SURABAYAPAGI.com, Magetan - Pabrik Gula (PG) Redjosarie di Kelurahan Rejosari, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, menargetkan menggiling 3,1 juta kuintal tebu pada musim giling 2024, sehingga kebutuhan komoditas gula bagi masyarakat di Magetan dan sekitarnya dapat terpenuhi.
Pasalnya, PG Redjosarie dapat memberikan kontribusi yang lebih baik kepada masyarakat sekitar. Sebagai salah satu unit usaha dari BUMN PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI, PG Redjosarie Magetan terus berupaya mendukung swasembada gula pemerintah.
Baca juga: Harga Sapi di Kota Madiun Tembus Puluhan Juta per Ekor Jelang Idul Adha
”Kami yakin mampu menggiling 3,1 juta kuintal tebu dengan kualitas rendemen mencapai 7,23 persen. Kami merencanakan pada 27 Mei akan uji coba pabrik. Jika lancar, akan mulai giling pada 8 Juni,” ujar General Manager PG Redjosarie Danang Krisworo, Selasa (28/05/2024).
Danang berharap giling tahun ini lebih lancar dan lebih baik daripada tahun sebelumnya. Selain itu, hasil giling juga dapat memberikan manfaat bagi seluruh pemangku kepentingan, baik perusahaan, karyawan, petani tebu, maupun masyarakat. Serta, dapat mencapai target itu sehingga dapat mendorong pergerakan ekonomi masyarakat di Kabupaten Magetan.
Baca juga: Taman Wisata Genilangit Suguhkan Spot Instagramable ala Sakura Jepang di Magetan
Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPC APTRI) PG Redjosarie Suyono berharap yang sama agar musim giling tahun ini lebih baik daripada sebelumnya. Terutama terkait dengan harga gula dan performa pabrik.
”Jika harga gula dan performa pabrik membaik, kesejahteraan petani juga akan meningkat,” terang Suyono.
Baca juga: Omzet Pengrajin Besek Bambu Magetan Banjir Orderan Hingga Luar Daerah Jelang Idul Adha 2026
Uniknya, diketahui jika target giling tahun ini akan tercapai. Sebab, ada sekitar 300 petani tebu dengan luas lahan sekitar 4.000 hektare yang hasil panen akan digiling di PG Redjosarie.
Sedangkan, acara tradisi petik tebu manten dimulai dengan doa bersama di kebun tebu yang dihadiri petugas PG, tokoh masyarakat, petani tebu, dan undangan lain. Sepasang tebu ini merupakan simbol pengantin, kemudian ditebang bersamaan dengan beberapa tebu lainnya, lalu diarak menuju pabrik gula diiringi alunan Kebo Giro. mgt-01/dsy
Editor : Desy Ayu