SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Terkait kejanggalan senjata jenis Glock 17 yang digunakan Bharada E menembak Brigadir J, dari hari ke hari terus menarik perhatian. Termasuk dua jenderal yaitu Irjen Napoleon Bonaparte dan Laksamana Muda (Purn) Soleman B Ponto. Pasalnya, senjata jenis Glock 17 janggal digunakan polisi selevel Bharada.
Napoleon mengingatkan untuk mekanisme pengoperasian Glock 17 semi otomatis rekoil pendek ini menggunakan peluru kaliber 9 mm. Pistol ini juga menggunakan sistem cam-lock milik Browning, yang dimodifikasi dari pistol berkekuatan tinggi.
Baca juga: Perampokan Sadis di Gresik, Pelaku Pembunuhan Istri Pengusaha Divonis 18 Tahun Penjara
Situs us.glock.com menjelaskan, ukuran pistol Glock. Untuk pistol selisih panjang dengan slide terpanjang di pasar, menawarkan jarak terjauh antara pemandangan, perolehan target yang cepat, dan kinerja tingkat glock.
Untuk Pistol Glock yang merupakan jenis semi-otomatis adalah jenis pistol yang menggunakan satu ruang dan laras. Pistol menembakkan peluru bilik, mengekstrak dan mengeluarkan selubung kosong dan kemudian memuat peluru baru ke dalam bilik (jika peluru tambahan ada di majalah) dengan setiap tarikan pelatuk.
Pistol Bharada E, Wajar Disorot
Bonaparte mengatakan senjata jenis Glock 17 yang dipakai Bharada E saat menembak Brigadir J, wajar disorot. “Dan bagi anggota Polri senjata api ini tak boleh dipakai oleh orang lain,” tambahnya di Jakarta.
Menurutnya, senjata api ada nomor dan pemiliknya. Karena itu, senjata api tidak boleh dititip ke orang lain. "Setiap senjata dari pendidikan dibilang kalau itu istri pertama, maksudnya tidak boleh dipakaikan ke orang lain. Itu tercatat namanya, nomornya, tidak boleh dititipkan harus dibawa ke mana-mana. Kalau itu terjadi, itu pelanggaran berat," kata Napoleon di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (21/7/2022).
Napoleon menuturkan, untuk mendapatkan senjata api anggota Polri juga melewati beberapa prosedur, seperti secara psikologi tidak boleh tempramental. "Kalau untuk mendapatkannya harus menurut psikologi tidak boleh temperamen. Kemudian dalam kategori tertentu ahlinya ada, kemudian dia harus mahir menggunakannya," ujarnya.
Napoleon menerangkan, penggunaan senjata api juga tergantung pangkat dari setiap anggota Polri. "Iya dong (pangkat berpengaruh terhadap jenis senjata). Sebetulnya bukan kewenangan saya untuk menjawab itu, tetapi yang saya tau untuk penggunaan senjata itu semua diatur kebijakannya oleh pimpinan kesatuan dan departemen yang menanganinya contohnya kalau di Mabes itu Baintelkam. Silakan ditanyakan ke Baintelkam," ungkapnya.
Sementara, terkait senjata Glock-17 yang digunakan Bharada E dan dianggap janggal, Napoleon minta ditanyakan ke Polri. "Ada pangkat, tetapi itu bukan kewenangan saya menjawab itu nanti dari Baintelkam yang bisa menentukan kewenangan pangkat apa menggunakan senjata apa. (Terkait kepemilikan Glock-17) bukan hak saya untuk menjawab karena tadi saya bilang itu tergantung kebijakan pimpinannya," imbuhnya.
Sumber Pistol dari Kapolres
Sebelumnya, Kapolres Metro Jakarta Selatan, Kombes Pol Budhi Herdi Susianto membeberkan jenis senjata yang dipakai oleh dua anggota polisi saat baku tembak di rumah Ferdy Sambo.
Budi mengatakan dalam kejadian tersebut kedua anggota polisi yang saling baku tembak itu menggunakan senjata jenis Glock 17 dan HS. “(Bharada E) menggunakan Glock 17 magasen 17 butir peluru, Brigadir J 16 peluru magazin dan senjata jenis HS,” kata Budhi kepada wartawan di Mapolres Jakarta Selatan, Selasa (12/7/2022).
