Mengenang Almarhum H.M. Amin, Sosok Guru sederhana yang Penuh Kasih

surabayapagi.com
Almarhum Guru H. M. Amin Ibrahim bersama Cucunya juga Guru Atik S.Pd. SP/Hikmah

SURABAYAPAGI.com, Bima - Almarhum H. M. Amin Ibrahim, yang lahir di Kelurahan Penaraga Bima adalah seorang pensiunan kepala sekolah SD disuatu daerah terpencil, karena tugas sebagai PNS sehingga tinggal menetap di desa Jia Sape Kabupaten Bima (NTB) sampai akhir hayatnya, adalah seorang sosok ayah kami tercinta dari 8 bersaudara, Senin (27/01/2025).

Sosok sederhana yang telah membimbing dengan penuh kasih sayang, kami sebagai murid sekaligus sebagai ayah, kini telah mendahului meninggalkan kami semua. Banyak kenangan serta petuah yang bermakna yang selalu dikenang sepanjang masa.

Baca juga: Di Tengah Wacana Pengangkatan Staf SPPG Jadi PPPK, Guru SD di Madiun Hanya Digaji Rp250 Ribu Per Bulan

Dalam petuah yang selalu kami ingat, hiduplah sederhana sesuai kemampuan yang ada, tetaplah bertaqwa kepada Allah karena hidup hanya mampir sementara demi hidup yang kekal dan abadi dialam sana, urusan dunia lihatlah kebawah, urusan akherat tataplah keatas.

"Maja labo dahu di Ruma Talla" (red. Bahasa Bima artinya malu dan takutlah pada Allah), itulah petuah yang selalu disampaikan pada kami putranya.

Kematian adalah janji yang pasti. Setiap yang bernyawa pasti akan merasakannya, dan kita tidak pernah tahu kapan ia datang menjemput. Saat orang yang kita sayangi, terlebih seorang guru sekaligus ayah tercinta H. M. Amin Ibrahim yang selalu membimbing kita dengan hikmah dan kearifan, dipanggil terlebih dahulu oleh Sang Pencipta, wajar jika hati kita dirundung pilu.

Baca juga: Lewat Gelaran Karya Inovasi Guru, Tumbuhkan Kreativitas Para Pendidik di Magetan

Dalam sunyi yang menghampar di malam kelam, kita terhenyak dalam sepi yang mendalam. Kehilangan Ayahanda sekaligus guru kita tercinta, seorang pembimbing yang bijak dan sederhana, adalah peristiwa yang mengguncang jiwa.

Hati kita menangis, dan air mata tertahan tapi tetap tergenang. Namun, di balik kesedihan ini, kita menemukan makna yang mendalam, sebuah pelajaran tentang cinta, ketabahan, dan keikhlasan dari seorang guru yang sederhana penuh kasih sayang, dari Abah M. Amin Ibrahim.

Baca juga: Guru Kristen

Ayahku sekaligus guruku selamat jalan, semoga husnul khatimah. Sungguh besar pengorbananmu untuk menjadikan anak didikmu berakhlak mulia. Semua tak ada yang sia-sia, semoga Allah menerima segala amal baikmu. Jika tak ada ayah sebagai guru dalam hidupku, apa jadinya aku. Jika tanpa guruku, siapalah aku. Engkau guru kehidupan, namamu akan selalu harum dalam sanubariku. Walaupun kini jasadmu telah tiada tapi dirimu selalu dalam dada. Selamat jalan Ayah dan guruku, semoga jannah tempat kembalimu.

Beruntung, syukur alhamdulillah, saat ini semua anaknya sudah berhasil menata kehidupannya masing masing, ada yang pegawai negri, ada wiraswasta dan jurnalis. Hik

Editor : Desy Ayu

Ekonomi dan Bisnis
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru