Jangan Cekoki Anak dengan Gula Sejak Kecil

surabayapagi.com

 SURABAYAPAGI, Surabaya - Ketika anak sudah mulai mengonsumsi makanan pendamping Air Susu Ibu (MPASI), ada kalanya orang tua jika buah hatinya tidak mau makan. Dalam kegalauannya, mereka mengira makanan yang dimasak sendiri tidak enak.

Sebagian dari mereka kemudian menambahkan gula dan garam dalam ke masakannya. Trik tersebut ditentang oleh dokter ahli gizi Tan Shot Yen.

Baca juga: Percepat ORI Campak, Dinkes Kota Malang Siapkan Upaya Jemput Bola ke Rumah Warga

Dr Tan mengungkapkan anak mulai belajar makan setelah masa pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan selesai. Pemberian ASI diteruskan sampai anak berusia dua tahun atau lebih.

Persoalannya, menurut dr Tan, banyak ibu yang tidak dapat pendampingan menyusui oleh konsultan laktasi. Alhasil, mereka panik ketika kenaikan berat badan bayinya tersendat di usia empat bulan.

Di tengah kekhawatiran stunting, tenaga kesehatan atau kader posyandu kemudian menganjurkan agar bayi tersebut mendapatkan susu formula. Padahal, menurut dr Tan, bayi banyak yang menjadi kegemukan atau obesitas karena asupan susu formula yang mengandung tinggi sukrosa.

"Berdasarkan penelitian, lebih dari 90 persen susu yang beredar di Indonesia ada gula imbuhan atau tambahan," ungkap dr Tan.

Baca juga: Dinkes Ponorogo Klaim Zero Pasung, Ribuan Warga Ponorogo Idap Skizofrenia Dapat Layanan Kesehatan Rutin

Selain itu, ibu juga kerap kali menambahkan gula pada MPASI. Ketika anak membuang makanan dari mulutnya, mereka berpikir makanan yang dibuatnya tidak enak. Padahal, hal itu bisa saja karena tekstur makanan yang sulit dicerna, bukan hanya sekadar rasa.

Ironisnya, ketika berkonsultasi dengan dokter, ibu pun bisa saja mendapat saran untuk menambahkan gula dan garam ke MPASI. Namun, takaran garam dan gula yang dianjurkan tidak dijelaskan dengan rinci.

"Jangan cekoki anak dengan gula sejak kecil. Saya tuh bingung sejak kapan anak di bawah dua tahun itu butuh gula seperti yang banyak orang pikirkan," ujarnya.

Baca juga: Tangani 70 Kasus DBD, Dinkes P2KB Sumenep Gencarkan Pola Hidup Sehat Lewat 3M Plus

Di samping itu, saat hendak bulan puasa, tak sedikit pula orang tua yang memberikan makanan manis pada anaknya. Dr Tan mengatakan anak yang cenderung suka makanan manis akan ditambahkan kurma dimakanannya.

Anak di bawah satu tahun sudah diajarkan makan kurma. Padahal, menurut dr Tan, itu tidaklah penting dan tidak baik diberikan pada anak di bawah usia satu tahun."Kurma untuk orang tuanya saja," ujarnya.hlt/ana

Editor : Mariana Setiawati

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru