SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Membicarakan rivalitas Khofifah Indar Parawansa dengan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim 2018, sudah tidak menarik lagi. Terlebih lagi, setelah muncul sosok muda Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas sebagai calon wakil gubernur (Cawagub) pendamping Gus Ipul. Meski pendamping Khofifah belum ditetapkan, namun dukungan terhadap tokoh muda makin menguat. Salah satunya dukungan kepada Bupati Trenggalek Emil Elistianto Dardak. Bahkan, suami artis Arumi Bachsin ini dinilai bisa menjadi lawan berat Anas di Pilgub nanti. Lantas, apa ini petanda Emil akan diduetkan dengan Khofifah?
-------
Laporan : Riko Abdiono-Ibnu F Wibowo, Editor : Ali Mahfud
-------
Pengamat politik dari Surabaya Survei Center (SSC) Mochtar W Oetomo menilai Emil Dardak dan Azwar Anas merupakan lawan yang sepadan dalam Pilgub Jatim 2018. Emil bisa menjadi lawan berat bagi Anas yang sudah lebih dulu deklarasi bersama Gus Ipul. Baik Emil maupun Anas bisa meraup suara generasi Milenial karena dinilai cerdas dan punya visi kedepan. "Sama sama muda cerdas, visioner nilai plus Anas basis NU. Emil nilai plusnya generasi Y sekitar 18 persen di Jatim. Ceruk suaranya sama," katanya, Rabu (25/10/2017).
Menurut dia, kelebihan Anas lainnya adalah punya pengalaman karena sudah pernah memimpin Banyuwangi selama satu periode. Sedangkan, Emil yang digadang bakal bersanding dengan Khofifah ini disukai anak muda dan pemilih pemula. "Pemilih sekarang cenderung generasi milenial itu nilai plusnya Emil. Sedangkan Anas kelebihannya punya prestasi dan teruji satu periode lebih. Saya melihat Anas dan Emil setanding dan sebanding," tegasnya lagi.
Mochtar menilai keduanya punya potensi yang besar memajukan Jawa Timur. Kecerdasan dan kepemimpinan keduanya diprediksi akan membawa Jatim lebih maju dan kondusif. "Potensi Anas dan Emil lebih tereksplorasi kalau posisinya nomor satu. Saya kira keduanya juga layak maju sebagai Cagub daripada Cawagub," tambahnya.
Mochtar menilai, jika kedua menjadi Cawagub akan mampu mendulang suara signifikan dari pemilih pemula. "Akan mampu memunculkan daya ledak, tinggal bagaimana mereka bisa memainkan isu di Jatim," tandas dosen Fisip Universitas Trunojoyo.
Jatah Demokrat
Sementara itu, Partai Demokrat hampir pasti mengusung Khofifah Indar Parawansa sebagai calon gubernur (Cagub) di Pilgub Jatim 2018. Sebelumnya, Mensos RI ini sudah mendapat dukungan dari Partai Golkar dan Nasdem. Lalu siapa Cawagubnya? Gelagatnya pun mengarah ke Emil Dardak.
Ketua DPD Partai Demokrat Jatim Soekarwo menegaskan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono telah bertemu langsung dengan Khofifah. "Sudah ada pembicaraan (SBY dengan Khofifah, red). Kalau dipersentasekan ya sudah 80 persen ke Bu Khofifah," tegas pria yang akrab disapa Pakde Karwo ditemui disela-sela Konferwil AMSI Jatim di Spazio, Surabaya, Rabu (25/10) kemarin.
Pakde Karwo juga menyebutkan, Demokrat juga sudah berkomunikasi dengan para kiai yang mendukung Khofifah. Sebelumnya, para kiai yang tergabung ke dalam tim 17 itu menyiapkan delapan nama cawagub untuk mendampingi Ketua Muslimat NU tersebut. Para kiai juga melakukan survei hingga pertengahan November untuk menjaring aspirasi masyarakat terhadap delapan nama yang mereka sodorkan.
Dari tim 17 itu menyampaikan kepada Soekarwo, kemungkinan wakil Khofifah nanti berasal dari wilayah Mataraman yang meliputi Tulungagung, Trenggalek, Pacitan, Ponorogo, Madiun, dan Ngawi.
Saat disinggung soal nama Bupati Trenggalek Emil Dardak, Soekarwo tersenyum. Kebetulan, Emil juga menghadiri acara Konferwil AMSI Jatim. "Dia anak muda dan potensial. Punya potensi pemilih di wilayahnya," ujar gubernur dua periode tersebut.
Soekarwo menambahkan, cawagub yang mendampingi Khofifah nanti tidak harus berasal dari Partai Demokrat. "Yang penting konsep pemikiran dan konsep perjuangan sama," tambahnya.
Ia juga yakin Demokrat bisa menempatkan figur pilihannya sebagai pendamping Khofifah. "Ya dapat (jatah wakil gubernur). Kalau sementara strukturnya dengan 80 persen adalah jumlah kursi paling besar, itu kan ada fatsun politik, tata krama politik," kata Soekarwo. Namun, lanjutnya, tetap mengedepankan musyawarah mufakat bersama partai pengusung lainnya.
Editor : Redaksi