Pandemi, Kemenparekraf Siapkan Jurus AADC Bangkitkan UMKM

surabayapagi.com
Illustrasi kegiatan UMKM sedang beradaptasi di tengah wabah pandemi Covid-19. SP/ PI

SURABAYAPAPAGI.com, Surabaya - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mendorong para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) untuk beradaptasi di tengah pandemi COVID-19. Kemenparekraf mengenalkan prinsip Accept, Adapt, Digital, dan Creative Collaboration (AADC) untuk diterapkan UMKM agar dapat beradaptasi dengan kondisi pandemi.

 Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf, Nia Niscaya, menjelaskan, di tengah pandemi Covid-19, Kemenparekraf memiliki prinsip yang bisa diterapkan bagi UMKM untuk segera beradaptasi di situasi saat ini, yaitu Accept, Adapt, Digital, dan Creative Collaboration (AADC).

Baca juga: DPRD Sidoarjo: Pedagang Kecil Sebagai Urat Nadi Ekonomi Kerakyatan Wajib Dihidupkan

Accept yang dimaksud adalah kita harus menerima kondisi saat ini untuk dihadapi bersama-sama. Lalu berikutnya adalah Adapt, kita harus menyesuaikan dan cepat beradaptasi dengan kondisi saat ini. Digital, saat ini adalah suatu keniscayaan, UMKM juga segera bertransformasi dan terima kasih Blibli yang sudah memberikan tempat kepada UMKM. Dan yang terakhir adalah Creative Collaboration,” kata Nia Niscaya.

Nia juga mendorong masyarakat untuk saling bahu-membahu menjadi pahlawan bagi produk lokal dengan cara ikut berkontribusi dalam program #BeliKreatiflokal dan #BanggaBuatanIndonesia.

Baca juga: Perkuat Ekonomi Kerakyatan, Trate Takjil Market Volume 4 Libatkan 130 UMKM dan Resmikan Outlet Trate Rasa

Program tersebut, jadi cara untuk mendukung pelaku ekonomi kreatif subsektor kuliner, fashion, dan kriya agar mampu meningkatkan omzet penjualannya dengan optimasi promosi melalui platform e-commerce secara terintegrasi.

Nia menambahkan, pihaknya memberikan tempat bagi 500 pelaku ekonomi kreatif (ekraf) terpilih yang produknya bisa dipasarkan secara cuma-cuma. Namun, lanjut dia, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh para pelaku ekraf. Persayaratan tersebut, antara lain lokasi usahanya harus berada di sekitar Jabodetabek, akun sosial media tidak boleh di mode private, pengikut (followers) dari akun pendaftar program ini tidak lebih 10.000 followers. Program ini diperuntukkan khusus untuk pelaku ekonomi kreatif bidang kuliner, fashion, dan kriya.

Baca juga: Pejabat Bea Cukai Diduga Ikut Runtuhkan UMKM

"Saat ini sudah ada 4.000 yang mendaftar dan 900 yang mengisi form. Nantinya akan dikurasi menjadi 500 UMKM. Mereka akan diberikan pendampingan oleh mentor-mentor profesional mulai dari pengemasan, produk, hingga promosi. Tidak hanya itu, kami juga menyediakan konsultasi gratis dari ahli hukum terkait HKI yang akan diberikan pada 100 pelaku ekraf terpilih, " terang Nia. 

Editor : Redaksi

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru