Bencana Jadi Lahan Politis

surabayapagi.com
Di penghujung tahun 2017 ini, sejumlah wilayah di Jawa Timur dilanda bencana alam. Mulai banjir dan tanah longsor, hingga angin puting beliung. Setidaknya, bencana itu terjadi di Malang, Sidoarjo dan Pacitan. Bencana ini diperkirakan belum berakhir, mengingat potensi hujan lebat disertai angin kencang masih akan terjadi akibat Siklon Tropis Dahlia. Menariknya, di tengah bencana yang terjadi, sejumlah pejabat turun ke lokasi. Seperti Wagub Jatim Saifullah Yusuf yang ‘nyemplung’ di lokasi banjir Porong, Sidoarjo. Tak lama kemudian, Mensos Khofifah Indar Parawansa mengunjungi korban bencana puting beliung di Tambak Rejo, Waru, Sidoarjo. Lantaran keduanya sama-sama maju sebagai calon gubernur (Cagub) di Pilgub Jatim 2018, kunjungan itu terkesan berbau politis. Benarkah demikian? ------------- Laporan : Ibnu F Wibowo – Sugeng Purnomo, Editor: Ali Mahfud ------------- Malam itu, volume air banjir setinggi 1,5 meter di Jalan Raya Porong, Sidoarjo. Meski cukup dalam, Wagub Jatim yang akrab disapa Gus Ipul tetap saja ‘nyemplung’. Bahkan, menjajal genangan dengan naik sepeda onthel. Sejumlah wartawan pun langsung mengabadikan aksi Cagub Jatim yang diusung PKB dan PDIP tersebut. Tak lama setelah Gus Ipul turun ke lokasi bencana, Khofifah Indar Parawansa seakan tak mau kalah. Cagub Jatim yang diusung Partai Demokrat, Golkar dan Hanura ini, mengunjungi lokasi pengungsian korban puting beliung di wilayah Desa Tambak Rejo, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo. Mereka mengungsi di Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) Darul Ulum. Kedatangan Khofifah selain melihat langsung kerusakan rumah warga akibat bencana, juga memberikan bantuan sosial. Salah satunya kepada ahli waris korban meninggal dengan menyerahkan santunan kematian sebesar Rp 15 juta. Selain Gus Ipul dan Khofifah, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), putra Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono juga melakukan hal sama. Sejak Kamis (30/11) lalu, Direktur Eksekutif The Yudhoyono Instititute (TYI) ini mendatangi dan menyemangati para korban bencana mulai dari Kabupaten Pacitan (Jawa Timur), Kabupaten Wonogiri (Jawa Tengah), hingga ke Desa Bejiharjo, Karangmojo, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Kepada awak media yang hadir, AHY mengucapkan apresiasinya untuk aparat, pemerintah, dan komunitas yang turut bergandengan tangan membantu para korban bencana. "Saya mengapresiasi segala langkah tanggap darurat yang dilakukan aparat pemerintah, baik Pemda, Provinsi, Kabupaten, dan juga aparat lain yang terkait, termasuk Kepolisian, TNI, BNPB, BPBD, Tagana, PMI, Puskesmas, Posyandu, PKK, dan lainnya," tutur AHY. Seperti diketahui, setelah mengikuti Pilkada DKI 2017 lalu, AHY membentuk The Yudhoyono Institute. Ia digadang-gadang bisa maju di Pilpres 2019. Nama AHY juga selalu masuk dalam sejumlah survei. Hasilnya, pilihan calon presiden berdasarkan pertanyaan terbuka dalam survei dengan sampel sebanyak 1.200 responden tersebut, Jokowi meraih 34,9 persen, menyusul Prabowo Subianto 12,1 persen, Anies Baswedan 3,6 persen, Basuki Tjahaja Purnama 3,3 persen, Gatot Nurmantyo 3,2 persen, Ridwan Kamil 2,8 persen dan Agus Harimurti Yudhoyono 2,5 persen. Sementara untuk pilihan calon presiden dengan 6 nama Joko Widodo meraih 44,9 persen, Prabowo Subianto 13,8 persen, Anies Baswedan 6 persen, Agus Harimurti Yudhoyono 3,5 persen, Gatot Nurmantyo 3,2 persen dan Jusuf Kalla 1 persen. Sedangkan sisanya tidak memilih. Bencana dan Politik Lantas, bagaimana hubungan bencana dengan politik? Dalam pengalaman Indonesia, bencana bisa menjadi momentum untuk perdamaian dan rekonsiliasi politik di Aceh setelah konflik berdarah-darah selama beberapa tahun (1976-2005). Kasus ini terlihat dalam bencana tsunami Aceh pada 26 Desember 2004, yang tahun ini genap 10 tahun. Bencana dahsyat yang menewaskan sekitar 160.000 jiwa itu memaksa Pemerintah Indonesia berunding dengan pimpinan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang menghasilkan Persetujuan Helsinki (15 Agustus 2005). Dengan begitu, bencana tsunami Aceh menjadi blessing in disguise bagi NKRI. Bencana demi bencana di Tanah Air juga mengundang parpol atau elite politik ”turun tangan”. Gejala ini tidak unik di Indonesia, tetapi juga bahkan di AS. David G Twigg dalam The Politics of Disaster: Tracking the Impact of Hurricane Andrew (2012) menyimpulkan, bencana alam sejak dari gempa sampai tornado dapat meninggalkan bekas tidak terhapuskan dalam karier politik seseorang. Kecepatan figur politik dalam turut menangani korban bencana dapat memberikan manfaat baginya, sebab dengan begitu ia telah melakukan ”kampanye tanpa kampanye”. Gun Gun Heryanto, pakar komunikasi politik dari Universitas Islam Negeri Jakarta, pernah menyebutkan bencana seperti banjir memang menyediakan publisitas gratisan atau free ride publicity. "Apalagi di musim pemilihan kepala daerah,” kata Gun Gun. "Di Jakarta, banjir memang telah lama menjadi komoditas politik. Seperti yang terjadi di (Pilkada) 2012 juga," ujar Gun Gun memberi contoh. Sinyalemen Gus Ipul Terlepas politis atau tidak, Gus Ipul tetap meminta masyarakat mewaspadai potensi hujan lebat disertai angin kencang yang muncul akibat Siklon tropis Dahlia. Menurut Gus Ipul, Informasi yang diperoleh dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Juanda menunjukkan Siklon tropis Dahlia yang awalnya terbentuk di sekitar Sumatera saat ini berada di dekat perairan Jatim. "Data dari BMKG pada pukul 01.00 WIB dini hari tadi posisi Siklon Tropis Dahlia berada di sekitar 11.5 lintang selatan dan 111,8 bujur timur atau sekitar 388 km sebelah selatan Pacitan," kata Gus Ipul, Minggu (3/12) kemarin. Beruntung Siklon ini terus bergerak menjauhi Pacitan ke arah selatan dan tenggara dengan kecepatan 4 knots (8 km/jam). Di sekitar Siklon kekuatan angin terpantau mencapai 35 knots atau mencapai 65 km/jam. Dengan kecepatan pergerakan Siklon, diperkirakan selama 24 jam atau pada Senin 4 Desember 2017, Siklon Dahlia akan semakin menjauhi Pacitan dengan jarak 760 KM sebelah selatan Pacitan atau berada di titik 15,1 lintang selatan dan 111,0 bujur timur. Sementara itu, meski semakin menjauh, namun dampak Siklon Dahlia akan menyebabkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat mengguyur sebagian besar Jawa Timur. Di sebagian wilayah Jawa Timur bagian barat juga berpotensi muncul angin kencang dengan kekuatan 20 knots. Begitu juga gelombang laut dengan ketinggian 2,5-4,0 meter juga akan muncul di perairan selatan Jawa Timur. Di beberapa daerah, gelombang diperkirakan juga akan mencapai 4,0-6,0 meter. "Masyarakat terutama nelayan harus waspada," pungkas Gus Ipul. Janji Khofifah Khofifah Indar Parawansa berjanji bahwa kemiskinan akan menjadi salah satu fokusnya apabila menjadi Gubernur Jatim. Hal tersebut ia ungkapkan pada saat Rapat Pimpinan Wilayah DPW PPP Jatim, Minggu (3/12). "Insya Allah kalau Allah meridhoi saya jadi Gubernur maka kami akan bersama-sama mengentaskan kemiskinan. Hari ini kontribusi PDRB di Jatim 15 persen. Dari seluruh Indonesia, pertumbuhan ekonomi Jatim diatas rata rata, tetapi kemiskinan Jatim diatas rata rata nasional juga. Ketimpangan Jatim diatas rata rata nasional," papar Khofifah pada kesempatan tersebut. Ia melanjutkan mayoritas warga miskin di Jatim adalah warga NU. "Yang miskin di desa adalah warga NU. Mereka yang rajin manaqib, semaan itulah yang miskin," jelasnya. "Jihad kita bersama bagaimana pengentasan kemiskinan sistemik,” tandasnya. n

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru