SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Badai musim dingin ekstrem di awal tahun 2024 ini membuat produksi kilang-kilang di Amerika Serikat (AS) turun secara signifikan sehingga berimbas juga pada kenaikan harga minyak dunia sejak per Rabu (24/01/2024) kemarin.
Diketahui, cuaca buruk di Arktik tersebut menghantam produksi minyak di AS pekan lalu, khususnya di North Dakota, negara bagian penghasil minyak mentah terbesar ketiga di AS. Otoritas pipa negara bagian menyatakan bahwa produksi minyak mentah di North Dakota turun sebanyak 700.000 barel per hari pada minggu lalu.
Baca juga: Pasokan Minyak Dunia Makin Terbatas, Menteri ESDM Gaungkan Hemat Energi
Sedangkan Badan Informasi Energi menginformasikan bahwa produksi minyak di AS turun sekitar 1 juta barel per hari menjadi total 12,3 juta barel per hari untuk pekan yang berakhir 19 Januari. Persediaan minyak mentah komersial di AS turun 9,2 juta barel pada periode yang sama.
Namun, produksi di North Dakota mulai pulih dengan produksi turun 170.000 hingga 220.000 barel per hari pada hari Rabu. Lonjakan produksi minyak mentah AS telah membebani harga minyak dunia selama berbulan-bulan.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Anjlok Drastis, Sentuh Level Terendah Sejak Juli 2023
Sementara itu, rekor produksi di AS terbentur dengan melemahnya perekonomian di China, sehingga meningkatkan kekhawatiran bahwa pasokan melebihi permintaan minyak.
Sehingga, Bank sentral China pada hari Rabu berjanji untuk memangkas jumlah likuiditas yang harus dimiliki lembaga keuangan negara tersebut dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Baca juga: Konflik Palestina dan Israel Pengaruhi Harga Minyak Dunia
“Minyak mendapat dukungan karena Tiongkok mengambil langkah-langkah untuk mencoba mengejutkan dan membuat perekonomian mereka terkepung agar tidak terpuruk,” jelas analis Price Futures Group Phil Flynn, Kamis (25/01/2024). jk-01/dsy
Editor : Desy Ayu