SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Merasa tak pernah ditanggapi, puluhan warga Dusun Sepat, Lidah Kulon Surabaya menggelar aksi demontrasi di depan Mapolda Jatim untuk memperjuangkan Waduk Sepat. Aksi ini sekaligus memberikan dukungan kepada salah satu warga yang sedang menjalani pemeriksaan oleh polisi atas laporan dari PT Ciputra. Tak hanya itu, warga juga menuntut polisi untuk menghentikan kriminalisasi dan intimidasi pada warga.
"Tuntutan kami yakni meminta kepada Polda Jatim untuk menghentikan laporan SP3 laporan dan hentikan semua bentuk intimidasi dan kriminalisasi kepada pejuang Waduk Sepat," ujar Koordinator Aksi yang juga Warga Waduk Sepat Dian Purnomo saat aksi di depan Mapolda Jatim, Jumat (27/8/2018).
Sebelumnya, PT. Ciputra diketahui akan membangun perumahan di lahan Waduk Sepat. Namun, warga menolaknya karena hal tersebut dinilai justru akan merusak lingkungan. "Aksi ini sekaligus memberikan dukungan moral kepada warga yang sedang diperiksa (di Polda) atas laporan dari PT Ciputra," kata Dian.
Sedangkan menurut kesaksian Dian, ada empat warga Dusun Sepat yang dilaporkan. Yakni Dian Purnomo atau dirinya sendiri, Darno, Suherna dan Rokim. Keempatnya dilaporkan atas tuduhan pengerusakann lahan. Namun Dian mengaku hal yang dilakukan warga justru sebaliknya.
"Karena warga tidak pernah melakukan pengerusakan, justru warga Sepat itu melakukan penyelamatan lingkungan Waduk Sepat. Kalau warga tidak melakukan penyelamatan itu pasti Waduk Sepat sudah kering," imbuhnya.
Aksi ini memang sudah dilakukan sejak lama yakni sejak tahun 2008. Namun Dian mengaku belum pernah mendapat respon dari Pemerintah Kota Surabaya. Dian menyayangkan saat menggelar puluhan aksi, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini tidak pernah menemui dan mencari jalan bersama-sama warga. "Selama ini tentu tidak pernah merespon keinginan kami. Pemkot hanya mengambil enaknya saja puluhan kali kita sudah beraksi di sana tapi tidak pernah Walikota keluar, kira-kira sudah 10 tahun, " lanjutnya.
Dian menceritakan, dari beberapa hal yang dilakukan PT. Ciputra ada beberapa kejanggalan. Misalnya saja warga melihat berbagai upaya yang dilakukan PT. Ciputra untuk merusak waduk.
Pernah saat warga sedang salat tarawih mendengar ada suara air deras yang menyerupai banjir meskipun diketahui tidak sedang hujan. Selain itu, debit air yang mengalir di selokan yang terhubung dengan waduk terlihat sangat deras.
Warga curiga oknum tersebut melakukan upaya pengeringan waduk. Akhirnya warga berupaya agar waduk tetap utuh dan tidak kering. "Waktu itu tidak ada hujan dan tidak ada apa-apa, air yang keluar dari waduk itu sudah sangat deras. Nah kalau itu dibiarkan semalam saja, pasti sudah kering waduk itu. "Karena apa air yang keluar dari Waduk itu sangat deras sekali, semalam saja pasti sudah kering waduk itu," ungkapnya.nt
Editor : Redaksi