SURABAYAPAGI.COM, Probolinggo - Permasalahan kemiskinan di Kota Probolinggo masih membutuhkan perhatian khusus dari Pemerintah Kota (Pemkot). Pasalnya, indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan Kota Probolinggo pada 2022 meningkat jika dibanding tahun sebelumnya.
Indeks kedalaman kemiskinan pada tahun 2021 tercatat sebesar 1,04 persen. Angka tersebut meningkat sebanyak 0,14 persen jika dibandingkan tahun 2021 yang hanya sebesar 0,90 persen.
Baca juga: Ranu Sentong Bakal Jadi Destinasi Wisata Ekologis Baru di Probolinggo
Sementara indeks keparahan kemiskinan pada 2022 tercatat sebesar 0,23 persen. Angka tersebut naik 0,06 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 0,17 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Probolinggo Heri Sulistio menjelaskan, indeks keparahan kemiskinan adalah rata-rata jarak antarwarga miskin. Ini didapatkan dari pengeluaran warga yang di bawah garis kemiskinan dirata-rata.
Sementara, indeks kedalaman kemiskinan merupakan ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Garis kemiskinan di Kota Probolinggo, pendapatan Rp 575.195 ke bawah.
Baca juga: Menara Air Randu Pangger Bakal Jadi Destinasi Wisata Baru Berbasis Sejarah dan Edukasi
Hal sebaliknya terjadi pada tingkat kemiskinan. Tingkat kemiskinan Kota Probolinggo pada tahun 2022 mencapai 6,55 persen. Jumlah tersebut menurun sebesar 0,89 persen jika dibandingkan pada tahun 2021. Sedangkan jumlah penduduk miskin di Kota Probolinggo juga berkurang dari 17.910 jiwa pada 2021 menjadi 16.160 jiwa pada 2022.
“Tingkat kemiskinan menurun, tapi indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan meningkat. Berarti jarak antara warga miskin dan pengeluaran warga miskin dengan garis kemiskinan semakin lebar dan dalam,” jelas Heri.
Menurutnya, kondisi ini tentu perlu menjadi atensi. Sebab, meski perekonomian sudah kembali normal, dengan adanya pengurangan tingkat kemiskinan, tapi kesenjangan juga semakin lebar. Ia menilai, kondisi ini bisa menyulitkan pengentasan kemiskinan.
Baca juga: Warga Probolinggo Pilih Ngungsi, 4 Desa di Lereng Bromo Terendam Banjir
Pasalnya, jarak antarwarga miskin dengan garis kemiskinan semakin bervariasi antara satu sama lain. Semakin besar indeks keparahan dan kedalaman kemiskinan, maka pengentasannya semakin sulit.
“Perlu perhatian khusus dan solusi, agar indeks kedalaman dan keparahan tidak semakin besar,” pungkasnya. prb
Editor : Redaksi