Melongok Kampung Kumuh di Surabaya

“Bu Risma, Kami Bosan Hidup Bersanding Maut”

surabayapagi.com
Siapa yang tak ingin tinggal di rumah mewah, nyaman dan bersih. Sebagian besar orang tentu berhasrat sama untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan yang layak. Namun, tidak bagi sekitar 100 kepala keluarga (KK) lebih di Jalan Ngaglik 50 C, Kelurahan Kapas Krampung, Kecamatan Tambaksari Surabaya. Rasanya, untuk hidup mewah bagaikan pungguk merindu bulan. ------------- Laporan : Firman Rachman, Editor: Ali Mahfud -------------- Seperti terlihat dari pandangan seorang pria baya bernama Sutaji. Kakek lima cucu itu telah hidup lebih dari 60 tahun bersanding dengan rel kereta api (KA) yang membentang di sepanjang jalan Ngaglik antara Stasiun Kota Semut hingga Stasiun Gubeng Surabaya. Saban hari, Sutaji mewakili ratusan kepala keluarga yang hidup dan tinggal di bantaran rel itu menyebut, jika terpaksa tinggal lantaran tak ada pilihan lain. "Yak opo maneh mas, jangankan rumah nyaman, sekedar makan aja kami harus berpikir keras," ucap Taji saat ditemui Selasa (5/12) kemarin. Sutaji yang awalnya terbiasa tinggal di tanah milik PT. Kereta Api Indonesia itu, sempat was-was saat cucu-cucunya mulai lahir. Ia memikirkan bagaimana tumbuh kembang sang cucu yang harus turut menanggung tegang bertaruh nyawa hanya untuk tinggal. "Masio saya sudah puluhan tahun mas disini, dulu sempat takut juga saat cucu saya lahir. Tapi ya balik lagi, harus pasrah," imbuh Taji yang sudah tak mampu lagi bekerja sebagai pedagang asongan ini. Sementara itu, Darti, ibu rumah tangga yang juga menjadi istri dari ketua Rukun Tetangga (RT) setempat menuturkan, ia sejak kecil menempati rumah semi permanen di lokasi itu. Luasnya pun tak layak, hanya sekitar 3x5 meter persegi saja. Ruang tamu digandeng dengan dapur. Jarak pintu rumah dengan tepi rel hanya sekitar 3 meter saja. Namun jarak itu berkurang sekitar 50 cm jika ada kereta melintas. Deru debu yang beterbangan dihempas laju kereta menjadi pemandangan lumrah bagi mereka. Bangunan-bangunan beratap seng menambah kesan kumuh tempat tersebut. Belum lagi selokan yang mengeluarkan bau tak sedap kerap menohok ke kerongkongan. Namun mereka mencoba lupa semua itu untuk tetap memiliki tempat berteduh. "Iya yang ditakutkan kalau saudara kesini bawa anaknya, mereka belum bisa sama tempat ini. Berbahaya itu pasti mas, tapi mau gimana lagi," ujar Darti. Darti menyebut, ia diwarisi rumah itu sejak dari sang kakek. Suratnya pun tak jelas, tak ada pajak bumi dan bangunan secara resmi meski sudah puluhan tahun kawasan ini ditinggali oleh ratusan kepala keluarga. Jauh dari lubuk Sutaji dan Darti yang mewakili ratusan kepala warga yang memilih Tri Rismaharini dalam Pilkada 2015 lalu itu meminta perhatian Walikota tersebut. Mereka pun ingin diperhatikan layaknya warga kota yang lain. Relokasi tempat menjadi impian para warga yang hidup bersanding maut di sepanjang jalannya kereta api itu. Bahkan, dua periode menjabat, Risma belum pernah meninjau lokasi itu hanya untuk menyambangi warganya. "Beliau belum pernah ke sini sama sekali,” imbuh perempuan yang mengagumi sosok Risma ini. Banyak harap yang tertumpu dari warga kampung Ngaglik terhadap perhatian Walikota Surabaya. “Kami sudah bosan harus bersanding dengan maut dan isu orang-orang yang ingin menggusur tempat ini,” pungkas dia. n

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru