SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengklasifikasikan varian Covid-19 C.37 atau Lambda yang dapat meningkatkan penularan. Sebelumnya, varian C37 atau varian Lambda ini pertama kali ditemukan di Peru dan sudah menyebar ke 29 negara.
Sedangkan menurut National Health Service (NHS) Inggris, gejala corona varian Lambda yang perlu diwaspadai adalah, suhu tinggi, batuk terus menerus dan kehilangan atau perubahan pada indera penciuman atau perasa.
Baca juga: WHO Selidiki COVID Varian 'Eris', Picu Kematian Secara Tiba-Tiba?
Senada dengan WHO, ahli virologi di Universitas Cayetano Heredia Lima yang telah melacak evolusi varian Lambda di Peru selama berbulan-bulan, Pablo Tsukayama mengatakan varian ini lebih cepat menyebar daripada strain yang dianggap lebih berbahaya bahkan mengalahkan gamma yang telah merajalela di Brasil.
Ia juga menekankan varian Lambda lebih mudah menular dan menyebar begitu cepat di Peru. "Dengan 187 ribu kematian dan tingkat kematian tertinggi di dunia, kami adalah negara yang paling berjuang dalam hal virus corona. Oleh karena itu, mungkin tidak heran bahwa varian baru telah dimulai di sini," tuturnya, Kamis (1/7/2021).
Kendati demikian, Public Health England mengatakan bahwa saat ini tidak ada bukti varian Lambda menyebabkan penyakit yang lebih parah atau membuat vaksin saat ini kurang efektif.
Baca juga: Bupati Ikfina Harap Pelayanan Kesehatan Di Bumi Majapahit Terus Meningkat
Dokter spesialis penyakit dalam dr Andi Khomeini Takdir, SpPD juga menegaskan, cara paling efektif untuk mengatasi temuan varian-varian ini adalah menggunakan masker. Untuk proteksi maksimal, masker bisa digunakan berlapis dobel.
"Varian apa pun yang kemudian nanti dirilis, kuncinya sebenarnya sederhana, masker. PR-nya kita sudah tahu, itu masker 2 lapis punya proteksi 90 persen which is lebih bagus, lebih tinggi daripada hanya 1 (lapis masker)," terangnya.
Baca juga: WHO dan Kemenkes Beri Isyarat, Status Pandemi Covid-19 Akan Dicabut Tahun Ini
Menurutnya, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC) telah menyatakan bahwa penggunaan masker secara dobel memiliki efektivitas perlindungan dari virus hingga 90 persen. Sementara, efektivitas dari 1 lapis masker sebesar 60-80 persen.
"Jangan hanya berhenti sebatas kita tahu, tapi kita jadikan sebagai kebiasaan. Kita disiplinkan, kita ingatkan satu sama lain. Hanya dengan itu kita bisa turunkan kasusnya," imbuh dr Andi. Dsy15
Editor : Redaksi