Black Market Jual Obat Covid-19, Apotek Tidak. Ada apa?

surabayapagi.com
Lianhua Qingwen Capsules, salah satu obat yang diklaim untuk pengobatan Covid-19, dijual di black market, dan ditemui di Toko Wan Shou Tang. Foto: SP/Tim Surabaya Pagi

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Seiring mewabahnya Covid-19, tim peneliti Unair bersama BIN berhasil menciptakan obat Covid-19 yang dapat membunuh 80-90 persen virus Corona. Namun disatu sisi, beredar informasi soal sudah ditemukannya obat virus corona (Covid-19) selain yang ditemukan Unair, telah beredar di pasaran. Beberapa obat Covid-19 itu dicari oleh masyarakat Surabaya, karena obat berbentuk kapsul itu, ditemukan ahli paru-paru dari China.

Namun berdasarkan penelusuran tim Surabaya Pagi, Senin (15/6/2020) di beberapa toko obat gelap ( black market) di Surabaya, justru mudah dibeli. Obat- obat ini sempat dikabarkan bisa menyembuhkan orang yang terpapar virus covid-19.

Obat hasil ramuan ahli paru-paru dari China tersebut sudah beredar di beberapa toko obat China, seperti di toko obat Tjong Hwa, Jalan Mayjend Sungkono Surabaya, toko obat Wan Shou Tang, sedangkan Apotik K-24 dan Kimia Farma, malah tidak tersedia. Ada apa,

“Obat covid dari China diduga masuk secara gelap, tak terdaftar di BOM,” jelas seorang apoteker wanita sebuah apotik besar di Karangmenjangan.

Sedangkan perusahaan farmasi di Surabaya, Indofarma Global Medika, tak yakin obat covid dipasaran cespleng.

 

Bisa untuk Sembuhkan Covid-19

Tapi salah satu penjaga toko obat Tjong Hwa mengatakan, obat tersebut bisa untuk penderita covid-19 dengan ciri-ciri yang sama. "Biasanya penderita Corona kan demam, tenggorokan kering, batuk. Obat ini bisa untuk menyembuhkan dan mencegah Corona," ujar penjaga toko kepada Surabaya Pagi, yang tidak mau menyebutkan namanya.

Ia mengimbuhkan bahwa obat ini sudah ada sejak awal masuknya Covid-19 di Indonesia. Selain itu untuk harga juga sangat relatif, untuk  2 strip isi 24 capsulnya  dibandrol dengan harga Rp.75.000,- sedangkan yang isi 36 capsul, ia bandrol dengan harga Rp.80.000,-.

Tak hanya di toko obat Tjong Hwa, tim Surabaya Pagi juga menemukan hal serupa, obat tersebut ternyata di jual juga oleh toko obat Wan Shou Tang. Toko obat tersebut berada di kawasan jalan Panjang Jiwo Permai Surabaya.

Karyawan toko Wan Shou Tang menjelaskan, obat anti Corona ini sudah ia jual lama dan sudah cukup banyak peminatnya. "Obat ini untuk radang, untuk batuk, untuk anti corona. Harganya Rp 65.000,- satu box isi 2 strip isi 24 capsul," terangnya secara singkat.

Namun obat tersebut belum di temukan di apotek-apotek di kota Surabaya, seperti yang dijelaskan oleh Ayu, karyawan apotek K-24 ini mengungkapkan bahwa selama ini pihak apotek belum pernah menjual obat anti corona. Bahkan, obat yang ditemukan oleh tim penelitian Unair, juga masih belum beredar bebas.

"Di apotek kami belum ada mas obat Corona atau anti Corona, dan saya belum pernah dengar nama obat itu," jelas ayu kepada tim Surabaya pagi.

Hal senada juga di sampaikan oleh karyawan apotek Diponegoro, ia menyampaikan jika obat covid-19 belum beredar di apotek manapun.

"Apa ada apotek jual obat covid mas, aneh-aneh aja. Kalau positif ya langsung ke rumah sakit saja, jangan di belikan obat sendiri, semisal ada obatnya juga semua pasti pakai resep dokter," ucap karyawan apotek.

 

Obatnya Masih Diuji Coba

Sementara, saat Surabaya Pagi melakukan penelusuran terkait pendistribusian kombinasi obat Covid-19 yang sedang di uji coba oleh tim dari Universitas Airlangga. Dari beberapa distributor obat yang telah didatangi pada Senin (15/6/2020), belum ada informasi lebih lanjut mengenai peredaran obat tersebut.

Salah satu perusahaan farmasi di Surabaya, Indofarma Global Medika dan perusahaan Kalbe Farma. Melalui petugas farmasi ini mengatakan jika belum ada informasi mengenai obat Covid-19 tersebut.

"Belum ada, kan saya dengar obatnya masih di uji coba juga. Jadi ya pasti belum sampai pada proses pendistribusian ke perusahaan. Sini kan hanya kantor cabang, jadi ya hanya menerima dari kantor pusat," ujarnya.

Senada dengan Indofarma, perusahaan Kalbe Farma melalui petugas front officenya juga mengatakan bahwa pihaknya belum mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai pendistribusian obat tersebut.

"Sepertinya belum ada wacana untuk hal itu. Menurut karyawannya tadi juga belum ada informasi lebih lanjut mengenai hal itu. Katanya masih di uji coba kan? Coba ke Unair saja langsung, barang kali dijelaskan distribusinya bagaimana," katanya.

Salah satu apoteker Kimia Farma Jalan Raya Darmo juga mengaku belum tahu bagaimana hasil dari kombinasi obat Covid-19 yang diracik oleh tim dari Universitas Airlangga tersebut.

"Kan masih dalam proses uji coba, masih ada proses-proses selanjutnya sebelum didistribusikan. Kami juga belum tahu kombinasi racikan dari obat tersebut seperti apa, dan dosisnya bagaimana. Mungkin lebih jelasnya konfirmasi ke Unair saja langsung," jelasnya.

 

Unair Segera Wujudkan Obat Covid-19

Sementara, Rektor Universitas Airlangga Surabaya, Prof Mohammad Nasih yang ditemui Surabaya Pagi setelah menerima kunjungan dari DPRD Kota Surabaya belum bisa menjelaskan terkait dengan Stem Cel maupun penjelasan rinci tentang pilihan 5 kombinasi obat yang direkomendasikan serta telah melalui kajian dari Unair sendiri.

"Jadi begini, kitakan bagi tugas nah tugas ini sampai saat ini sudah sesuai dengan proposal yang kita ajukan, akan ada langkah-langkah berikutnya tetapi domainnya universitas. Kalau tahap lanjutannya kita koordinasikan dengan berbagai macam pihak," ungkapnya kepada Surabaya Pagi, Senin (15/6/2020).

Ia melanjutkan bila upaya yang dilakukan oleh Unair merupakan langkah-langkah sigap dan kondisional. "Maka harus ada langkah-langkah praktis, langkah-langkah taktis yang kita lakukan, tidak harus menjadi obat baru, jadi yang penting adalah kondisionalnya" terangnya.

Disinggung soal wujud penelitian terhadap temuan 5 kombinasi obat yang ditemukan, Prof Moh Nasih menjelaskan bila berwujud laporan penelitian dengan merekomendasikan serangkaian obat yang dipakai dengan obat yang telah di uji.

"Kalau di Unair dalam wujud bentuk laporan penelitian, yang kedua adalah kita memberikan rekomendasi diantara obat yang sudah dipakai. Ini sudah di uji dan bukan barang ilegal. Kita bukan mencari obat baru apa, tetapi memberikan rekomendasi" pungkasnya. tyn/adt/byt

Editor : Moch Ilham

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru