editor : Ali Mahfud ---------- Identifikasi kampung lawas tersebut telah berdiri lama, dapat dilihat dari rumah pertama yang dibangun oleh seorang pemilik bernama Raden Sumomaharjo dengan sebutan rumah ongko loro yang ada sejak tahun 1907. Selain rumah ongko loro, para wisatawan baik domestik maupun mancanegara juga dapat menilik makam mbah buyut Suruh yang diyakini sebagai babat kampung Maspati. Sekitar lima orang perempuan sibuk bertata di tiga kios sederhana tepat di Maspati V Surabaya. Sekilas, aktivitas mereka memang tak sama, namun substansinya, mereka menjadi bagian dalam geliat ekonomi kerakyatan yang diusung kampung lawas Maspati Surabaya. Anak kecil terlihat sesekali bersenda gurau sesamanya, di kampung itu terlihat hamparan pot berisi tanaman hijau, warna-warni cat di paving jalan sepanjang kampung menambah unsur artistik, ditambah beberapa aksesori klasik sumbangan pemerintah kota Surabaya memberi kesan jadul pada kampung ini. Selain itu semua, ramah tamah orang kampungnya yang tentu menjadi poin tersendiri bagi wisatawan. Tak banyak aktivitas kampung tersebut saat Surabaya Pagi datang, Selasa (24/10) siang. maklum. Meski begitu, layaknya kawasan wisata, kampung tersebut ramai dikunjungi pada weekend. "Iya kalau hari biasa begini, memang terlihat sepi. Coba kalau hari Sabtu Minggu, ratusan pengunjung bisa tembus mas," ucap Sabar Suwastono, pegiat dan penggagas kampung lawas Maspati ini. Butuh waktu empat tahun Kampung Lawas Maspati ini sampai pada saat seperti ini. Mulai dari perencanaan hingga menyamakan visi dan misi dengan 375 KK di lima RT, Kampung ini pun semakin dikenal di kalangan luas. Tak ayal, para tamu mancanegara pun penasaran dan sambang ke tempat ini. Bagi seorang Sabar, merintis kampung wisata sebagai ikon kota Surabaya tidaklah mudah. Semula ditolak warga, tapi perlahan mereka akhirnya turut berpartisipasi menjadikan kampung lawas Maspati. Tak tanggung-tanggung, nominal omset lima juta per harinya bisa diraup warga dari proses berjual beli maupun tiket wisatawan yang masuk. Dari buku catatan, periode bulan September lalu, terhitung 350 pengunjung domestik dan 20 wisatawan mancanegara berkunjung ke kampung Maspati. Padahal, pengelola memberikan tarif untuk tiap paket wisata rombongan senilai 2 juta rupiah per package. “Tentu kami menawarkan sebuah tempat wisata yang berbeda. Pertama produk budaya dan sejarah yang melekat di kampung ini, kita branding sedemikian rupa sehingga masyarakat tertarik. Belum lagi sisi edukasi. Tak hanya kuliner dan tempat yang fotogenic, mereka juga bisa belajar bagaimana membuat dolanan, minuman tradisional, belajar budaya dan lain-lain,” imbuh Sabar. Lalu, apa pendapat warga tentang kampung ini? Seperti Eli Sumardiana, perempuan paruh baya ini awalnya hanyalah kurir pengurusan jasa KTP di kelurahan setempat. Usia yang mulai senja, membuat ia berpikir keras bagaimana cara bertahan hidup di kota metropolitan ini. Gayung bersambut, Eli menemukan jiwa dagangnya dan turut berkontribusi dalam geliat kampung lawas Maspati. Dibantu, Sabat, Eli memutuskan untuk berjualan kopi dan makanan, tepat di pintu masuk kampung lawas tersebut. Hasilnya pun cukup dirasa, Rp 300 ribu per hari. “Alhamdulillah mas, bisa buat mata pencaharian,” ujarnya. n

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru