Gerindra Incar Gus Ipul, PAN Cenderung ke Khofifah

Poros Emas Terancam Gagal

surabayapagi.com
SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Partai Gerindra bersama Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) punya keinginan membentuk poros baru di Pilgub Jatim 2018. Poros baru itu disebutnya ‘Poros Emas’ yang digadang-gadang akan memunculkan calon gubernur (Cagub) alternatif, selain Khofifah Indar Parawansa dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul). Kini, Poros Emas terancam gagal terbentuk. Lalu, kemana partai-partai itu memberikan arah dukungan? Laporan : Riko Abdiono, Editor : Ali Mahfud DPD Partai Gerindra Jatim masih bersikap optimistis Poros Emas tetap terbentuk. Meskipun ada kabar dari Jakarta PKS merapat Ke Gus Ipul dan PAN merapat Ke Khofifah. Sekadar diketahui, Gerindra memiliki 13 kursi DPRD Jatim, PAN 7 kursi dan PKS 6 kursi. Totalnya 26 kursi dan cukup untuk mengusung pasangan calon. Jika ditinggal PKS yang cenderung mendukung Gus Ipul-Azwar Anas, Gerindra-PAN masih cukup dengan 20 kursi. Tetapi jika ditinggal PAN, Gerindra-PKS hanya 19 kursi dan kurang satu kursi untuk mengusung paslon. Wakil Ketua DPD Partai Gerindra Jatim Abdul Malik menegaskan, jika Gerindra pada akhirnya nanti tidak mendapat teman koalisi, pihaknya lebih cenderung mendukung poros Gus Ipul- Azwar Anas dibandingkan poros Khofifah-Emil. Mengapa? "Kami lebih memilih Gus Ipul-Mas Anas. Ini karena kami masih berkeyakinan memilih pemimpin itu lebih cocok laki-laki," tegasnya kepada wartawan di Sate Kelopo Ondomohen Surabaya, Selasa (28/11/2017). Menurut politisi yang juga pengacara ini, Gerindra berkomitmen pada aturan partai dan tidak akan menyimpang dari hasil Rakerda. "Saat itu ada nama Khofifah, Gus Ipul, M Nuh dan La Nyalla yang diusulkan dalam Rakerda. Khofifah dan Gus Ipul sudah diusung parpol lain, M Nuh tidak berkenan dicalonkan, tinggal nama La Nyalla. La Nyalla tinggal digodok saja dan dipasangkan dengan cawagub dari PAN atau PKS," tuturnya. Dia menduga ada skenario besar yang memang 'membuat' Gerindra tidak bisa mencalonkan pada Pilgub Jatim. Sinyalemen ini terjadi di Jawa Tengah, Jatim dan Bali. Ini menyangkut kepentingan Pilpres 2019. "Ini kan aneh, dari menteri masih ingin menjadi gubernur, derajatnya kan turun. Ini jelas ada misi khusus untuk pilgub rasa pilpres. Gerindra akan santai-santai saja, kami tidak yakin hanya dua poros. Kami masih yakin ada Poros Emas. Kami sudah berpacaran dan bermesraan, tidak punya etika moral dan etika politik jika PAN dan PKS meninggalkan Gerindra," ungkapnya. PAN Dilobi Gus Ipul Sementara itu, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan mengatakan PAN bersama Gerindra dan PKS sejatinya sudah punya beberapa kandidat untuk dimajukan oleh poros baru di Pilgub Jatim. Hanya, kandidat-kandidat tersebut tak berani bertarung melawan dua cagub yang ada, yakni Gus Ipul dan Khofifah. "Sudah banyak kandidat, tapi nggak berani tuh kandidatnya. Udah hampir, nggak jadi, nggak berani," tandas Zulkifli di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (28/11) kemarin. PAN, lanjutnya, sebenarnya juga telah punya beberapa nama calon wakil gubernur untuk disandingkan dengan calon alternatif itu. Namun ia menegaskan, calon alternatif tak bernyali melawan Khofifah dan Gus Ipul. " Cagubnya nggak ada yang berani. Saya kan ngomong apa adanya ya. Kan Ketua MPR nggak bisa pura-pura. Nggak ada yang berani," tandas Zulkifli. Karena itu, Zulkifli mengatakan partainya sangat mempertimbangkan untuk mendukung Khofifah. Namun, sebelum mengusung Khofifah, dia menyatakan akan bertemu Gus Ipul terlebih dahulu. "Ya kemungkinan Khofifah. Tapi saya nanti malam mau ketemu Gus Ipul. Kan boleh nerima orang masa nggak boleh," ujar Zulkifli. Sebelumnya, Poros Jakarta ingin mengusung Emil Dardak sebagai cagub untuk dipasangkan dengan Ketua DPW PAN Jatim Masfuk (Emas). Tapi pada akhirnya Bupati Trenggalek itu memutuskan bergabung dengan Khofifah sebagai cawagub. Khofifah-Emil sudah resmi didukung Partai Demokrat dan Golkar. Sedang Gus Ipul - Azwar Anas diusung PDIP dan PKB. n

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru