Belakangan ini ramai dibincangkan mengenai tantangan dan peluang generasi milenial sebagai penentu kemenangan dalam pemilihan kepala daerah, khususnya di Jawa Timur. Beberapa lembaga survei berbasis lokal seperti Surabaya Survey Center (SSC) dan IT-Riset Politic Consultant (iPol) Indonesia merilis hasil survei mereka tentang peluang generasi milenial untuk menjadi penentu kemenangan calon kepala daerah di Jawa Timur.
-----------
SSC merilis jika media sosial akan menjadi penentu pemilihan Gubernur Jawa Timur 2018. Dari catatan yang ada, pada Pilgub Jatim nanti akan ada 62 persen pemilih yang lahir di tahun 1977-1995 atau biasa disebut generasi milenial Y dan generasi pasca milenial atau generasi Z lahir 1996-2010. Generasi Y dan Z inilah pemain utama di media sosial, kandidat yang unggul di media sosial, dialah pemenangnya.
Selain itu, dari hasil statistik yang dikeluarkan IT-Riset Politic Consultant (iPol), bonus demografi generasi milenial Jatim mencapai 43,97 persen dari total penduduk 38,85 juta jiwa. Artinya ada sekitar 17,1 juta adalah usia produktif yang masuk kategori pemilih rasional. Sebagai pemilih rasional, kelompok milenial cenderung lebih cerdas dengan melakukan analisa berdasarkan pertimbangan komentar publik.
Fenomena Global
Sebelum kita membahas peluang generasi milenial di Pilgub Jawa Timur, ada baiknya kita me-refresh beberapa kasus yang melibatkan generasi milenial sebagai penentu gerakan politik di negara-negara lain. Kaum milenial bukan generasi yang malu-malu, bukan penurut, dan tak punya sikap. Dalam politik, generasi milenial sudah punya sikap yang tegas, dan tak sungkan menyuarakan sikap politik mereka. Ini terjadi di Amerika Serikat, Hong Kong dan Inggris.
Di Hongkong, misalnya. Pada Desember 2015, Nathan Law menjadi pemberitaan karena memimpin pelajar dalam melakukan aksi prodemokrasi di Hong Kong. Berkat aksi itu, generasi muda di Hong Kong berhasil mendapatkan perhatian. Akhirnya di usia yang masih 23 tahun, Ia secara resmi terpilih menjadi anggota parlemen termuda pada 4 September 2016.
Kemudian di Inggris. Peristiwa Brexit bisa menjadi indikator keterlibatan partisipasi politik generasi milenial. Jajak pendapat YouGov menyebutkan, 64 persen usia 25- 29 tahun ingin Inggris Raya tetap bersama Uni Eropa, sementara 61 persen dari mereka yang berusia antara 30-34 menginginkan untuk pergi termasuk juga pemilih usia 45 tahun ke atas. Survei ini melibatkan 4.772 orang di Inggris Raya. Sayangnya, suara kelompok milenial ini kalah, sehingga akhirnya Inggris Raya keluar dari Uni Eropa. Meski demikian, sikap politik milenial ini sudah terlihat jelas. Mereka berani bersuara, meski harus berseberangan dengan kelompok yang lebih tua atau para orang tua mereka.
Pergeseran Sikap Politik
Derek Thompson kontributor untuk The Atlantis menulis, bahwa para generasi milenial, memiliki pandangan politik yang liberal, bahkan berpihak di sayap kiri dan menyerempet dengan aliran sosialis. Ini yang kemudian turut juga mendorong sikap politik mereka untuk lebih terlibat merealisasikan pandangan politiknya atau memilih orang yang mendekati dengan pandang mereka. (Tirto.id)
Sikap berbanding terbalik dengan generasi sebelumnya inilah kunci dari sikap politik kelompok milenial di Jawa Timur, di situlah letak peluang dan tantangan partai politik ataupun kandidat kepala daerah untuk bisa merangkul dan memahami apa yang menjadi harapan mereka, sehingga potensi dukungan dari generasi tersebut bisa didapatkan. Justru saya merasa heran, jika ada tokoh partai politik besar di Indonesia yang tidak setuju dengan istilah generasi milenial, menurutnya penggunaan istilah tersebut dapat memisahkan kultur tradisional yang sangat baik dari generasi sebelumnya. Bahkan, ia mengkritisi perilaku generasi baru tersebut yang sering kali tidak mempraktikkan sopan-santun seperti cium tangan kepada orang yang lebih tua, pamit, dan lain-lain. Hal ini jelas-jelas menunjukkan kalau partai tersebut benar-benar tidak siap dengan perubahan dan pergeseran sikap politik yang terjadi hari ini.
Selain itu, kunci dari generasi ini adalah, mereka memiliki pandangan politik yang liberal, mereka cenderung ingin terlibat langsung dalam merealisasikan pandangan politiknya, bahkan akan lebih memilih kandidat yang dapat merepresentasikan kelompoknya. Di Jawa Timur, hal ini menjadi tantangan besar bagi kandidat yang selama ini hanya mengandalkan politik patron-klien dengan memanfaatkan ketokohan Ulama (kiyai-kiyai) di Jawa Timur sebagai basis dukungannya, bukan berarti generasi milenial tidak patuh terhadap ketaatan para Ulama, namun sebagai generasi yang rasional, tentu pilihan-pilihan politik tidak melulu ditentukan atas petunjuk dan sikap politik orang lain.
Oleh karena itu, hadirnya pilihan alternatif sebagai kandidat yang bisa merepresentasikan generasi milenial tentu sangat diharapkan, Adman Nursal dalam Political Marketing, 2004 mengemukakan, bahwa salah satu ciri pemilih rasional adalah dapat mengambil keputusan bila dihadapkan pada suatu alternatif. Jika melihat kandidat kepala daerah di Jawa Timur yang muncul hari ini, baik Syaifullah Yusuf maupun Khofifah Indar Parawansa, keduanya bisa dikatakan belum dapat mewakili generasi milenial, selain dari sisi usia, pilihan strategi politik yang dilakukan oleh keduanya juga belum banyak menyentuh kelompok tersebut.
Munculnya poros tengah di kontestasi Pilgub Jatim 2018 yang dimotori Partai Gerindra, PKS dan PAN, patut diapresiasi sebagai pilihan alternatif. Poros ini sempat menawarkan Emil Elistianto Dardak (Bupati Trenggalek) sebagai Cagub yang merepresentasikan pilihan alternatif bagi generasi milenial. Bagaimana hasil akhirnya? Wallahua’alam. (ifw)
Editor : Redaksi