Ini Senjata Tempur
Baca juga: Aniaya Istri hingga Tewas, Suami di Blitar Jadi Tersangka
Peneliti dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) bidang kepolisian, Bambang Rukminto memberikan penjelasan terkait fungsi penggunaan senjata Glock 17.
Menurut Bambang, senjata tersebut merupakan senjata tempur untuk membunuh.
Ia berpendapat senjata yang digunakan polisi seharusnya cukup untuk melumpuhkan. "Senjata Glock termasuk senjata tempur, 17 Magezine, artinya ini adalah senjata untuk membunuh," terangnya dikutip dari tayangan YouTube Kompas TV, Kamis (21/7/2022).
Bambang katakan, penggunaan senjata api di kepolisian diatur dalam Peraturan Kepolisian nomor 1 Tahun 2022. Yakni tentang perizinan. pengawasan dan pengendalian senjata api standar kepolisian.
Kasus Simple
Sementara Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) TNI, Soleman B Ponto mengungkap cara mencari tahu fakta tewasnya Brigadir J alias Nofriansyah Yosua Hutabarat, bisa dilacak dari pistol yang digunakan menembak.
Menurutnya, dari riwayat pistol yang digunakan dalam aksi baku tembak itu dapat diketahui detail saat peristiwa tersebut terjadi dan membuka tabir atau fakta sesungguhnya soal kematian Brigadir J. "Pistol itu punya riwayat, dia punya nomor, dia punya nama, dia punya pemegang, dia punya kapan ini dibawa? Sama siapa itu? Ada riwayatnya. Jadi si pistol ini akan membuka tabir," jelasnya.
Baca juga: Komnas Anak Ingatkan Konflik Terekspos di Media Berdampak Buruk
Namun, dia mengatakan bila pistol yang digunakan tidak memiliki nomor, maka hal tersebut menjadi pertanyaan. Pasalnya, pistol tanpa nomor dapat diartikan sudah ada perencanaan terlebih dahulu.
Mantan Kepala Bais TNI ini menyebut pengusutan kasus tersebut sebenarnya simple. Polisi tinggal menelusuri siapa pemegang pistol Glock 17 buatan Austria tersebut. Apakah Bharada E atau terdaftar atas nama orang lain.
Apa yang disampaikan oleh Kapolres Jakarta Selatan dan polisi lainnya hanyalah cerita. Fakta yang pasti adalah matinya Brigadir J. Itu fakta," tegas Soleman B Ponto dalam tayangan video seperti dikutip FIN dari chanel Youtube Corry Official pada Selasa 19 Juli 2022.
Soleman menyoroti Kapolres Jakarta Selatan Kombes Pol Budhi Herdi Susianto yang membawa map berisi hasil otopsi Brigadir J.
Soleman Ponto meyakini polisi pasti sudah tahu siapa yang membunuh Brigadir J. Sebab, ada pistol Glock 17 yang digunakan menembak Brigadir J. Menurutnya, pistol itu memiliki nomor registrasi.
Dari nomor pistol itu akan ketahuan siapa pemegangnya. Pasti polisi sudah tahu itu. Begitu pistol dipegang yang dilihat nomornya. Tinggal masukkan nomor pasti ketahuan. Apakah pemegang Glock 17 ini Bharada E atau siapa. Nggak usah diperdebatkan mengapa pistol ini ada di tangan E," terangnya.
Soleman Ponto menyebutnya Glock 17 ini adalah pistol raja-raja. Karena itu harus diselidiki apakah ada nama raja di daftar pemegang Glock 17 tersebut.
"Sehingga kalau mau mengungkap ini nggak usah jauh-jauh. Ikuti alur pistol itu. Kan ada 2 pistol yang katanya digunakan buat tembak menembak. Datang saja ke gudang senjata. Tinggal dimasukkan nomor pasti muncul siapa pemegangnya. Mudah, tinggal umumkan pistol nomor sekian dipegang oleh siapa. Kalau namanya tidak muncul ini akan jadi pertanyaan lagi. Siapa yang memasukkan pistol itu," urainya. n jk/erc/rmc
Editor : Moch Ilham