SANG NARAYANI PAKDE KARWO

surabayapagi.com
Dalam berbagai kesempatan Gubernur Jatim Soekarwo, atau yang akrab kita panggil Pakde Karwo acap mengungkapkan ke media tentang dilema yang dihadapi menjelang Pilgub Jatim 2018. Utamanya terkait dengan arah dukungan ke Cagub. Dilema Pakde diantara dua pilihan, Saifullah Yusuf yang akrab dipanggil Gus Ipul (GI) atau Khofifah Indar Parawansa (KIP). "Hidup itu dilema" kata Pakde. Disatu sisi GI adalah shohibnya. Sepuluh tahun bersama, bahu membahu melayani rakyat Jatim. Relatif tanpa persoalan, apalagi sampai eker-ekeran seperti banyak contoh di daerah lain. Di sisi lain KIP adalah pilihan Partai Demokrat, dimana Pakde adalah Sang Nahkoda, Ketua DPD Demokrat Jatim. Sekaligus salah satu anggota Majelis Pertimbangan Partai. "Sebagai shohib tidak mungkin saya tidak support ke GI. Tapi sebagai ketua Demokrat tidak mungkin saya menggembosi partai saya sendiri. Partai ini bukan milik saya. Sehingga saya tidak bisa menggerakkan semaunya dukung kemana." ungkap Pakde ke media, diulang..diulang lagi...dalam berbagai kesempatan. Karena temen-temen wartawan sepertinya juga tak pernah bosan bertanya hal yang sama, karena mungkin belum puas dengan jawaban Pakde yang dianggap masih bersayap. Bahkan berulang dan berulang pula saya mendapat pertanyaan tentang hal sama dari temen-temen wartawan. "Soal posisi dilema Pakde ini, bagaimana pendapatnya Kang?". Lho alah...kok takon iku maneh to Rek? Jadi, gini lho.. Dalam perang agung Bharatayudha antara pihak Pandawa vs Kurawa, tersebutlah sang sutradara perang, namanya Sang Narayani Shri Kresna. Sebagai titisan Dewa Wisnu dengan kesaktian yang pilih tanding Shri Kresna tidak diperkenankan berpihak secara langsung baik pada Pandawa atau Kurawa. Sebab perang bisa selesai sebelum dimulai. Gak seru. Gak akan ada sejarah yang bisa dituturkan dari generasi ke generasi. Shri Kresna ini memiliki senjata Cakra yang jika sudah dikeluarkan, musuh manapun takkan mungkin bisa bertahan. Disamping itu Shri Kresna juga memiliki pasukan khusus yang menguasai segala medan, jenis senjata dan taktik perang. Bahkan pasukan khusus ini menguasai satu taktik perang terhebat pada masa itu, yakni Cakrabyuha. Sebuah taktik perang yang rigid, kompleks sekaligus mengerikan. Karena pasukan manapun yang masuk pusaran Cakrabyuha tidak mungkin bisa lepas dengan selamat. Pasukan Narayani, nama pasukan khusus Shri Kresna itu adalah satu-satunya pasukan khusus yang menguasai secara sempurnya Cakrabyuha. Senjata Cakra dan Pasukan Narayani adalah dua diantara sekian banyak alasan Shri Kresna tidak boleh terlibat langsung dalam Bharatayudha oleh para petinggi dewata. Maka, ketika Shri Kresna dipaksa berpihak kepada Kurawa melalui berbagai muslihat dalam persidangan para sesepuh Hastinapura, dia menjawab dengan diplomatis sekaligus dilematis. Bahwa sebagai pribadi Shri Kresna akan berpihak ke Pandawa. Tapi sebagai raja Dwaraka dia akan menyerahkan Pasukan Narayani yang tanpa tanding untuk berpihak sepenuhnya pada Kurawa. Shri Kresna pun akan tetap mengikuti aturan para dewata untuk tidak terlibat langsung dalam perang. Dia berjanji hanya akan menjadi kusir kereta perang Arjuna, dan tidak akan mengeluarkan senjata Cakra untuk membunuh musuh Pandawa. Sementara sebaliknya Pasukan Narayani boleh terlibat langsung dalam perang membela Kurawa dan membunuh pasukan Pandawa. Bahkan Pasukan Narayani juga diperkenankan menggunakan taktik Cakrabyuha yang tak tertandingi itu. Kelak dalam perang taktik Cakrabyuha inilah yang berhasil menghentikan dan membunuh kepahlawanan Abimanyu putra Arjuna yang telah meluluhlantakkan pasukan Kurawa selama berhari-hari. Sebagaimana Sang Narayani Shri Kresna itulah dilema peran yang tengah dihadapi Pakde Karwo. Sebagai shohib dan pribadi dia pasti support pada GI. Janji Pakde untuk tidak turun gelanggang menjadi jurkam adalah janji Shri Kresna untuk tidak mengeluarkan senjata Cakra dan terlibat langsung dalam perang. Karena kalau Pakde sampai mengeluarkan senjata Cakra dan terlibat langsung dalam perang. Bisa-bisa Pilgub akan selesai sebelum dimulai. Gak seru. Gak akan ada yang bisa dituturkan dari media ke media dari kafe ke kafe dari pasar ke pasar. Tapi sebagai Raja Dwaraka (Ketua DPD Demokrat Jatim) Pakde menyerahkan sepenuhnya Pasukan Narayani Partai Demokrat pada KIP, sebagaimana titah Sang Hyang Wenang. Sepenuhnya, tak akan digembosi. Inilah dilema Shri Kresna. Dilema Pakde Karwo. Namun benarkah pada akhirnya Shri Kresna hanya menjadi kusir Arjuna dengan sebatas nasihat-nasihatnya tanpa mencabut senjata Cakra dan terlibat langsung dalam perang? Dalam kisah Mahabharata, Shri Kresna tak kuasa menahan hasrat untuk mencabut senjata Cakra, tatkala Pandawa beserta pasukannya diambang kehancuran dan kekalahan oleh kesaktian panglima perang Kurawa, Bisma Yang Agung. Manakala melihat perwujudan Kresna sebagai Wisnu dengan senjata Cakra di tangan, Bisma luluh lantak kesadarannya, meletakkan senjatanya, dan merelakan dadanya ditembus oleh anak panah Srikandi. Pandawa selamat dari kehancuran dan bangkit dengan kemenangan-kemenangan di hari berikutnya setelah sekaratnya Bisma. Tapi sikap yang diambil Khresna itu tanpa pengorbanan sama sekali. Berapa banyak pasukan dan kerabat Pandawa yang terbunuh oleh Pasukannya sendiri, yakni Pasukan Narayani yang berpihak ke Kurawa. Bahkan keponakan kinasihnya, murid utamanya, menantunya sendiri Abimanyu Putra Arjuna juga gugur melalui gelar Cakrabyuha Pasukan Narayani yang digerakkan oleh Guru Drona. Akankah suatu saat nanti, di satu momen, di waktu yang tepat Pakde Karwo juga akan mengeluarkan Senjata Cakra? Dan akankah seperti Bharatayudha, pihak yang dibela oleh Shri Kresnalah yang akan menjadi pemenang? Wallahu'alam... karena Pilgub Jatim bukanlah Bharatayudha. Apa yang bisa kita harap hanyalah, jangan sampai pertempuran besar Pilgub Jatim antara dua kekuatan besar saudara sekandung NU ini berakhir seperti Bharatayudha. Rakyat menjadi pelanduk di antara pertarungan dua gajah. Mati!

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru