SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Saya menduga bahwa terdapat sesuatu yang janggal dalam kasus polisi tembak polisi yang menewaskan Brigadir J. Janggal mulai dari melebarnya kasus pembunuhan menjadi kasus pelecehan seksual hingga belum ada tersangka dalam kejadian ini.
Saya menganalisis ini berdasarkan keterangan polisi bahwa peristiwa berawal saat Brigadir Nopryansah Yosua Hutabarat alias Brigadir J masuk ke kamar pribadi istri Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo.
Baca juga: Perampokan Sadis di Gresik, Pelaku Pembunuhan Istri Pengusaha Divonis 18 Tahun Penjara
Dari pernyataan Kapolres Jakarta Selatan Kombes Budhi Herdi Susianto, bahwa Brigadir J diduga melakukan pelecehan dan menodong istri Irjen Ferdy Sambo dengan menggunakan senjata.
Menurut Kombes Budhi itu, bahwa setelah melakukan pelecehan, dia juga sempat menodongkan senjata ke kepala Istri Kadiv Propam.
Saat itu, kata Budhi, Istri Irjen Ferdy terbangun dan hendak berteriak meminta pertolongan.
Saat itu, istri Ferdy Sambo berteriak. Brigadir J pun panik karena mendengar suara langkah orang berjalan yang diketahui merupakan Bharada E.
Baru separuh menuruni tangga, Bharada E melihat sosok Brigadir J keluar dari kamar.
Bharada E kemudian bertanya kepada Brigadir J terkait teriakan tersebut. Bukannya menjawab, Brigadir J malah melepaskan tembakan ke arah Bharada E. Berbekal senjata, Bharada E membalas serangan Brigadir J. Hingga akhirnya, lima tembakan yang dilepaskan bersarang di tubuh Yosua. Singkat cerita, Brigadir J pun tewas diterjang peluru yang dilesatkan Bharada E.
Berdasarkan keterangan ini, saya menilai ada sejumlah kejanggalan pada kasus penembakkan Brigadir J atau Brigadir Novriansyah Yoshua.
Saya menilai kasus penembakkan ini terkesan melebar dari pembunuhan menjadi pelecehan seksual. Padahal, kasus ini berawal dari tembak menembak antara anggota kepolisian.
Yang nembak-menembak, polisi nembak polisi di rumah polisi, ditangkap oleh polisi yang mati CCTV. Tiba-tiba Kapolri membentuk tim. Kompolnas masuk. Judulnya polisi semua. Ya jadi liar apa gara-gara ini sendiri. Padahal kan kalau kita kembali lagi ke fakta itu hanya pembunuhan saja, titik. Kenapa jadi belok ke sana ke mari.
Baca juga: Aniaya Istri hingga Tewas, Suami di Blitar Jadi Tersangka
Atas melebarnya spekulasi ini, Saya menduga ada sesuatu hal yang disembunyikan. Nah dari situ, lagi-lagi intelejen melihat, ada sesuatu yang disembunyikan.
Padahal, jika kasus pembunuhan, cukup hanya melibatkan Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri.
Selain itu sejumlah fakta menunjukkan adanya hasil autopsi atas peristiwa penembakkan yang menwaskan Yoshua. Namun, hingga kini belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka.
Kalau autopsi oleh penembakkan, maka kita jangan bicara dulu itu pelecehan seksual, kita bicara aja penembakkan. Kan, harus konsisten dong. Logika waras publik ini sekarang teracak-acak dengan penyampaian-penyampaian ini. Lalu tiba-tiba Kapolri juga masuk (membentuk tim). Lah sekarang bagaimana mau percaya masyarakat.
Saya membandingkan dengan kasus kopi sianida yang melibatkan Jessica Wongso yang merupakan sahabat Wayan Mirna Salihin sendiri.
Polisi memutuskan Jessica Wongso bersalah dan menjadi tersangka dalam kasus kopi Sianida tersebut.
Baca juga: Komnas Anak Ingatkan Konflik Terekspos di Media Berdampak Buruk
Dalam kasusnya, Mirna dinyatakan dibunuh walaupun tidak ada bukti yang menjelaskan ada yang memasukkan sianida ke dalam minumannya. Menurut saya, kasus Yosua sama dengan Mirna.
Saya berharap polisi fokus kepada fakta yang menyebabkan adanya upaya pembunuhan terhadap Yosua.
Nah harapan kita tentunya jangan sampai polisi ini, Polri yang kita banggakan ini, melindungi para pembunuh. Kenapa saya bilang pembunuh, ada orang mati. Saya berharap ada keterangan dari Irjen Pol Ferdy Sambo dan Sang Istri.
(Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis TNI Laksamana Muda (Purn) Soleman B Ponto, saat berbicara dalam acara Crosscheck by Medcom.id, dikutip Minggu, 17 Juli 2022)
Editor : Moch Ilham