SURABAYAPAGI.COM, Surabaya – Provinsi Jawa Timur (Jatim) memiliki beragam produk dari para petani hutan yang bisa dioptimalkan untuk mendorong perekonomian daerah. Bahkan, dengan potensi cukup besar, produk petani hutan Jatim didorong untuk menembus pasar ekspor.
Hal itu disampaikan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menghadiri Temu Karya Petani Hutan yang digelar Dinas Kehutanan Provinsi Jatim di Graha Unesa Surabaya beberapa waktu lalu.
Baca juga: Gus Ipul-Gus Yahya, ke Istana Bareng
Kegiatan yang diikuti oleh 1.500 petani hutan se Jawa Timur tersebut memamerkan banyak produk petani hutan yang dikreasikan melalui pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA) hutan menjadi produk bernilai ekonomi. Bahkan, ada beberapa produk milik kelompok tani hutan yang sudah menembus pasar ekspor.
Dalam kesempatan itu, Khofifah mengapresiasi karya-karya para petani hutan Jatim yang ditampilkan. Menurutnya, para petani hutan yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) ini sangat inovatif dalam melakukan pengembangan agroforestri.
Selain memberikan nilai tambah, keunggulannya juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan.
"Kita bisa melihat bagaimana KTH dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) di Jatim sangat inovatif dalam rangka menyiapkan produk agar meningkat kualitasnya, hingga memenuhi standar ekspor," kata Khofifah.
Khofifah mengungkapkan bahwa saat ini cukup banyak produk KTH di Jatim yang sukses menembus pasar ekspor melalui pendampingan dari Pemprov Jatim. Salah satunya adalah produk Jahe Gajah dari Nganjuk dan dari Ponorogo yang melalui fasilitas Misi Dagang bisa mencatatkan nilai transaksi perdagangan yang luar biasa.
Baca juga: Gandeng Pemprov Jatim, Komdigi Fokus Kembangkan Talenta Digital dan Perlindungan Anak
Kemudian ada juga kopi hasil communal branding agroforestri dengan merek Javeast Coffee yang diekspor ke Mesir dengan nilai mencapai Rp 6,2 miliar. Javeast Coffee, lanjutnya, merupakan merek dagang yang digunakan untuk memasarkan hasil kopi petani hutan dari tiga kabupaten.
Adapun tiga kabupaten tersebut di antaranya yakni Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo Kabupaten Jember; Desa Wonosalam, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang; dan Desa Kare, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun.
“Tiga KTH sudah dalam bentuk communal branding. Strategi Communal branding ini bisa dimanfaatkan untuk membantu dalam menjaga kualitas dan standar produk dari beberapa daerah. Dan dengan communal branding akan membantu untuk menjaga kuantitas dan kontinyuitas dalam pasar ekspor,” jelasnya.
Lebih lanjut, Khofifah juga menyebut beberapa produk sukses dari petani hutan seperti komoditas ekspor KTH lainnya yaitu Rajangan Daun Talas Beneng. Selain itu, juga produk gula aren cair produksi KTH di Desa Temon, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan.
Baca juga: Terima Kunjungan Universiti Malaya, Khofifah Tekankan Penguatan SDM Berkelanjutan
“Produk gula aren cair ini bahkan mampu menembus pasar ekspor di Kanada, dengan volume ekspor perdana pada Pebruari 2023 sebesar 1,3 ton gula aren cair," ungkapnya.
Mantan Menteri Sosial RI ini mengaku optimistis, kegiatan yang digelar dapat menjadi ajang untuk memperkuat jejaring mitra pemasaran dan pengembangan usaha bisnis sehingga dapat mendorong terwujudnya kelompok-kelompok usaha yang produktif, mandiri, dan mampu menembus pasar ekspor.
"Jika hal itu mampu diraih, tidak saja dapat menyejahterakan petani hutan, tetapi perekonomian Jatim akan terus mengalami pertumbuhan," pungkasnya. sb
Editor : Redaksi