SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Saya catat, saat kejadian, Irjen Ferdy Sambo, disebut polisi sedang melakukan tes PCR. Dia buru-buru pulang ke rumah dinasnya di kompleks Polri di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan karena ditelepon istrinya Putri Candrawathi.
Informasi soal keberadaan Irjen Ferdy Sambo ini, menurut saya justru menarik perhatian publik.
Baca juga: Perampokan Sadis di Gresik, Pelaku Pembunuhan Istri Pengusaha Divonis 18 Tahun Penjara
Apalagi, saat itu, Kapolres Jakarta Selatan Kombes Pol Budhi Herdi Susianto menyebut Kadiv Propam saat penembakan terjadi nggak ada di rumah. Saya pikir ngapain dibilang tidak ada di rumah. Itu kan menarik perhatian. Kenapa harus disampaikan. Misalnya gelas ada setengah isi, setengah kosong. Nah saat polisi bilang Kadiv Propam tidak ada di rumah. Lha setengah kosongnya bilang bisa-bisa itu ada di rumah, tapi ditutupi.
Terkait alibi Irjen Ferdy Sambo yang tes PCR, ljuga menarik perhatian.
Menurut saya untuk memastikan alibi ini, sopir Irjen Ferdy Sambo bisa ditanyai dimana mengantar komandannya PCR. Selanjutnya, kroscek ke tempat PCR tersebut.
Soal PCR ini Ini juga melanggar kebiasaan lagi. Raja-raja seperti Kadiv Propam itu rasa-rasanya kalau mau PCR, petugasnya yang dipanggil.
Baca juga: Aniaya Istri hingga Tewas, Suami di Blitar Jadi Tersangka
Saya meyakini sebenarnya polisi sudah tahu siapa yang membunuh Brigadir J. Namun, hingga kini polisi masih berhitung.
Dari situ sebenarnya sudah bisa ketemu. Tapi kayaknya polisi lagi menghitung-hitung. Siapa yang dirugikan atau siapa yang merasa rugi.
Saat ini, menurut saya, publik menghendaki polisi mengumumkan pelakunya secara terbuka. Dalam hitungan saya, polisi segera umumkan pelakunya, polisi tidak akan pernah mengalami kerugian.
Baca juga: Komnas Anak Ingatkan Konflik Terekspos di Media Berdampak Buruk
Polri tidak akan pernah rugi atau runtuh namanya. Meskipun pembunuhnya itu adalah polisi sendiri. Walaupun mungkin juga petinggi polisi. Polri tidak akan pernah runtuh. Dan itu harus kita jaga kepercayaan kepada Polri. Sehingga tidak perlu berlama-lama untuk menghitung-hitung. Karena semakin lama menghitung, maka akan semakin kelihatan cover up-nya. Sekali berbohong akan terjadi pembohongan-pembohongan selanjutnya untuk menutupi kebohongan. Kan itu ilmunya dari polisi.
(Mantan Kepala Bais TNI Laksamana Muda (Purn) Soleman B Ponto, dalam tayangan video seperti dikutip FIN dari chanel Youtube Corry Official, Rabu 20 Juli 2022.)
Editor : Moch Ilham