SURABAYAPAGI.COM, Sidoarjo - Wienar Bagus Nurhendra, mantan ketua Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Wonoayu yang kini lengser dan melorot kursi duduknya sebagai anggota divisi PPK, merasa tidak legowo atas tindakan ini.
Dia menjadi korban dan menyebutkan ada kesan "paksaan” dari KPU Sidoarjo, yang mendorong pergantian ketua PPK Wonoayu dengan dalih sudah ada pleno anggota PPK Wonoayu di kantor KPU Sidoarjo, Rabu ( 22/3).
Baca juga: KPU Sidoarjo Tetapkan Subandi-Mimik Sebagai Bupati dan Wabup Sidoarjo Terpilih
Menurut Hendra sapaannya, dengan gaya blak-blakan, memang benar ada undangan klarifikasi dari KPU Sidoarjo untuk mencairkan persoalan di Wonoayu. Namun, klarifikasi itu bukan menggelar rapat pleno.
“Saya heran, kenapa tiba-tiba ada kalimat pleno pergantian padahal setahu saya, itu undangan klarifikasi bukan untuk pleno pergantian ketua PPK Wonoayu,” ungkapnya.
Baca juga: Rekap KPU Sidoarjo 2024 Tuntas, Paslon Subandi-Mimik Raih 559.878 Suara
"Meskipun ketika itu teman-teman di PPK Wonoayu masih menghendaki dirinya sebagai ketua, namun M Iskak Ketua KPU tetap menyarankan Hendra harus digeser kedudukannya," tandasnya.
Bahkan ketika sampai terakhir kali PPK Wonoayu bersikukuh untuk tidak melakukan pleno pergeseran sang ketua, beredar tekanan di group WhatsApp (WA) PPK Wonoayu dari Ana Azizah Komisioner KPU agar segera mengirimkan berita acara (BA) pergeseran.
Baca juga: KPU Sidoarjo Gelar Doa Bersama Pilkada Damai, Lancar dan Aman
Karena ada bentuk tekanan, menurut Hendra lebih tepatnya interfensi. Tentu hal ini sangat merugikan pihaknya. "Dengan terpaksa saya bilang terserah dan ini sangat menyentuh harga diri saya," keluhnya lagi.
Meski harga dirinya sudah tercederai, Hendra masih berharap jika hal tersebut bisa dibenahi dan tidak semakin memanas seperti ini. Meski nyatanya dirinya sudah tergeser, Hendra masih siap untuk mensukseskan pemilu. Hdk/hik
Editor : Moch Ilham