SURABAYAPAGI, Surabaya - Kondisi fisik memengaruhi kesehatan mental, begitu juga sebaliknya. Hal itu termasuk kondisi gigi, yang memengaruhi kepercayaan diri serta kesehatan mental seseorang.
Menurut National Alliance of Mental Illness, walaupun masalah kepercayaan diri tidak dikategorikan sebagai masalah mental, hal ini masih berkaitan dengan kualitas hidup dan kondisi kesehatan mental seseorang. Hal itu menimbulkan risiko gangguan kecemasan hingga depresi.
Baca juga: Pemkab Lumajang Sediakan Rumah Singgah Gratis Bagi Pasien Rujukan ke Surabaya
Menurut Jeon Chan, Chief of Marketing & Education Coway Indonesia, kepercayaan diri tentunya penting bagi setiap orang untuk mencapai kualitas hidup yang baik. Bagi mereka yang memiliki masalah maloklusi dan ingin meningkatkan kepercayaan dirinya, pemakaian perapi gigi atau aligner, bisa menjadi solusi efektif.
“Alat medis berbahan plastik bening yang berfungsi merapikan gigi ini banyak diminati karena mudah dilepas-pasang sesuai kebutuhan,” kata dia dalam keterangannya, Selasa (14/3/2023).
Baca juga: Vaksinasi Haji di Surabaya Capai 98 Persen, Ditarget Tuntas Sebelum Keberangkatan ke Tanah Suci
Proses perataan gigi disebut minim iritasi dan tidak menyakitkan. Hal itu menjadi keunggulan aligner dibandingkan dengan pemakaian kawat gigi.
Pada jurnal berjudul “Impact of Dental Disorders and its Influence on Self Esteem Levels among Adolescents” dinyatakan bahwa ketidakpuasan terhadap penampilan, dapat menjadi pemicu rendahnya tingkat kepercayaan diri. Penelitian tersebut juga menyatakan, gangguan kesehatan pada gigi, seperti maloklusi, kondisi susunan dan atau posisi gigi tidak sejajar, berpengaruh pada psikologi sosial seseorang.
Baca juga: Lewat Senam Kaki, Dinkes Kediri Beri Edukasi Penderita Diabetes Melitus
Tidak hanya itu, pada kasus maloklusi dengan tingkat keparahan tinggi dapat meningkatkan risiko munculnya gangguan kesehatan lain, seperti nyeri sendi, strok, hingga serangan jantung.hlt/ggi
Editor : Mariana Setiawati